Tottenham Hotspur mungkin baru saja menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kemenangan atas Chelsea, yakni identitas permainan yang selama ini hilang dari klub London Utara tersebut. Setelah terpuruk hingga zona degradasi, Spurs mendadak memperlihatkan kualitas yang membuka kembali harapan bersaing di papan atas Liga Inggris.
Kemenangan 2-0 di Stamford Bridge pada Sabtu (24/10/2026) bukan sekadar kejutan dalam derby London, tetapi juga memperlihatkan perubahan mendasar dalam permainan Tottenham. Roberto De Zerbi akhirnya memiliki bukti bahwa proyek mahal yang dibangun sejak musim panas mulai menunjukkan hasil setelah melewati periode penuh tekanan.
Sosok di balik perubahan tersebut bukan hanya Mathys Tel yang mencetak gol spektakuler, melainkan Mateus Fernandes yang mengendalikan pertandingan dari lini tengah. Gelandang berusia 22 tahun itu memperlihatkan kualitas luar biasa ketika Tottenham membutuhkan pemain yang mampu menerjemahkan gagasan taktik De Zerbi menjadi permainan nyata.
Persoalannya, satu kemenangan bersejarah belum cukup untuk menghapus keterpurukan Tottenham yang berlangsung hampir dua musim dan mengancam reputasi klub sebagai kekuatan Inggris. Spurs kini menghadapi pertanyaan lebih besar mengenai kemampuan mempertahankan momentum, memperbaiki produktivitas, serta memanfaatkan jadwal untuk mengejar enam besar.
Tottenham Mengakhiri Kutukan Chelsea, Kebangkitan yang Lebih Besar dari Sekadar Tiga Poin
Stamford Bridge selama puluhan tahun menjadi salah satu stadion paling tidak bersahabat bagi Tottenham, bahkan ketika Spurs memiliki skuad yang lebih kompetitif. Sebelum kemenangan terbaru, mereka hanya sekali menang dalam 34 kunjungan sebelumnya ke markas Chelsea sepanjang era Liga Inggris.
Kemenangan sebelumnya terjadi pada April 2018 ketika Tottenham masih ditangani Mauricio Pochettino dan menjadi salah satu pesaing papan atas kompetisi domestik. Kali ini, Spurs mencatatkan kemenangan tanpa kebobolan di Stamford Bridge untuk pertama kalinya sejak Desember 1986.
Artinya, hampir empat dekade berlalu sebelum Tottenham kembali mampu meninggalkan markas Chelsea dengan kemenangan sekaligus menjaga gawang tetap bersih. Catatan tersebut menjadi semakin istimewa karena diraih ketika kondisi tim justru jauh dari masa kejayaan mereka bersama Pochettino.
Tottenham memasuki pertandingan melawan Chelsea setelah dua musim berturut-turut menempati peringkat ke-17 klasemen akhir Liga Inggris, posisi yang sangat mengecewakan. Memasuki musim 2026/2027, keadaan belum banyak berubah karena Spurs kembali menghabiskan awal kompetisi di sekitar zona degradasi.
Bahkan, Tottenham baru mencatatkan satu kemenangan dari tujuh pertandingan pertama sebelum bertandang ke Stamford Bridge untuk menghadapi rival sekota mereka. Situasi tersebut membuat tekanan terhadap De Zerbi meningkat seiring munculnya pertanyaan mengenai efektivitas investasi besar klub.
Kemenangan atas Chelsea sempat membawa Tottenham naik ke peringkat ke-12, tetapi hasil pertandingan lainnya membuat mereka kembali turun ke posisi ke-14. Meski demikian, kemenangan tersebut mengubah situasi karena jarak Spurs dengan kelompok enam besar mendadak menyempit menjadi dua poin.
Fakta yang menarik, Tottenham pada saat bersamaan hanya unggul tiga poin dari zona degradasi sehingga posisi mereka masih sangat rentan. Kondisi tersebut menggambarkan betapa ketatnya persaingan awal musim dan pentingnya setiap kemenangan dalam menentukan arah perjalanan klub.
Dalam analisis yang diterbitkan Opta Analyst pada 28 Oktober 2026, Ali Tweedale menyoroti kemenangan ini sebagai kemungkinan titik balik bagi proyek Roberto De Zerbi. Perubahan paling penting bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan kemampuan Tottenham memainkan sepak bola yang sebelumnya sulit diwujudkan.
