Nottingham Forest menghadapi situasi mengkhawatirkan di Liga Inggris musim 2026/2027 setelah statistik memperlihatkan persoalan yang sulit dijelaskan, yakni kemampuan menciptakan peluang cukup banyak tetapi gagal mengubahnya menjadi gol dan kemenangan.
Dari sembilan pertandingan, Nottingham Forest hanya mampu mencetak enam gol meskipun memiliki nilai expected goals (xG) mencapai 14,34, sebuah ketimpangan besar yang memperlihatkan betapa buruknya efektivitas penyelesaian akhir para pemainnya.
Lebih mengherankan lagi, Nottingham Forest sebenarnya mencatatkan nilai xG lebih tinggi dibandingkan lawan dalam tujuh dari sembilan pertandingan, tetapi keunggulan statistik tersebut hanya menghasilkan satu kemenangan dan enam poin.
Kondisi tersebut membuat Nottingham Forest terjebak di zona degradasi, sementara pelatih Oliver Glasner menghadapi pekerjaan besar untuk memperbaiki ketajaman serangan sebelum persoalan yang terlihat sejak awal musim berkembang menjadi krisis berkepanjangan.
Persoalan ini bukan sekadar kegagalan seorang penyerang mencetak gol karena terdapat pertanyaan lebih mendasar mengenai kualitas peluang, keputusan pemain di depan gawang, hingga kemampuan tim mempertahankan konsentrasi dalam situasi menentukan.
Apabila ketidakefisienan tersebut terus berlanjut, Nottingham Forest berisiko kehilangan kesempatan mengamankan poin dari pertandingan yang sebenarnya dapat mereka menangkan, sehingga ancaman degradasi menjadi semakin nyata meskipun performa menyerang tidak sepenuhnya buruk.
Nottingham Forest Krisis Gol, Statistik Ungkap Masalah Serius
Angka paling mencolok dari penampilan Nottingham Forest adalah selisih antara jumlah gol aktual dan peluang yang secara statistik diperkirakan menghasilkan gol, karena kedua indikator tersebut menunjukkan perbedaan yang sangat besar.
Berdasarkan analisis Opta Analyst, Nottingham Forest mencatatkan selisih negatif 8,34 gol terhadap xG, menjadikannya tim dengan ketidakefisienan penyelesaian akhir paling buruk di Liga Inggris musim ini.
Angka tersebut bahkan menjadi catatan ketidakefisienan terbesar setelah sembilan pertandingan Liga Inggris sejak setidaknya musim 2021/2022, ketika Opta mulai menggunakan model xG yang telah diperbarui untuk mengevaluasi kualitas peluang.
Expected goals merupakan indikator statistik yang mengukur kemungkinan sebuah tembakan menghasilkan gol berdasarkan sejumlah faktor, termasuk jarak tembakan, sudut, jenis peluang, dan situasi ketika kesempatan tersebut tercipta.
Dengan nilai xG mencapai 14,34, Nottingham Forest secara statistik menghasilkan kumpulan peluang yang memiliki ekspektasi sekitar 14 gol, tetapi kenyataannya hanya mampu memasukkan enam bola ke gawang lawan.
Perbedaan tersebut tidak berarti Nottingham Forest seharusnya pasti mencetak 14 gol karena xG merupakan ukuran probabilitas, bukan jaminan hasil, namun kesenjangan sebesar itu menjadi sinyal kuat adanya persoalan penyelesaian akhir.
Dalam jangka pendek, sebuah tim dapat mengalami ketidakberuntungan ketika tembakan membentur tiang atau penjaga gawang lawan tampil luar biasa, tetapi kegagalan berulang biasanya membutuhkan evaluasi lebih mendalam terhadap eksekusi serangan.
Nottingham Forest kini menghadapi persoalan tersebut karena kegagalan mencetak gol tidak hanya memengaruhi statistik individu, melainkan juga menghilangkan peluang mendapatkan poin yang sangat penting dalam persaingan menghindari degradasi.
Total setelah sembilan pertandingan

Sumber: Opta Analyst, 2 November 2026
Kalah dari Brentford Meski Unggul Jumlah Tembakan
Gambaran paling jelas mengenai persoalan Nottingham Forest terlihat ketika mereka dikalahkan Brentford dengan skor 0-2 di Gtech Community Stadium, Sabtu (31/10/2026), dalam pertandingan yang justru memperlihatkan keunggulan aktivitas menyerang tim tamu.
Nottingham Forest melepaskan 15 tembakan sepanjang pertandingan, lebih dari dua kali lipat dibandingkan Brentford yang hanya mencatatkan tujuh percobaan, tetapi perbedaan jumlah peluang tersebut tidak tercermin dalam hasil akhir.
Dominasi Nottingham Forest juga terlihat dari sembilan tembakan yang dilepaskan dari dalam kotak penalti, sedangkan Brentford hanya menghasilkan tiga percobaan dari area yang sama selama pertandingan berlangsung.
