Close Menu
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Togel Hari ini
    • Keluaran Lengkap (Racik)
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Togel Hari ini
    • Keluaran Lengkap (Racik)
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
Home - Olahraga - West Ham Terpuruk, Nuno Dipecat: Mengapa Klub Kaya Ini Justru Gagal Bangkit?

West Ham Terpuruk, Nuno Dipecat: Mengapa Klub Kaya Ini Justru Gagal Bangkit?

  • November 4, 2026

West Ham United memasuki musim 2026/2027 dengan ambisi besar untuk segera kembali ke Liga Inggris setelah terdegradasi secara menyakitkan, tetapi kenyataan justru memperlihatkan klub asal London itu semakin kehilangan arah di kompetisi Championship.

Skuad mahal, pemain berpengalaman, dan dukungan finansial ternyata tidak cukup menyelamatkan West Ham dari keterpurukan yang berujung pada pemecatan Nuno Espirito Santo, Selasa (3/11/2026), setelah serangkaian hasil mengecewakan sepanjang awal musim.

Kegagalan tersebut bukan sekadar persoalan pelatih yang tidak mampu memenangkan pertandingan, melainkan gambaran lebih luas tentang kesalahan pengelolaan klub, kebijakan transfer, serta hilangnya identitas permainan yang pernah membawa mereka meraih kejayaan di Eropa.

Berdasarkan analisis GOAL, kemerosotan West Ham memperlihatkan bagaimana sebuah klub dengan sumber daya besar justru kesulitan memenuhi ekspektasi ketika keputusan manajemen dan kebutuhan teknis tidak berjalan beriringan.

Krisis West Ham: Dari Juara Eropa hingga Terpuruk di Championship

Hanya tiga tahun setelah merayakan keberhasilan menjuarai Liga Konferensi Eropa 2022/2023, West Ham harus menghadapi kenyataan pahit bermain di kasta kedua sepak bola Inggris, sebuah kemunduran besar bagi klub yang sebelumnya cukup stabil.

Keberhasilan mengalahkan Fiorentina pada final di Praha ketika masih ditangani David Moyes seharusnya menjadi fondasi untuk membangun kekuatan jangka panjang, tetapi pergantian pelatih dan kebijakan perekrutan berikutnya justru menghasilkan ketidakstabilan.

West Ham terdegradasi pada akhir musim 2025/2026 setelah mengumpulkan 39 poin, jumlah yang sebenarnya cukup tinggi dibandingkan rata-rata 34,5 poin milik tim peringkat ke-17 sejak Liga Inggris menggunakan format 20 klub.

Kemenangan 3-0 atas Leeds United pada pertandingan terakhir, 24 Mei 2026, tetap tidak mampu menyelamatkan mereka karena Tottenham Hotspur berhasil mengalahkan Everton 1-0 dan memastikan bertahan di kasta tertinggi.

Hasil tersebut sekaligus mengakhiri perjalanan West Ham selama 14 tahun berturut-turut di Liga Inggris, meninggalkan persoalan besar mengenai bagaimana klub dengan investasi cukup tinggi bisa kehilangan kemampuan bersaing dalam waktu relatif singkat.

Meski mengalami degradasi, manajemen tetap mempertahankan Nuno karena melihat perbaikan menjelang akhir musim, terutama setelah tim mengumpulkan 25 poin dari 17 pertandingan terakhir dengan rata-rata 1,47 poin setiap laga.

Perhitungan tersebut menjadi landasan optimisme direksi karena rasio poin itu dinilai setara dengan performa tim papan atas, tetapi evaluasi tersebut ternyata tidak sepenuhnya menggambarkan persoalan mendasar yang masih menggerogoti permainan mereka.

Kepercayaan manajemen semakin besar karena Nuno mempunyai pengalaman membawa Wolverhampton Wanderers menjuarai Championship musim 2017/2018 dengan 99 poin, sebuah pencapaian yang dianggap relevan untuk misi membawa West Ham kembali promosi.