Keberhasilan tersebut juga memberikan dampak psikologis karena Tottenham akhirnya mampu mengalahkan lawan yang selama bertahun-tahun menjadi sumber kekecewaan. Kepercayaan diri seperti ini berpotensi memengaruhi cara pemain menghadapi pertandingan berikutnya, terutama ketika berada dalam tekanan.
Namun, kebangkitan Tottenham tidak boleh dinilai hanya melalui sejarah kemenangan karena pertandingan melawan Chelsea juga memperlihatkan sejumlah kelemahan mendasar. Dominasi permainan memang mengesankan, tetapi masih terdapat kesenjangan besar antara kemampuan menguasai bola dan efektivitas menciptakan peluang.
Revolusi Roberto De Zerbi: Mengubah Tottenham dari Tim Rapuh Menjadi Pengendali Permainan
Roberto De Zerbi datang membawa filosofi sepak bola yang menuntut keberanian, kecerdasan posisi, serta kemampuan mempertahankan penguasaan bola dalam tekanan. Pendekatannya berbeda dari permainan reaktif yang mengandalkan serangan balik karena setiap fase penguasaan dirancang untuk membuka ruang pertahanan lawan.
Filosofi tersebut membutuhkan pemain dengan kemampuan teknis tinggi, terutama di lini tengah, sehingga Tottenham melakukan investasi besar pada bursa transfer musim panas 2026. Namun, mendatangkan pemain berkualitas tidak otomatis membuat sistem berjalan tanpa proses adaptasi dan pembentukan hubungan antarlini.
Kesulitan itu terlihat jelas pada awal musim ketika Tottenham mengalami persoalan serius dalam membangun serangan dan menghasilkan peluang. Spurs bahkan harus menunggu hingga menit ke-86 pertandingan kelima menghadapi Aston Villa untuk mencetak gol pertama mereka di Liga Inggris.
Ketika gol tersebut tercipta, Tottenham sudah tertinggal 0-3 dan pertandingan memperlihatkan betapa buruknya efektivitas serangan mereka pada periode tersebut. Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan Spurs bukan semata-mata ketajaman penyerang, tetapi juga kualitas distribusi bola menuju area berbahaya.
Titik perubahan mulai muncul setelah jeda internasional ketika Tottenham bermain imbang 1-1 melawan Manchester United dengan penampilan yang lebih terorganisasi. Spurs kemudian mengalahkan Coventry City 3-1 untuk meraih kemenangan pertama mereka musim ini, meskipun permainan belum sepenuhnya meyakinkan.
Ketiga gol Tottenham ketika menghadapi Coventry seluruhnya tercipta melalui tembakan dari luar kotak penalti, sebuah catatan yang tampak mengesankan. Namun, nilai expected goals atau xG sebesar 0,86 memperlihatkan bahwa Spurs belum konsisten menghasilkan peluang dengan probabilitas gol tinggi.
Situasi berbeda terlihat ketika menghadapi Chelsea karena Tottenham mampu menguasai bola sebesar 68,9 persen dan mengendalikan ritme pertandingan dalam waktu panjang. Mereka juga menghasilkan 15 percobaan tembakan, sedangkan tuan rumah hanya mampu membukukan tujuh kesempatan sepanjang laga.
Keunggulan penguasaan bola bukan sekadar statistik karena Spurs mampu mempertahankan posisi pemain dan menemukan jalur operan ketika Chelsea berusaha merebut bola. Tim tamu juga memperlihatkan keberanian memulai serangan dari daerah sendiri meskipun menghadapi tekanan pemain lawan.
Salah satu ciri khas sepak bola De Zerbi adalah mengundang tekanan lawan melalui distribusi pendek sebelum memindahkan bola menuju ruang yang ditinggalkan. Pendekatan tersebut membutuhkan ketenangan luar biasa karena satu kesalahan operan di wilayah pertahanan dapat langsung memberikan peluang kepada lawan.
Ketika Chelsea meningkatkan tekanan terhadap pemain bertahan Tottenham, Fernandes dan Tonali menyediakan opsi operan yang memungkinkan bola bergerak melewati lini pertama. Inilah perubahan penting dibandingkan penampilan Spurs pada awal musim ketika tekanan lawan sering membuat serangan kehilangan kesinambungan.
