Close Menu
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Togel Hari ini
    • Keluaran Lengkap (Racik)
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Togel Hari ini
    • Keluaran Lengkap (Racik)
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
Home - Olahraga - Kisah Lionel Messi: Pergi dari Argentina Sejak Kecil, Pulang sebagai Legenda dan Berpisah dengan Air Mata

Kisah Lionel Messi: Pergi dari Argentina Sejak Kecil, Pulang sebagai Legenda dan Berpisah dengan Air Mata

  • Oktober 16, 2026

Kisah Lionel Messi bersama timnas Argentina akhirnya mencapai babak terakhir setelah lebih dari dua dekade perjalanan yang dipenuhi kegagalan, kritik, pengorbanan, dan kejayaan. Pemain berusia 39 tahun itu menutup karier internasionalnya dengan perpisahan emosional di hadapan puluhan ribu pendukung.

Tidak banyak pesepak bola yang memiliki hubungan begitu rumit sekaligus mendalam dengan negaranya seperti Messi, seorang anak Rosario yang meninggalkan tanah kelahirannya demi mengejar mimpi. Kepergiannya menuju Spanyol justru menjadi awal perjalanan panjang untuk membuktikan kecintaannya kepada Argentina.

Kisah Lionel Messi bukan semata tentang seorang pemain yang meraih berbagai penghargaan individu dan mengangkat trofi Piala Dunia, melainkan juga perjalanan seorang perantau. Di tengah kesuksesan global, identitas Argentina tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan dan kariernya.

Pemandangan setelah final Piala Dunia 2026 memperlihatkan sisi manusiawi Lionel Messi yang jarang terlihat ketika dirinya sedang menguasai pertandingan. Di tengah perayaan Spanyol, kapten Argentina itu berdiri memandangi tribune yang dipenuhi pendukung negaranya dengan kesedihan mendalam.

Argentina kehilangan gelar juara dunia setelah dikalahkan Spanyol dengan skor 0-1 melalui gol Ferran Torres pada menit ke-106 dalam pertandingan final, 19 Juli 2026. Kekalahan tersebut terasa semakin menyakitkan karena Messi menyadari kesempatan memperkuat negaranya di panggung Piala Dunia telah berakhir.

Dalam analisis CNN, menggambarkan bagaimana Messi berusaha menyimpan setiap pemandangan dan suara dari tribune Argentina. Sang kapten memahami bahwa kenangan tersebut akan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidupnya setelah meninggalkan tim nasional.

Tangisan Messi ketika itu tidak hanya mencerminkan kekecewaan karena gagal mempertahankan gelar juara dunia yang direbut Argentina pada 2022. Kesedihannya juga menggambarkan akhir dari hubungan panjang dengan seragam biru-putih yang sudah menjadi bagian identitasnya sejak remaja.

Kisah Lionel Messi memiliki dimensi menarik karena sebagian besar kehidupan profesionalnya justru berlangsung jauh dari negara tempat dirinya dilahirkan. Ia meninggalkan Rosario pada usia 13 tahun untuk mencari kesempatan mengembangkan bakat sepak bola sekaligus memperoleh perawatan medis.

Sejak kecil, Messi menghadapi masalah kekurangan hormon pertumbuhan yang membutuhkan pengobatan dengan biaya besar dan menjadi beban ekonomi bagi keluarganya. Barcelona kemudian menawarkan kesempatan bergabung dengan akademi klub sekaligus membantu pembiayaan perawatan yang dibutuhkan pemain muda tersebut.

Keputusan pindah ke Spanyol akhirnya mengubah kehidupan keluarga Messi sekaligus membuka jalan menuju salah satu karier paling sukses dalam sejarah sepak bola. Namun, kesempatan mendapatkan kehidupan lebih baik di Eropa tidak pernah membuatnya meninggalkan identitas sebagai orang Argentina.

Perjalanan tersebut memiliki kesamaan dengan pengalaman jutaan perantau yang meninggalkan negara asal karena keterbatasan kesempatan ekonomi maupun kebutuhan keluarga. Mereka dapat membangun kehidupan baru di tempat berbeda, tetapi hubungan emosional dengan tanah kelahiran sering kali tetap bertahan.