Dari sisi kualitas peluang, Nottingham Forest memiliki nilai xG sebesar 0,86 dibandingkan Brentford yang mencatatkan 0,46, sehingga tim asuhan Glasner kembali mengungguli lawan berdasarkan indikator peluang mencetak gol.
Namun, angka tersebut memperlihatkan bahwa keunggulan jumlah tembakan tidak selalu menghasilkan peluang berkualitas tinggi karena rata-rata setiap percobaan Nottingham Forest hanya memiliki probabilitas gol yang relatif kecil.
Situasi bertambah buruk setelah Nikola Milenković melakukan gol bunuh diri pada menit ke-30, sebelum Igor Thiago menggandakan keunggulan Brentford pada menit ke-76 melalui penyelesaian akhir yang memanfaatkan umpan Jaidon Anthony.
Nottingham Forest sebenarnya menguasai sekitar 58 persen penguasaan bola, tetapi hanya menghasilkan satu tembakan tepat sasaran dari 15 percobaan, sehingga tekanan yang dibangun sepanjang pertandingan tidak memberikan hasil berarti.
Rangkaian statistik tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Nottingham Forest bukan hanya kegagalan mencetak gol, melainkan juga rendahnya akurasi tembakan ketika pemain telah mendapatkan kesempatan menyerang dari posisi yang menjanjikan.
Morgan Gibbs-White dan Liam Delap Jadi Sorotan
Morgan Gibbs-White merupakan salah satu pemain yang mendapat perhatian karena kontribusi golnya belum sebanding dengan jumlah peluang yang diperoleh, meskipun gelandang serang tersebut memiliki peran penting dalam membangun permainan Nottingham Forest.
Gibbs-White baru mencetak satu gol dengan nilai xG individu sekitar 2,55, sehingga terdapat selisih negatif 1,55 gol yang memperlihatkan bahwa penyelesaian akhirnya belum mencapai angka ekspektasi berdasarkan kualitas peluang.
Persoalan serupa dialami Liam Delap yang juga baru mengoleksi satu gol meskipun memiliki xG sekitar 2,41, sehingga kontribusi aktual penyerang tersebut tertinggal 1,41 gol dibandingkan nilai peluang yang diperolehnya.
Jika digabungkan, Gibbs-White dan Delap memiliki selisih negatif hampir tiga gol terhadap xG masing-masing, sebuah angka yang cukup besar mengingat Nottingham Forest baru mengumpulkan enam gol sepanjang sembilan pertandingan.
Meski demikian, menyalahkan kedua pemain sepenuhnya bukan pendekatan yang tepat karena efektivitas penyelesaian akhir juga dipengaruhi kualitas umpan, posisi tubuh, tekanan pemain bertahan, dan waktu pengambilan keputusan.
Gibbs-White memiliki tanggung jawab menciptakan serangan sekaligus membantu penyelesaian akhir, sehingga ketidaktepatan keputusan pada momen terakhir dapat menghilangkan peluang yang sebelumnya dibangun melalui pergerakan dan distribusi bola.
Sementara itu, Delap menghadapi tuntutan sebagai penyerang tengah yang harus mampu mengubah peluang menjadi gol, terutama ketika tim membutuhkan pemain dengan ketenangan dan kemampuan menentukan arah tembakan secara cepat.
Tekanan terhadap penyerang dapat meningkat ketika tim terus mengalami hasil buruk karena setiap kesempatan yang gagal dimanfaatkan berpotensi memperbesar keraguan, sehingga pemain semakin sulit mengambil keputusan secara alami.
Apakah Taktik Oliver Glasner Ikut Menjadi Masalah?
Oliver Glasner menghadapi tantangan tersendiri karena Nottingham Forest sebenarnya tidak sepenuhnya kesulitan menciptakan peluang, tetapi sistem permainan yang menghasilkan kesempatan tersebut belum mampu memberikan keuntungan maksimal dalam bentuk gol.
Dalam pertandingan melawan Brentford, Nottingham Forest menggunakan pendekatan tiga bek dengan dukungan pemain sayap, sementara Gibbs-White bergerak di belakang Delap untuk membantu menghubungkan lini tengah dan serangan.
Pendekatan tersebut memungkinkan Nottingham Forest menempatkan lebih banyak pemain di area menyerang, tetapi peningkatan jumlah pemain di depan tidak selalu menghasilkan ruang tembak yang cukup bersih untuk mengancam gawang lawan.
Ketika serangan berakhir melalui tembakan yang terburu-buru atau dilakukan dari sudut sempit, probabilitas mencetak gol menjadi lebih kecil meskipun tim mampu mempertahankan penguasaan bola dalam waktu cukup lama.
Karena itu, Glasner perlu mengevaluasi bukan hanya jumlah peluang yang diciptakan, melainkan juga bagaimana pemain bergerak sebelum menerima bola dan seberapa besar tekanan yang mereka hadapi ketika melakukan penyelesaian.