De Zerbi tidak hanya membutuhkan tim yang mampu mempertahankan bola, tetapi juga pemain yang memahami kapan harus mempercepat permainan dan kapan menurunkan tempo. Melawan Chelsea, keseimbangan tersebut mulai terlihat melalui kemampuan Tottenham mengontrol wilayah tengah dan memaksa lawan bekerja lebih keras.
Kemenangan akhirnya diperoleh melalui gol bunuh diri penjaga gawang Mike Penders pada menit ke-77 dan aksi individu Mathys Tel sepuluh menit kemudian. Cole Palmer juga menerima kartu merah di antara kedua gol tersebut sehingga Chelsea menyelesaikan pertandingan dengan sepuluh pemain.
Penting dicatat bahwa Tottenham telah mendominasi pertandingan dan membuka keunggulan sebelum Chelsea kehilangan Palmer akibat kartu merah. Dengan demikian, kemenangan Spurs tidak semata-mata dapat dijelaskan melalui keunggulan jumlah pemain, meskipun situasi tersebut membantu mereka mengamankan hasil akhir.
Mateus Fernandes, Gelandang 85 Juta Pound yang Menghidupkan Filosofi De Zerbi
Jika terdapat satu pemain yang paling menjelaskan perubahan permainan Tottenham, sosok tersebut adalah Mateus Fernandes yang direkrut dengan nilai sekitar 85 juta pound sterling. Pemain asal Portugal itu akhirnya memperoleh kesempatan bermain pada posisi idealnya sebagai gelandang pengatur serangan dari wilayah lebih dalam.
Sebelum pertandingan melawan Chelsea, Fernandes belum benar-benar menemukan peran terbaiknya karena beberapa kali ditempatkan sebagai gelandang serang maupun pemain sayap. Kondisi kebugaran, masalah cedera, serta kelahiran anak pertamanya turut memengaruhi proses adaptasi bersama klub barunya.
Perubahan posisi di Stamford Bridge membuat Fernandes tampil lebih dekat dengan dua bek tengah dan memiliki akses lebih besar terhadap jalur distribusi bola. Dari posisi tersebut, ia dapat mengatur pembangunan serangan sekaligus menjadi penghubung utama antara lini pertahanan dan sektor penyerangan.
Fernandes merupakan gelandang yang memiliki kemampuan menghadapi tekanan atau press resistance, kualitas yang sangat dibutuhkan dalam sistem Roberto De Zerbi. Kemampuan tersebut membuatnya tetap tenang ketika lawan mempersempit ruang, sekaligus menjaga akurasi operan saat menerima bola dalam posisi sulit.
Statistik pertandingan membuktikan pengaruh Fernandes yang mencatatkan 124 sentuhan bola, tertinggi bagi pemain tim tamu dalam satu pertandingan Liga Inggris musim ini. Ia juga menghasilkan lima tekel serta menuntaskan 94 dari 102 operan dengan tingkat keberhasilan mencapai 92,2 persen.
Jumlah sentuhan tersebut menunjukkan betapa besar kepercayaan rekan setim terhadap Fernandes sebagai pusat distribusi permainan ketika menghadapi tekanan Chelsea. Tottenham tidak sekadar memberikan bola kepadanya, tetapi juga menggunakan pergerakannya untuk menciptakan jalur serangan yang lebih efektif.
Hal paling mengesankan terlihat dari 89 sentuhan Fernandes yang terjadi ketika berada dalam tekanan langsung pemain lawan sepanjang pertandingan. Catatan tersebut merupakan yang tertinggi kelima dalam satu pertandingan Liga Inggris musim 2026/2027 berdasarkan data Opta.
Sebanyak 48 sentuhan lainnya bahkan terjadi di wilayah pertahanan sendiri ketika pemain Chelsea berada dalam jarak maksimal dua meter. Jumlah tersebut menjadi catatan tertinggi di kompetisi, sekaligus memperlihatkan keberanian Fernandes menerima bola pada area dengan risiko kehilangan penguasaan cukup besar.
Kualitas teknik Fernandes juga tercermin melalui akurasi operan sebesar 91,2 persen ketika menghadapi tekanan dari pemain lawan dalam pertandingan tersebut. Angka itu memberikan gambaran mengenai kemampuan mempertahankan kontrol tanpa harus terus-menerus mengambil pilihan operan aman ke belakang.