Dalam konteks Messi, ikatan tersebut terlihat melalui pilihannya ketika memiliki kesempatan membangun karier internasional bersama negara tempat dirinya tumbuh sebagai pesepak bola. Meski menghabiskan masa remaja dan sebagian besar karier profesional di Spanyol, keinginannya memperkuat Argentina tidak pernah berubah.

Memilih Argentina ketika Spanyol Menawarkan Jalan Berbeda

Kisah Lionel Messi memasuki fase penting ketika kemampuannya mulai menarik perhatian selama memperkuat kelompok usia muda Barcelona pada awal 2000-an. Perkembangannya membuka kemungkinan membela tim nasional Spanyol, negara yang memberikan kesempatan besar bagi masa depan sepak bolanya.

Dari sudut pandang karier, kesempatan tersebut menghadirkan pilihan yang menarik karena Spanyol memiliki sistem pembinaan pemain muda dan kompetisi yang sangat berkembang. Namun, Messi bersama keluarganya tetap mempertahankan keinginan agar suatu hari dirinya mengenakan seragam tim nasional Argentina.

Pilihan itu tidak bisa dilepaskan dari kedekatan keluarga Messi dengan Rosario, tempat ia menghabiskan masa kecil sebelum pindah ke Barcelona. Lingkungan keluarga menjadi salah satu faktor penting yang menjaga keterhubungannya dengan tanah kelahiran meskipun kehidupannya berlangsung di negara berbeda.

Bahkan sebelum dikenal sebagai salah satu pemain terbaik dunia, Messi sudah menyampaikan keinginannya untuk memperkuat Argentina dalam sebuah wawancara ketika masih remaja. Pernyataan tersebut kemudian mendapatkan perhatian Asosiasi Sepak Bola Argentina yang berusaha memastikan bakat muda Barcelona itu bergabung.

Argentina memberikan kesempatan kepada Messi untuk tampil bersama tim nasional kelompok usia U-20 dalam pertandingan persahabatan pada 29 Juni 2004. Momen tersebut membuka perjalanan internasional yang kelak membuat namanya tercatat sebagai salah satu figur terbesar dalam sejarah sepak bola negaranya.

Kesempatan membela tim nasional senior datang pada 17 Agustus 2005 ketika Argentina menghadapi Hungaria dalam pertandingan persahabatan yang berlangsung di Budapest. Namun, debut yang seharusnya menjadi pengalaman membanggakan justru berubah menjadi salah satu momen paling mengecewakan dalam karier awalnya.

Messi masuk sebagai pemain pengganti pada babak kedua, tetapi hanya bertahan beberapa puluh detik sebelum wasit mengeluarkan kartu merah setelah terjadi kontak dengan lawan. Peristiwa tersebut menjadi gambaran awal bahwa perjalanan bersama Argentina tidak selalu berjalan sesuai harapannya.

Berbeda dengan karier klub yang berkembang pesat di Barcelona, perjalanan Messi bersama tim nasional harus melewati periode panjang tanpa keberhasilan meraih gelar utama. Keadaan itu kemudian menciptakan tekanan besar karena publik Argentina berharap dirinya mampu mengembalikan kejayaan sepak bola nasional.

Bayang-Bayang Diego Maradona dan Tekanan sebagai Penerus Nomor 10

Perbandingan Lionel Messi dengan Diego Maradona menjadi bagian yang hampir tidak terhindarkan sejak ia mulai memperlihatkan kemampuan luar biasa bersama Barcelona. Keduanya memiliki kaki kiri dominan, kemampuan menggiring bola istimewa, dan hubungan kuat dengan nomor punggung 10.

Bagi masyarakat Argentina, Maradona bukan hanya pemain yang membantu negaranya menjuarai Piala Dunia 1986, tetapi juga simbol kebanggaan nasional. Keberhasilan tersebut menciptakan standar sangat tinggi bagi generasi berikutnya, terutama pemain yang dinilai mempunyai kemampuan serupa.

Kisah Lionel Messi semakin rumit karena kesuksesannya bersama Barcelona justru menghadirkan pertanyaan mengenai kemampuan mengulangi pencapaian tersebut ketika membela Argentina. Setiap trofi yang diraihnya bersama klub membuat harapan publik terhadap penampilannya di tim nasional semakin besar.