Namun, keberhasilan bersama Wolves terjadi dalam lingkungan tim, komposisi pemain, dan situasi kompetisi yang berbeda, sehingga pengalaman tersebut tidak otomatis menjamin pendekatan taktik serupa akan berhasil ketika diterapkan kepada skuad West Ham.

Kekeliruan terbesar klub tampaknya terletak pada keyakinan bahwa perubahan hasil menjelang akhir musim sebelumnya sudah cukup membuktikan kemajuan, padahal masalah keseimbangan permainan, konsistensi, dan efektivitas serangan belum benar-benar terselesaikan.

Transfer Mahal, tetapi West Ham Kehilangan Keseimbangan Skuad

Persoalan West Ham semakin rumit setelah sejumlah pemain penting memilih meninggalkan klub menyusul degradasi, termasuk Mateus Fernandes, Crysencio Summerville, dan El Hadji Malick Diouf yang sebelumnya mempunyai peran besar dalam permainan tim.

Kepergian mereka bukan hanya mengurangi kualitas individu, melainkan juga menghilangkan kreativitas, kecepatan, dan kemampuan membawa bola yang dibutuhkan untuk membongkar pertahanan lawan di kompetisi Championship yang dikenal mengandalkan intensitas tinggi.

Manajemen mencoba menutup kekurangan tersebut dengan mendatangkan lima pemain secara permanen, termasuk gelandang Celtic Arne Engels, winger Manor Solomon dari Tottenham Hotspur, serta bek berpengalaman Joel Veltman yang sebelumnya memperkuat Brighton.

West Ham juga merekrut Joel Piroe dari Leeds United dan Morato dari Nottingham Forest melalui kesepakatan pinjaman, tetapi tambahan tenaga tersebut belum menghasilkan keseimbangan permainan yang diperlukan untuk mendominasi persaingan di kasta kedua.

Investasi terbesar diberikan kepada Engels dengan nilai transfer sekitar 22 juta poundsterling, yang menjadi rekor pembelian pemain Championship, namun besarnya pengeluaran tersebut belum memberikan dampak sebanding terhadap konsistensi permainan tim.

Masalah perekrutan sebenarnya sudah muncul sejak Januari 2026 ketika Lucas Paqueta meninggalkan West Ham menuju Flamengo, sementara klub mendatangkan Taty Castellanos, Pablo Felipe, dan Adama Traore untuk memperkuat lini serang.

Castellanos dan Pablo kesulitan memberikan kontribusi sesuai harapan, sedangkan Traore belum menjadi solusi efektif dalam penyelesaian akhir, sehingga investasi besar tersebut tidak mampu menghindarkan klub dari ancaman degradasi pada musim sebelumnya.

Bek pinjaman Chelsea, Axel Disasi, sempat memperlihatkan perkembangan positif di lini pertahanan, tetapi kontribusinya tidak mampu menutupi kelemahan kolektif yang membuat West Ham terlalu sering kehilangan kendali ketika menghadapi tekanan lawan.

Di tengah perubahan skuad, keputusan Jarrod Bowen tetap bertahan sempat menjadi kabar menggembirakan karena kapten klub tersebut menolak ketertarikan sejumlah tim kasta tertinggi dan memperbarui komitmennya bersama The Hammers.

Namun, keberadaan Bowen justru memperlihatkan masalah lain karena West Ham terlalu bergantung kepada kemampuan individunya untuk menciptakan peluang, mencetak gol, dan membangkitkan permainan ketika strategi kolektif tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Ketergantungan tersebut membuat serangan mudah diprediksi karena lawan cukup membatasi ruang gerak Bowen untuk mengurangi ancaman, sementara pemain lain belum konsisten mengambil tanggung jawab dalam membangun serangan maupun menghasilkan peluang berbahaya.

Persoalan komposisi pemain juga terlihat di lini tengah, ketika West Ham mempunyai sejumlah gelandang dengan karakter menyerang tetapi kekurangan perlindungan memadai di depan pertahanan, sehingga transisi negatif sering menjadi titik lemah permainan.