Fernandes mencatatkan 27 umpan pemecah lini atau line-breaking passes, yakni operan yang berhasil melewati garis pertahanan maupun tekanan lawan. Dari jumlah tersebut, 21 dilepaskan ketika mendapat tekanan, sebuah pencapaian yang belum mampu dilampaui pemain lain sepanjang musim.
Angka tersebut penting karena kemampuan melewati garis tekanan merupakan salah satu fondasi permainan De Zerbi dalam menciptakan keunggulan jumlah pemain. Setiap operan yang berhasil melewati satu lini lawan dapat membuka ruang lebih besar bagi gelandang serang maupun penyerang.
Sebagai pemain kelahiran 10 Juli 2004, Fernandes masih memiliki ruang perkembangan yang besar meskipun sudah mengumpulkan pengalaman bermain di sepak bola Inggris. Sebelum bergabung dengan Tottenham, ia pernah memperkuat Southampton dan West Ham United dalam perjalanan karier profesionalnya.
Pengalaman tersebut membantu Fernandes memahami intensitas tekanan di Liga Inggris, kompetisi yang menuntut keputusan cepat ketika pemain menguasai bola. Namun, pertandingan melawan Chelsea memperlihatkan bahwa karakter permainannya berpotensi berkembang lebih jauh dalam sistem yang memberikan tanggung jawab besar.
Fernandes tidak harus mencetak gol atau memberikan assist untuk menjadi pemain paling berpengaruh karena kontribusinya muncul sebelum peluang tercipta. Perannya lebih mendasar, yakni memastikan Tottenham dapat membawa bola menuju wilayah serangan secara berulang tanpa kehilangan kendali permainan.
Dalam konteks taktik, Fernandes dapat dipandang sebagai pengatur ritme yang menentukan kualitas setiap transisi dari bertahan menuju menyerang. Apabila mampu mempertahankan performanya, ia berpotensi menjadi salah satu pemain paling menentukan dalam perkembangan Tottenham sepanjang musim.
Sandro Tonali dan Mateus Fernandes, Duet yang Bisa Menentukan Masa Depan Tottenham
Keberhasilan Fernandes juga tidak dapat dipisahkan dari kehadiran Sandro Tonali yang untuk pertama kalinya menjadi pasangan utamanya di lini tengah Tottenham. Duet dua rekrutan mahal tersebut memberikan keseimbangan antara kreativitas distribusi bola, kekuatan menghadapi tekanan, dan kemampuan mengendalikan pertandingan.
Tonali memiliki karakter permainan yang memungkinkan Tottenham mempertahankan struktur ketika Fernandes bergerak mencari ruang untuk menerima bola dari pemain belakang. Kehadirannya juga memberikan alternatif distribusi sehingga lawan tidak cukup hanya menutup satu jalur operan untuk menghentikan pembangunan serangan.
Ketika Fernandes turun mendekati bek tengah, Tonali dapat mempertahankan posisi lebih tinggi untuk menerima operan berikutnya dan membantu menggerakkan serangan. Sebaliknya, ketika Fernandes berada di bawah tekanan, Tonali menyediakan pilihan yang memungkinkan Spurs mempertahankan penguasaan bola.
Hubungan posisi semacam ini sangat penting karena filosofi De Zerbi membutuhkan koordinasi antara pemain yang menerima bola dan pemain yang menciptakan ruang. Tanpa pergerakan yang selaras, penguasaan bola justru berisiko berubah menjadi permainan lambat yang mudah dibaca lawan.
Di belakang keduanya, kualitas pemain bertahan seperti Micky van de Ven dan Andy Robertson turut membantu Tottenham mempertahankan keberanian membangun serangan. Sementara itu, James Maddison memberikan dukungan kreativitas sebelum digantikan Conor Gallagher akibat cedera pada babak kedua.
Masuknya Gallagher juga memperlihatkan pentingnya kedalaman skuad karena Tottenham tetap mampu mempertahankan intensitas permainan meskipun kehilangan pemain kreatif. Kontribusinya bahkan terlihat ketika Cole Palmer menerima kartu kuning kedua setelah melakukan pelanggaran terhadap mantan pemain Chelsea tersebut.
Meski demikian, duet Fernandes dan Tonali masih memerlukan pengujian terhadap berbagai karakter lawan, terutama tim yang memiliki pressing lebih agresif. Mereka juga harus membuktikan kemampuan mengendalikan pertandingan ketika Tottenham tidak dapat mendominasi penguasaan bola seperti saat menghadapi Chelsea.