Ketika Barcelona terus mengoleksi berbagai gelar, Argentina justru mengalami kesulitan mengakhiri penantian panjang untuk kembali menjadi juara turnamen besar. Perbedaan tersebut membuat Messi sering menerima kritik, bahkan ketika kontribusi individunya tetap menjadi bagian penting permainan tim.

Sebagian penggemar mempertanyakan kecintaannya terhadap Argentina karena Messi tidak selalu menyanyikan lagu kebangsaan sebelum pertandingan dimulai. Tuduhan tersebut memperlihatkan bagaimana ekspresi patriotisme seorang atlet terkadang dinilai melalui tindakan simbolis, bukan berdasarkan komitmen dan pengorbanannya.

Padahal, keputusan Messi mempertahankan kewarganegaraan sepak bola Argentina ketika mempunyai kesempatan mengambil jalur berbeda sudah menunjukkan sikap yang konsisten. Ia tetap memilih menghadapi tekanan besar bersama negaranya daripada mencari kemungkinan perjalanan internasional yang lebih mudah.

Masalah yang dihadapi Messi juga mencerminkan kecenderungan masyarakat sepak bola menempatkan keberhasilan satu generasi sebagai ukuran mutlak bagi generasi berikutnya. Perbandingan semacam itu sering mengabaikan perbedaan karakter pemain, kekuatan tim, pelatih, hingga perubahan persaingan internasional.

Dalam perjalanan Messi, harapan menjadi penerus Maradona sempat berubah menjadi beban psikologis yang memengaruhi cara publik menilai setiap penampilannya. Bahkan pencapaian luar biasa bersama klub belum mampu menghapus tuntutan agar dirinya membawa Argentina kembali menjadi juara dunia.

Empat Final yang Hilang dan Keputusan Pensiun Pertama

Piala Dunia 2014 menjadi salah satu titik paling menentukan dalam kisah Lionel Messi ketika Argentina berhasil mencapai final untuk pertama kalinya sejak 1990. Bermain di Brasil, rival terbesar mereka di Amerika Selatan, kesempatan mengangkat trofi dunia terasa begitu dekat.

Namun, harapan tersebut berakhir ketika Argentina dikalahkan Jerman melalui gol Mario Götze pada babak tambahan waktu dalam pertandingan final di Stadion Maracana. Messi harus menerima kenyataan bahwa kesempatan memenuhi ekspektasi negaranya kembali terlepas meskipun sudah membawa tim melangkah sangat jauh.

Kekecewaan berlanjut ketika Argentina kembali mencapai final Copa America dalam dua edisi berikutnya tetapi selalu gagal mengatasi Chile. Kekalahan pada 2015 dan 2016 memperpanjang penantian Messi sekaligus meningkatkan kritik terhadap kemampuannya membawa tim nasional meraih gelar.

Pada 2016, tekanan tersebut mencapai puncaknya setelah Messi gagal mencetak gol dalam adu penalti final Copa America Centenario melawan Chile. Ia kemudian mengumumkan keputusan mengejutkan untuk meninggalkan tim nasional setelah mengalami empat kekalahan dalam pertandingan final turnamen besar.

Pernyataan itu mengguncang sepak bola Argentina karena pemain yang selama bertahun-tahun menjadi tumpuan harapan tiba-tiba merasa perjuangannya tidak menghasilkan keberhasilan. Messi mengakui telah berusaha berkali-kali, tetapi kegagalan yang terus berulang membuatnya mempertanyakan kemungkinan meraih gelar bersama negaranya.

Keputusan tersebut ternyata tidak berlangsung lama karena Messi akhirnya kembali memperkuat Argentina setelah mendapatkan dukungan luas dari masyarakat dan berbagai pihak. Kepulangannya menjadi salah satu titik penting dalam kisah Lionel Messi tentang kemampuan bangkit setelah menghadapi kegagalan.

Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya berakhir karena Argentina masih harus melewati perjalanan sulit untuk memastikan tempat di Piala Dunia 2018. Turnamen di Rusia kemudian menjadi kekecewaan berikutnya setelah mereka tersingkir pada babak 16 besar ketika menghadapi Prancis.

Kegagalan berulang membuat perjalanan internasional Messi terlihat sangat berbeda dengan kesuksesan luar biasa yang sudah dicapainya bersama Barcelona. Ia memiliki banyak gelar klub dan penghargaan individu, tetapi keberhasilan bersama tim nasional masih menjadi bagian yang belum terpenuhi.