Taktik Nuno Espirito Santo Membuat West Ham Kehilangan Identitas

Nuno sebenarnya memiliki reputasi sebagai pelatih yang mampu membangun organisasi pertahanan solid dan mengandalkan serangan balik efektif, seperti diperlihatkannya ketika menangani Wolves serta membawa Nottingham Forest bersaing di papan atas Liga Inggris.

Sebelum bergabung dengan West Ham pada 27 September 2025, pelatih asal Portugal tersebut berhasil membawa Forest finis ketujuh musim 2024/2025, pencapaian terbaik klub itu sejak musim 1994/1995 yang mengangkat kembali reputasinya.

Namun, pendekatan yang berhasil ketika menghadapi lawan lebih kuat tidak selalu cocok untuk tim yang dituntut mendominasi pertandingan, terutama ketika West Ham berstatus sebagai salah satu kandidat utama juara Championship.

Alih-alih mengendalikan permainan sejak awal, West Ham berulang kali memperlihatkan pendekatan pasif dengan membiarkan lawan mengambil inisiatif, sehingga keunggulan kualitas pemain tidak selalu tercermin melalui dominasi penguasaan bola maupun peluang.

Permasalahan itu langsung terlihat pada awal musim ketika West Ham menyia-nyiakan keunggulan dua gol saat bermain imbang melawan Burnley, kemudian kalah dari Charlton Athletic dan hanya mampu berbagi angka menghadapi Watford.

Tekanan terhadap Nuno sempat mereda ketika West Ham meraih empat kemenangan beruntun atas Wolves, Derby County, Bolton Wanderers, dan Wrexham, termasuk kemenangan telak 6-0 yang membawa mereka menuju puncak klasemen.

Kemenangan atas Wrexham bahkan memperlihatkan kemampuan menyerang yang sebelumnya jarang muncul, tetapi momentum tersebut tidak bertahan lama setelah West Ham tersingkir dari Carabao Cup akibat kekalahan 2-3 melawan Fulham.

Hasil imbang menghadapi Millwall dan Queens Park Rangers kembali memperlihatkan ketidakstabilan permainan, terutama ketika West Ham kesulitan menghasilkan ancaman sejak awal meskipun memiliki pemain dengan kualitas individu lebih baik.

Saat menghadapi QPR, Bowen baru mencetak gol penyeimbang pada menit ke-70 setelah tim kesulitan membangun serangan, sedangkan kesempatan memenangkan pertandingan melalui penalti pada masa tambahan waktu gagal dimaksimalkan sang kapten.

Dua kemenangan tandang atas Lincoln City dan Swansea City sempat memberi harapan baru, termasuk kemenangan 6-0 atas Lincoln, tetapi persoalan lama kembali muncul begitu West Ham menghadapi lawan dengan organisasi permainan lebih disiplin.

Kekalahan 2-3 dari Southampton pada 24 Oktober menjadi bukti nyata karena West Ham sudah tertinggal dua gol dalam sebelas menit pertama, sebelum upaya mengejar ketertinggalan gagal menghindarkan mereka dari kekalahan kandang.

James Ward-Prowse, mantan pemain West Ham yang memperkuat Southampton, turut memperlihatkan bagaimana lini tengah tuan rumah kesulitan mengendalikan permainan, sementara pertahanan berkali-kali kehilangan konsentrasi ketika lawan meningkatkan intensitas serangan.

Situasi itu semakin mengkhawatirkan karena West Ham tercatat kebobolan lebih dahulu dalam sembilan dari 15 pertandingan di seluruh kompetisi, sebuah pola yang memperlihatkan ketidaksiapan tim dalam menghadapi tekanan sejak menit awal.

Mantan gelandang Tottenham dan Wolves, Jamie O’Hara, menilai pendekatan bertahan Nuno tidak sejalan dengan kualitas skuad West Ham karena tim seharusnya mampu mendominasi lawan, bukan membiarkan pertandingan berjalan sesuai keinginan mereka.

Kritik tersebut mencerminkan persoalan mendasar yang lebih besar daripada sekadar hasil pertandingan, yakni ketidakmampuan pelatih membangun karakter permainan yang sesuai dengan kualitas pemain dan tuntutan klub untuk segera kembali promosi.