Penggunaan umpan terobosan, kombinasi pendek, serta pergerakan tanpa bola dapat menjadi alternatif untuk menciptakan kesempatan yang lebih terbuka, sehingga penyerang tidak selalu harus menyelesaikan peluang dalam posisi sulit.
Namun, perubahan taktik juga harus mempertimbangkan keseimbangan pertahanan karena Nottingham Forest tidak dapat terus meningkatkan jumlah pemain menyerang tanpa memperhitungkan risiko kehilangan bola dan serangan balik lawan.
Kekalahan dari Brentford memperlihatkan persoalan tersebut karena Nottingham Forest mampu menghasilkan lebih banyak peluang, tetapi tetap kebobolan dua gol dan gagal membalas meskipun terus berusaha meningkatkan tekanan.
Ancaman Degradasi Nottingham Forest Semakin Nyata
Setelah sembilan pertandingan, Nottingham Forest baru mengumpulkan enam poin dan berada di posisi ke-19 klasemen Liga Inggris, hanya unggul satu poin atas Sunderland yang menempati dasar klasemen.
Situasi tersebut membuat Nottingham Forest menghadapi tekanan besar karena Crystal Palace berada di posisi ke-18 dengan tujuh poin, sedangkan Manchester United menempati peringkat ke-17 dengan jumlah poin sama.
Persaingan di papan bawah masih terbuka karena selisih poin antartim relatif kecil, tetapi Nottingham Forest harus segera menemukan solusi agar keunggulan statistik tidak terus berakhir tanpa kemenangan.
Masalah utama yang perlu diselesaikan adalah bagaimana mengubah dominasi peluang menjadi gol, sebab satu penyelesaian akhir yang tepat dapat menentukan perbedaan antara kekalahan, hasil imbang, dan kemenangan.
Enam gol dari sembilan pertandingan berarti Nottingham Forest rata-rata hanya mencetak sekitar 0,67 gol setiap laga, sebuah produktivitas yang menyulitkan tim bersaing ketika pertahanannya tidak selalu mampu menjaga gawang.
Sebagai perbandingan matematis, nilai xG Nottingham Forest mencapai rata-rata 1,59 per pertandingan, menunjukkan bahwa peluang yang tercipta sebenarnya lebih menjanjikan dibandingkan hasil akhir yang diperoleh selama periode tersebut.
Namun, selisih antara xG dan gol tidak boleh dianggap sebagai bukti bahwa Nottingham Forest pasti akan membaik karena efektivitas penyelesaian akhir tetap bergantung pada kemampuan pemain melakukan eksekusi secara konsisten.
Apabila masalah tersebut berasal dari keterampilan dan pengambilan keputusan yang buruk, perbaikan membutuhkan latihan serta evaluasi teknis, bukan sekadar berharap hasil berikutnya menjadi lebih baik dengan sendirinya.
Krisis Nottingham Forest Belum Terlambat Diperbaiki
Masih banyak pertandingan tersisa bagi Nottingham Forest untuk memperbaiki posisi klasemen, tetapi sembilan pekan pertama sudah memperlihatkan bahwa keberhasilan menciptakan peluang tidak cukup untuk menjamin keselamatan sebuah tim.
Glasner perlu membangun kembali kepercayaan diri para pemain sekaligus memperbaiki efektivitas serangan, terutama dalam memilih momen menembak, menemukan rekan dengan posisi lebih baik, dan mempertahankan ketenangan ketika peluang tercipta.
Latihan penyelesaian akhir menjadi salah satu kebutuhan, tetapi peningkatan kualitas peluang juga penting karena tembakan dari posisi terbuka umumnya memberikan probabilitas gol lebih tinggi dibandingkan percobaan dalam tekanan pemain bertahan.
Nottingham Forest juga perlu menghindari ketergantungan berlebihan kepada Gibbs-White dan Delap, sehingga kontribusi gol dapat datang dari lebih banyak pemain serta membuat pertahanan lawan kesulitan menentukan prioritas penjagaan.
Perbaikan tersebut tidak harus dilakukan melalui perubahan besar dalam susunan pemain karena penyesuaian posisi, peningkatan komunikasi, dan pemilihan keputusan yang lebih baik dapat membantu meningkatkan efektivitas permainan secara bertahap.
Pada akhirnya, Nottingham Forest menghadapi ironi besar dalam sepak bola modern karena kemampuan menghasilkan peluang yang secara statistik cukup menjanjikan justru belum mampu menyelamatkan tim dari ancaman degradasi.
Jika ketajaman lini depan tidak segera meningkat, keunggulan xG dalam banyak pertandingan hanya akan menjadi angka tanpa makna, sementara poin yang terus terbuang dapat menentukan masa depan Nottingham Forest di Liga Inggris.