Pada 2019, Messi menyampaikan pandangan penting mengenai kegagalan dan perjuangan dalam wawancara dengan Fox Sports yang kembali dibahas CNN. Ia ingin mengakhiri karier dengan memenangkan sesuatu bersama Argentina, tetapi juga menekankan pentingnya terus berusaha meskipun hasil akhirnya tidak sesuai harapan.

Pesan tersebut memperlihatkan perubahan cara Messi memandang tekanan yang selama bertahun-tahun mengikuti perjalanan internasionalnya bersama Argentina. Baginya, perjuangan bukan sekadar persoalan memenangkan pertandingan, melainkan keberanian untuk bangkit setiap kali mengalami kegagalan dan tetap mengejar mimpi.

Kisah Lionel Messi Berubah setelah Copa America 2021 dan Piala Dunia 2022

Perubahan besar akhirnya datang pada Copa America 2021 ketika Argentina mengalahkan Brasil dalam pertandingan final di Stadion Maracana. Gelar tersebut menjadi trofi turnamen mayor pertama Messi bersama tim nasional senior setelah penantian panjang yang berlangsung sejak debutnya pada 2005.

Keberhasilan itu tidak hanya mengakhiri tekanan pribadi yang selama bertahun-tahun membayangi Messi, tetapi juga mengubah hubungan emosionalnya dengan pendukung Argentina. Pemain yang sebelumnya sering menjadi sasaran kritik kini mendapatkan pengakuan sebagai sosok penting dalam kebangkitan sepak bola nasional.

Kisah Lionel Messi mencapai puncaknya pada Piala Dunia 2022 ketika Argentina berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Prancis melalui adu penalti. Pertandingan final berlangsung dramatis dengan skor 3-3 hingga babak tambahan waktu sebelum Argentina memastikan kemenangan 4-2 melalui adu penalti.

Trofi tersebut memberikan pencapaian yang sebelumnya dianggap sebagai satu-satunya kekurangan besar dalam perjalanan internasional Messi selama hampir dua dekade. Keberhasilannya juga mengakhiri penantian Argentina sejak 1986 sekaligus memperkuat posisinya dalam perdebatan mengenai pemain terbaik sepanjang sejarah.

Bagi Messi, kemenangan di Qatar memiliki makna yang melampaui tambahan satu trofi dalam daftar panjang prestasi sepanjang kariernya. Gelar tersebut menjadi pembuktian bahwa kegagalan berulang tidak selalu menentukan akhir sebuah perjalanan ketika seorang atlet tetap mempertahankan komitmennya.

Kesuksesan itu berlanjut pada Copa America 2024 ketika Argentina kembali menjadi juara dan mempertahankan dominasinya di kawasan Amerika Selatan. CONMEBOL mencatat Messi mengakhiri perjalanan di kompetisi tersebut dengan dua gelar, masing-masing pada 2021 dan 2024.

Perubahan paling menarik terlihat pada cara publik Argentina memandang Messi setelah keberhasilan tersebut, terutama mereka yang sebelumnya terus membandingkannya dengan Maradona. Hubungan yang sempat dipenuhi tuntutan akhirnya berkembang menjadi penghargaan terhadap konsistensi dan pengorbanannya sepanjang karier internasional.

Kemenangan juga membuat Messi tampil dengan tekanan berbeda karena dirinya tidak lagi harus membuktikan bahwa kemampuan luar biasa tersebut dapat menghasilkan gelar bersama Argentina. Kebebasan psikologis ini menjadi salah satu faktor yang membantu mempertahankan pengaruhnya meskipun kondisi fisik terus berubah.

Piala Dunia 2026, Kekalahan dari Spanyol, dan Akhir Sebuah Era

Kisah Lionel Messi mendapatkan babak tambahan ketika dirinya kembali memperkuat Argentina pada Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Turnamen tersebut menjadi penampilan keenam Messi di Piala Dunia sekaligus kesempatan terakhirnya mengejar gelar juara dunia kedua.

Pada usia 39 tahun, Messi masih mampu memberikan kontribusi penting dalam perjalanan Argentina hingga kembali mencapai pertandingan final. FIFA mencatat dirinya mencetak delapan gol sepanjang turnamen dan memperpanjang rekor penampilan menjadi 34 pertandingan dalam sejarah Piala Dunia.