Kekalahan dari West Brom Jadi Puncak Krisis West Ham

Pertandingan melawan West Bromwich Albion pada 31 Oktober 2026 akhirnya menjadi titik terakhir perjalanan Nuno setelah West Ham kembali kehilangan kendali permainan dan menelan kekalahan 1-3 di hadapan pendukung sendiri.

Felix Horn Myhre membuka keunggulan West Brom pada menit ke-20 melalui serangan yang mengekspos kelemahan pertahanan tuan rumah, sebelum Bowen menyamakan kedudukan dan memberi harapan bahwa West Ham masih mampu membalikkan keadaan.

Harapan tersebut tidak bertahan karena Jimmy-Jay Morgan kembali membawa West Brom unggul pada menit ke-48, sementara Callum Styles menambah gol berikutnya ketika organisasi pertahanan tuan rumah semakin kehilangan keseimbangan.

Kesalahan individual memang berkontribusi terhadap gol lawan, tetapi persoalan lebih besar terlihat dari mudahnya West Ham ditembus ketika kehilangan penguasaan bola, sehingga lini belakang berulang kali menghadapi situasi berbahaya.

Kekalahan itu membuat West Ham hanya mengumpulkan enam kemenangan dari 13 pertandingan Championship dan menempati posisi kedelapan, tertinggal empat poin dari zona promosi otomatis serta enam poin dari pemuncak klasemen Middlesbrough.

Lebih mengkhawatirkan lagi, West Ham gagal memenangkan empat pertandingan kandang terakhir dengan tiga kekalahan, sebuah catatan yang membuat London Stadium kehilangan perannya sebagai tempat yang seharusnya memberikan keuntungan bagi tuan rumah.

Nuno mengakui persoalan pertahanan setelah pertandingan, dengan menegaskan bahwa tim harus segera memperbaiki permainan karena kebobolan enam gol dalam dua pertandingan kandang merupakan sesuatu yang tidak dapat diterima.

Kritik suporter yang sebelumnya terdengar ketika menghadapi Watford semakin keras, sementara ketidakpuasan terhadap permainan dan hasil pertandingan membuat posisi Nuno semakin sulit dipertahankan meskipun manajemen pernah memberikan dukungan penuh.

Pada 3 November 2026, West Ham akhirnya mengumumkan pemecatan Nuno bersama asisten pelatih Rui Pedro Silva dan pelatih kiper Rui Barbosa setelah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perjalanan tim pada awal musim Championship.

Keputusan tersebut memperlihatkan perubahan sikap manajemen yang cukup drastis, sebab hanya beberapa bulan sebelumnya klub secara terbuka menyatakan keyakinan bahwa Nuno merupakan sosok tepat untuk membawa mereka kembali ke Liga Inggris.

Perubahan kebijakan tersebut sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas evaluasi internal klub, terutama karena berbagai persoalan taktik dan komposisi pemain sebenarnya telah terlihat jauh sebelum hasil buruk akhirnya memaksa pergantian pelatih.

Scott Parker Datang, Mampukah West Ham Menghindari Kegagalan Berikutnya?

West Ham kini memasuki babak baru setelah menunjuk Scott Parker sebagai pelatih kepala pada Rabu (4/11/2026), dengan kontrak berdurasi dua setengah tahun untuk menghidupkan kembali peluang promosi ke Liga Inggris.

Penunjukan Parker membawa harapan tersendiri karena mantan kapten West Ham tersebut mempunyai pengalaman membawa Fulham, Bournemouth, dan Burnley mendapatkan promosi dari Championship, sesuatu yang sangat dibutuhkan klub dalam situasi sekarang.

Parker juga bukan sosok asing bagi pendukung The Hammers karena pernah memperkuat klub pada periode 2007 hingga 2011, sehingga kedekatan emosionalnya diharapkan membantu memperbaiki hubungan ruang ganti dan suporter.

Namun, pengalaman promosi saja tidak akan cukup apabila West Ham gagal membenahi persoalan yang lebih mendasar, terutama keseimbangan lini tengah, kualitas pertahanan, efektivitas perekrutan, dan ketergantungan serangan kepada Jarrod Bowen.