Tottenham Dominan tetapi Belum Mematikan, Masalah Besar Masih Mengintai
Di balik dominasi yang mengesankan, Tottenham masih menghadapi persoalan serius dalam mengubah penguasaan bola menjadi peluang berkualitas tinggi. Nilai expected goals mereka ketika menghadapi Chelsea hanya mencapai 0,74 meskipun mampu menghasilkan 58 keberhasilan memasuki sepertiga akhir lapangan.
Expected goals merupakan ukuran statistik untuk memperkirakan peluang sebuah tembakan menghasilkan gol berdasarkan karakteristik kesempatan yang diperoleh pemain. Karena itu, angka 0,74 menunjukkan kualitas peluang Tottenham secara keseluruhan masih relatif rendah meskipun mereka berhasil mencetak dua gol.
Perbandingan antara 58 keberhasilan memasuki wilayah serangan dan nilai xG tersebut menjadi salah satu rasio terburuk dalam satu pertandingan Liga Inggris musim ini. Artinya, Tottenham sudah mampu membawa bola ke area berbahaya, tetapi belum cukup efektif ketika menentukan tindakan terakhir.
Masalah ini dapat muncul ketika pemain terlalu lama mempertahankan penguasaan bola sehingga pertahanan lawan memiliki kesempatan mengatur kembali posisi. Selain itu, kurangnya pergerakan tanpa bola dapat membuat gelandang kesulitan menemukan penyerang di area dengan peluang tembakan lebih baik.
Tottenham membutuhkan peningkatan kualitas umpan terakhir, ketepatan pergerakan penyerang, serta keberanian melakukan penetrasi ketika ruang mulai terbuka. Jika tidak, dominasi permainan berisiko menghasilkan banyak operan tanpa memberikan ancaman yang benar-benar menyulitkan penjaga gawang lawan.
Gol kedua Mathys Tel memang memperlihatkan kualitas individu luar biasa setelah ia membawa bola sekitar 45 meter sebelum melepaskan penyelesaian akurat. Namun, peluang seperti itu tidak selalu tersedia, terutama ketika menghadapi tim yang mempertahankan struktur pertahanan lebih rapat.
Gol pertama juga lahir melalui kesalahan Mike Penders yang gagal mengantisipasi sepak pojok Fernandes dan justru mengarahkan bola ke gawang sendiri. Situasi tersebut menunjukkan Tottenham mampu memberikan tekanan melalui bola mati, tetapi belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan menciptakan peluang dari permainan terbuka.
Di sisi lain, Chelsea memang memiliki kelemahan dalam bertahan menghadapi bola mati yang semakin terekspos pada pertandingan tersebut. Menurut statistik Opta, mereka telah kebobolan delapan gol dari situasi tersebut, dua kali lebih banyak daripada tim Liga Inggris lainnya.
Tottenham juga belum memiliki pencetak gol yang konsisten karena tidak seorang pun pemain dalam skuad mencatatkan lebih dari satu gol liga hingga periode tersebut. Kondisi ini menjadi persoalan karena tim yang ingin bersaing di papan atas membutuhkan sumber produktivitas yang dapat diandalkan.
Dominic Solanke, Omar Marmoush, Sávio, Mohammed Kudus, dan Mathys Tel menjadi deretan pemain yang diharapkan mampu meningkatkan efektivitas serangan. Mereka memiliki karakter berbeda, tetapi masih harus menunjukkan kemampuan menghasilkan gol secara berkelanjutan ketika menghadapi berbagai organisasi pertahanan.
Solanke dapat memberikan referensi permainan sebagai penyerang tengah, sedangkan Kudus menawarkan kemampuan membawa bola melewati lawan melalui duel individual. Sávio dan Tel memiliki kecepatan untuk menyerang ruang, sementara Marmoush memberikan alternatif melalui mobilitas serta penyelesaian akhir.
Tantangan De Zerbi adalah menggabungkan karakter tersebut ke dalam satu struktur serangan yang tidak mengorbankan keseimbangan ketika kehilangan bola. Keberhasilan melakukan hal itu akan menentukan apakah peningkatan permainan Tottenham dapat menghasilkan kemenangan secara konsisten.