Argentina kembali harus menghadapi tekanan besar ketika berjumpa Spanyol pada pertandingan puncak yang berlangsung di New York New Jersey Stadium. Meski memiliki pengalaman sebagai juara bertahan, mereka kesulitan menghadapi permainan Spanyol yang tampil dominan sepanjang pertandingan.

Ferran Torres akhirnya menjadi penentu kemenangan Spanyol lewat gol pada babak tambahan waktu yang membuat Argentina gagal mempertahankan gelar. Kekalahan tersebut membuat Messi menutup perjalanan Piala Dunia dengan dua gelar runner-up pada 2014 dan 2026 serta satu gelar juara pada 2022.

Menurut laporan FIFA, Messi mengumumkan pengunduran dirinya dari tim nasional pada 31 Agustus 2026 melalui unggahan media sosial yang emosional. Keputusan tersebut datang setelah kekalahan dari Spanyol dan kepergian ayahnya, Jorge Messi, yang meninggal pada 8 Agustus 2026.’

Duka kehilangan sang ayah memberikan dimensi pribadi yang sangat mendalam pada keputusan Messi mengakhiri perjalanan bersama Argentina setelah lebih dari dua dekade. Jorge merupakan sosok penting yang mendampingi perkembangan karier putranya sejak meninggalkan Rosario hingga menjadi bintang sepak bola dunia.

Meski sudah mengumumkan pensiun, Messi masih mendapatkan kesempatan mengenakan seragam Argentina untuk terakhir kalinya dalam pertandingan perpisahan melawan Benin. Pertandingan tersebut berlangsung pada 6 Oktober 2026 di Stadion Monumental, Buenos Aires, dengan puluhan ribu penonton memberikan penghormatan.

Argentina memenangkan pertandingan dengan skor 3-0 melalui gol Nicolás Otamendi, Nicolás Paz, dan Lionel Messi yang menutup penampilannya dengan satu gol. Dalam pertandingan tersebut, sang kapten juga memberikan dua assist sebagai persembahan terakhir bagi pendukung yang selama bertahun-tahun mengikuti perjalanannya.

Perpisahan tersebut terasa berbeda dengan kegagalan Argentina di berbagai final sebelumnya karena kali ini Messi meninggalkan tim nasional dengan pengakuan dan penghargaan. Tidak ada lagi tuntutan untuk membuktikan kemampuan melalui trofi, melainkan rasa terima kasih atas segala kontribusinya.

Dalam acara perpisahan, Messi menyampaikan bahwa meninggalkan tim nasional akan menjadi kehilangan besar dalam kehidupan pribadinya setelah sekian lama membela Argentina. Melalui laporan FIFA pada 7 Oktober 2026, ia mengungkapkan keinginan untuk terus bermain bersama negaranya seandainya waktu memungkinkan.

Pernyataan tersebut memperlihatkan betapa mendalamnya hubungan Messi dengan Argentina meskipun sebagian besar kehidupannya dihabiskan jauh dari tanah kelahiran. Bagi seorang pemain yang meninggalkan Rosario sejak kecil, mengenakan seragam nasional memiliki makna jauh lebih besar daripada sekadar kewajiban profesional.

Warisan Lionel Messi: Loyalitas, Migrasi, dan Identitas Kebangsaan

Kisah Lionel Messi bersama Argentina akhirnya menghasilkan catatan statistik yang sulit ditandingi oleh generasi berikutnya dalam waktu dekat. Berdasarkan data CONMEBOL, ia menutup karier internasionalnya dengan 208 penampilan, 126 gol, dan 68 assist selama lebih dari dua dekade.

Namun, warisan Messi tidak hanya dapat diukur melalui jumlah gol, assist, penampilan, maupun gelar yang berhasil dimenangkan bersama negaranya. Pengaruhnya juga terlihat pada kemampuan menyatukan masyarakat Argentina setelah menjalani perjalanan panjang yang sempat dipenuhi perdebatan.

Dalam sudut pandang sosial, kisah Lionel Messi memperlihatkan bahwa identitas kebangsaan tidak selalu ditentukan oleh tempat seseorang menghabiskan sebagian besar kehidupannya. Hubungan dengan keluarga, budaya, dan tanah kelahiran dapat tetap kuat meskipun seseorang membangun karier di negara berbeda.