Mantan pelatih West Ham, Harry Redknapp, bahkan menilai Parker menghadapi pekerjaan sulit karena kualitas skuad saat ini dianggap jauh dari standar beberapa generasi sebelumnya, dengan Bowen menjadi salah satu pengecualian paling menonjol.

Penilaian Redknapp mungkin terdengar keras, tetapi kritik tersebut mengingatkan bahwa nilai transfer dan reputasi pemain tidak selalu mencerminkan kualitas kolektif, terutama ketika sebuah tim kehilangan karakter permainan yang jelas.

Tantangan pertama Parker adalah mengembalikan keseimbangan antara bertahan dan menyerang, sehingga West Ham tidak lagi terlalu mudah ditembus sekaligus mampu memanfaatkan kualitas pemain untuk menekan lawan sejak awal pertandingan.

Ia juga harus menentukan susunan pemain terbaik secara konsisten, meningkatkan kontribusi gelandang bertahan, serta menciptakan alternatif serangan agar lawan tidak selalu menjadikan Bowen sebagai satu-satunya ancaman utama yang perlu diantisipasi.

Di sisi manajemen, pergantian pelatih seharusnya menjadi momentum mengevaluasi sistem perekrutan dan pengambilan keputusan karena West Ham telah mengalami beberapa perubahan kepemimpinan teknis sejak berakhirnya era David Moyes pada 2024.

Julen Lopetegui hanya bertahan sekitar enam bulan, Graham Potter kemudian kehilangan pekerjaannya setelah delapan bulan, sedangkan Nuno gagal mempertahankan kestabilan klub meski memperoleh kesempatan melanjutkan tugas setelah degradasi.

Rangkaian pergantian tersebut memperlihatkan bahwa persoalan West Ham tidak seluruhnya dapat dibebankan kepada pelatih, melainkan berkaitan dengan ketidakjelasan arah pembangunan tim dan belum konsistennya kebijakan sepak bola klub.

Parker juga menghadapi tekanan waktu karena Championship merupakan kompetisi panjang dengan persaingan ketat, sehingga setiap poin yang hilang bisa memperbesar jarak menuju dua posisi teratas yang memberikan tiket promosi otomatis.

Pertandingan menghadapi Cardiff City dan Blackburn Rovers menjadi bagian penting dari agenda terdekat West Ham, sebelum klub menjalani rangkaian laga berikutnya untuk memperbaiki posisi menjelang periode padat akhir tahun.

Bagi suporter, perubahan pelatih tentu menghadirkan harapan, tetapi pengalaman beberapa musim terakhir menunjukkan bahwa optimisme tidak boleh kembali dibangun hanya berdasarkan reputasi seseorang tanpa perubahan nyata dalam kualitas permainan.

West Ham masih mempunyai kesempatan memperbaiki musim karena jarak menuju zona promosi otomatis belum terlalu jauh, tetapi kebangkitan membutuhkan konsistensi hasil sekaligus kemampuan menghilangkan kesalahan yang berulang sejak musim sebelumnya.

Pada akhirnya, pemecatan Nuno bukan sekadar akhir perjalanan seorang pelatih di London Stadium, melainkan peringatan bahwa klub sebesar West Ham membutuhkan fondasi manajemen yang kuat sebelum dapat kembali bersaing secara berkelanjutan.

Jika Parker berhasil memperbaiki organisasi permainan dan memulihkan kepercayaan pemain, peluang promosi masih terbuka, tetapi kegagalan membenahi akar persoalan hanya akan membuat West Ham kembali mengulang siklus krisis yang sama.

Nottingham Forest Punya Banyak Peluang, tetapi Mengapa Justru Terancam Degradasi?

04 Nov 2026

Declan Rice Jadi Senjata Rahasia Arsenal, Perubahan Taktik Arteta Bikin Liverpool Tak Berdaya

04 Nov 2026

‘Red Cartel’ Liga Inggris Disorot, Benarkah Arsenal, Liverpool, dan MU Bersekongkol Menyingkirkan Manchester City?

04 Nov 2026
X (Twitter)
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.