Jadwal Tottenham Bisa Membuka Jalan ke Enam Besar Liga Inggris
Setelah kemenangan atas Chelsea, Tottenham menghadapi lima pertandingan yang secara statistik memiliki tingkat kesulitan paling rendah dibandingkan klub lain di Liga Inggris. Penilaian tersebut didasarkan pada rata-rata Opta Power Rating calon lawan mereka dalam periode pertandingan mendatang.
Tottenham akan menghadapi Crystal Palace di kandang, kemudian bertandang ke Leeds United sebelum menjamu Ipswich Town pada pertandingan berikutnya. Spurs selanjutnya melawat ke markas Sunderland dan kembali bermain di kandang ketika menghadapi Fulham.
Tiga dari lima calon lawan tersebut berada di bawah posisi Tottenham dalam klasemen setelah rangkaian pertandingan akhir pekan sebelumnya. Dua tim lainnya masing-masing hanya unggul satu dan dua poin sehingga perbedaan kualitas berdasarkan posisi klasemen relatif kecil.
Jadwal tersebut membuka kesempatan besar bagi Tottenham untuk memperbaiki posisi, terutama karena mereka kini telah mencatatkan dua kemenangan beruntun. Namun, keberhasilan memaksimalkan periode ini tetap bergantung pada kemampuan mempertahankan organisasi permainan dan meningkatkan ketajaman lini depan.
Jika mampu meraih tiga kemenangan dari lima pertandingan, Tottenham akan memperoleh tambahan sembilan poin yang berpotensi membawa mereka mendekati papan atas. Hasil tersebut juga membantu menciptakan jarak lebih aman dari zona degradasi sebelum menghadapi jadwal yang jauh lebih berat.
Skenario menyapu bersih seluruh lima pertandingan memang menarik karena akan menghasilkan tujuh kemenangan beruntun apabila digabungkan dengan dua hasil sebelumnya. Namun, target tersebut tergolong sangat ambisius mengingat hanya Aston Villa yang mampu mencatatkan tujuh kemenangan beruntun sepanjang musim lalu.
Tottenham tetap perlu menaruh perhatian besar terhadap setiap pertandingan karena lawan yang berada di papan bawah sering menghadirkan tantangan berbeda. Ketika menghadapi pertahanan rapat, kualitas distribusi Fernandes dan kreativitas para penyerang justru akan diuji lebih mendalam.
Crystal Palace dan Fulham berpotensi menghadirkan persoalan ketika mampu menutup ruang antarlini, sedangkan pertandingan tandang menghadapi Leeds dan Sunderland menuntut konsentrasi tinggi. Ipswich juga tidak dapat diremehkan karena Tottenham belum menunjukkan kemampuan mencetak gol secara konsisten.
Tantangan lebih besar menunggu setelah rangkaian tersebut selesai karena Tottenham akan menghadapi Arsenal, Liverpool, Brighton, dan Bournemouth dalam jadwal berikutnya. Mulai 4 Desember 2026, Spurs bahkan diperkirakan menjalani periode pertandingan tersulit berdasarkan rata-rata kekuatan lawan menurut Opta.
Setelah melalui rangkaian berat tersebut, Tottenham masih harus bertandang ke Stadion Etihad untuk menghadapi Manchester City yang memiliki kualitas skuad tinggi. Karena itu, periode lima pertandingan berikutnya menjadi kesempatan penting mengumpulkan poin sebelum menghadapi risiko kehilangan momentum.
Keberhasilan meraih hasil maksimal juga dapat membantu Tottenham membangun kepercayaan diri yang selama ini menjadi persoalan setelah dua musim mengecewakan. Sebaliknya, kegagalan memanfaatkan jadwal ringan akan memperbesar tekanan ketika mereka mulai menghadapi lawan yang lebih kuat.
De Zerbi Menemukan Fondasi, tetapi Tottenham Belum Keluar dari Krisis
Keberhasilan mengalahkan Chelsea memberikan alasan bagi Roberto De Zerbi untuk meyakini bahwa proses perubahan Tottenham mulai bergerak menuju arah yang benar. Namun, kebangkitan tersebut masih berada pada tahap awal karena performa positif belum terbukti dapat dipertahankan sepanjang beberapa pekan.
De Zerbi sendiri menilai peningkatan permainan tim tidak hanya berasal dari perubahan teknis, tetapi juga perkembangan hubungan dan mentalitas pemain. Menurutnya, Tottenham mulai menunjukkan koneksi yang lebih kuat sehingga para pemain dapat menjalankan tanggung jawab dengan kepercayaan diri lebih tinggi.