Messi menghabiskan masa remaja dan sebagian besar karier profesional bersama Barcelona sebelum melanjutkan perjalanan ke Paris Saint-Germain dan Inter Miami. Akan tetapi, keberhasilan mendapatkan pengakuan internasional tidak pernah mengubah pilihannya mengenai negara yang ingin diwakilinya dalam sepak bola.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan bagaimana seorang perantau dapat memberikan kontribusi besar terhadap negara asal tanpa harus tinggal secara permanen di sana. Bagi Messi, sepak bola menjadi sarana mempertahankan hubungan emosional dengan Argentina ketika kehidupan profesionalnya berlangsung di luar negeri.

Tentu saja, pengalaman Messi tidak dapat sepenuhnya disamakan dengan perjalanan jutaan pekerja migran yang menghadapi persoalan ekonomi, hukum, dan sosial. Namun, keputusan meninggalkan tanah kelahiran demi kesempatan lebih baik serta keinginan mempertahankan identitas merupakan pengalaman yang memiliki kesamaan mendasar.

Kisah Lionel Messi juga menawarkan pelajaran tentang bagaimana pandangan masyarakat terhadap seorang tokoh publik dapat berubah seiring waktu dan pencapaian. Pemain yang pernah dianggap gagal memenuhi harapan akhirnya meninggalkan tim nasional sebagai simbol keberhasilan, ketekunan, dan kebanggaan nasional.

Perubahan tersebut tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan kegagalan, keputusan sulit, dan keberanian untuk kembali mencoba. Argentina pun mendapatkan kesempatan menyaksikan perjalanan seorang pemain dari sosok yang diragukan menjadi legenda yang dihormati lintas generasi.

Selepas meninggalkan tim nasional, Messi masih memiliki kesempatan melanjutkan karier profesional bersama Inter Miami di kompetisi Major League Soccer Amerika Serikat. Kontraknya bersama klub tersebut berlaku hingga 2028, meskipun usianya membuat pembicaraan mengenai akhir karier profesional semakin sering muncul.

Keberadaannya di Inter Miami memungkinkan penggemar sepak bola tetap menikmati kemampuan teknis, visi permainan, dan kreativitas yang menjadikannya salah satu pemain paling berpengaruh. Namun, tidak ada lagi kesempatan menyaksikan Messi memimpin Argentina dalam turnamen internasional seperti yang berlangsung selama dua dekade terakhir.

Bagi Argentina, tantangan berikutnya adalah membangun generasi baru setelah kehilangan sosok yang menjadi pusat permainan sekaligus simbol kebangkitan sepak bola nasional. Pelatih Lionel Scaloni harus memastikan regenerasi berlangsung tanpa membebani pemain muda dengan tuntutan menjadi pengganti Messi.

Pengalaman masa lalu memperlihatkan bagaimana pencarian penerus Maradona sempat menciptakan tekanan besar terhadap Messi ketika dirinya masih berkembang. Kesalahan serupa perlu dihindari agar pemain generasi berikutnya memiliki kesempatan membangun identitas serta prestasi mereka sendiri.

Pada akhirnya, kisah Lionel Messi bukan sekadar perjalanan seorang pesepak bola yang meninggalkan Argentina dan kemudian berhasil mengangkat trofi Piala Dunia. Ini merupakan cerita tentang kesetiaan pada akar kehidupan, keberanian menghadapi kegagalan, dan hubungan emosional yang bertahan melampaui batas negara.

Messi mungkin telah memainkan pertandingan terakhir bersama Argentina, tetapi perjalanan panjangnya akan terus menjadi bagian penting dalam sejarah sepak bola dunia. Dari seorang anak Rosario yang merantau ke Barcelona, ia kembali mendapatkan tempat istimewa dalam ingatan bangsanya sebagai salah satu legenda terbesar.

Brandi Chastain, Satu Penalti dan Selebrasi yang Mengubah Sejarah Sepak Bola Wanita Dunia

16 Okt 2026

Zavier Gozo, Pemuda 19 Tahun yang Tinggalkan Keluarga demi Mimpi Besar di Crystal Palace

16 Okt 2026

Kisah Lionel Messi: Pergi dari Argentina Sejak Kecil, Pulang sebagai Legenda dan Berpisah dengan Air Mata

16 Okt 2026
X (Twitter)
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.