“Kami berkembang pesat,” ujar De Zerbi setelah kemenangan di Stamford Bridge ketika menjelaskan perubahan yang terjadi dalam kelompok pemainnya. Ia menilai perkembangan tersebut mencakup mentalitas, hubungan antarpemain, serta kualitas permainan yang mulai terlihat semakin baik.
Penilaian itu penting karena proyek De Zerbi sempat menghadapi keraguan besar setelah Tottenham menghabiskan dana besar tanpa langsung memperoleh hasil memuaskan. Performa Fernandes dan Tonali kini memberikan gambaran mengenai alasan klub bersedia berinvestasi untuk membangun kembali lini tengah.
Tottenham akhirnya memiliki kemampuan memainkan bola dari belakang dengan lebih terstruktur, sesuatu yang sebelumnya menjadi kelemahan ketika menghadapi tekanan lawan. Namun, tim masih harus meningkatkan efektivitas serangan agar dominasi tersebut tidak hanya menghasilkan statistik penguasaan bola.
Salah satu ujian terbesar adalah kemampuan menjaga keseimbangan antara keberanian membangun serangan dan kebutuhan melindungi wilayah pertahanan sendiri. Tim yang memainkan bola pendek di dekat kotak penalti selalu menghadapi risiko ketika lawan mampu memotong operan pada posisi berbahaya.
Keberadaan Fernandes memang membantu mengurangi risiko tersebut, tetapi ketergantungan berlebihan terhadap satu pemain dapat menimbulkan persoalan baru apabila ia absen. De Zerbi perlu memastikan Tottenham memiliki alternatif distribusi ketika gelandang asal Portugal itu mendapatkan pengawalan ketat atau tidak tersedia.
Peningkatan hubungan antara gelandang dan penyerang juga harus menjadi prioritas karena peluang mencetak gol masih belum sebanding dengan dominasi permainan. Tanpa perkembangan tersebut, Tottenham berisiko kembali kehilangan poin dalam pertandingan yang sebenarnya dapat mereka kendalikan.
Pada sisi lain, kemenangan bersejarah atas Chelsea memperlihatkan perubahan mentalitas yang sebelumnya sulit ditemukan ketika Tottenham menghadapi lawan dengan tekanan besar. Keberanian menguasai pertandingan di Stamford Bridge menjadi bukti bahwa para pemain mulai mempercayai sistem yang dibangun De Zerbi.
Tottenham kini berada di persimpangan penting antara melanjutkan kebangkitan atau kembali terseret dalam persaingan menghindari degradasi seperti dua musim sebelumnya. Selisih dua poin dari enam besar memberikan harapan, tetapi jarak tiga poin dari zona berbahaya menjadi pengingat bahwa perjalanan masih panjang.
Kemajuan yang lebih meyakinkan baru akan terlihat ketika Spurs mampu meraih kemenangan beruntun, meningkatkan produktivitas, serta mempertahankan keseimbangan permainan menghadapi lawan kuat. Keberhasilan memenuhi tuntutan tersebut akan menentukan apakah investasi besar klub benar-benar menghasilkan perubahan yang diharapkan.
Kemenangan atas Chelsea mungkin akan dikenang sebagai malam ketika Tottenham menemukan kembali kepercayaan diri setelah periode panjang yang penuh kekecewaan. Namun, warisan terpenting pertandingan tersebut berpotensi menjadi kemunculan Mateus Fernandes sebagai pengatur permainan yang membuat filosofi De Zerbi akhirnya bekerja.
Bagi Tottenham, tantangan berikutnya bukan lagi membuktikan bahwa mereka mampu memainkan sepak bola berkualitas selama satu pertandingan besar. Spurs harus menunjukkan bahwa permainan tersebut dapat menghasilkan kemenangan secara berkelanjutan, sekaligus mengubah ambisi mengejar enam besar menjadi target yang realistis.
Jika itu terwujud, keberhasilan di Stamford Bridge bukan sekadar kemenangan bersejarah yang mengakhiri penantian hampir 40 tahun. Pertandingan tersebut justru dapat menjadi titik awal perubahan yang membawa Tottenham keluar dari keterpurukan dan kembali diperhitungkan dalam persaingan papan atas Liga Inggris.


