Close Menu
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
Home - Olahraga - Michael Olise Tak Pernah Punya Jalan Mulus, Kini Jadi Bintang Dunia Bayern dan Prancis

Michael Olise Tak Pernah Punya Jalan Mulus, Kini Jadi Bintang Dunia Bayern dan Prancis

  • Oktober 1, 2026

Michael Olise kini terlihat seperti pemain yang sejak awal ditakdirkan mencapai panggung tertinggi sepak bola Eropa. Namun perjalanan bintang Bayern München itu jauh dari lurus karena masa akademinya justru dipenuhi penolakan, persoalan disiplin, dan keraguan.

Pada usia 24 tahun, Michael Olise sudah berubah menjadi salah satu penyerang paling komplet dalam generasinya setelah berkembang bersama Bayern dan Prancis. Kombinasi kreativitas, dribel, visi, produktivitas, serta kerja tanpa bola membuat permainannya sulit dibatasi hanya sebagai winger kanan.

Lonjakan tersebut semakin nyata ketika Olise menjadi penentu kemenangan 1-0 Prancis atas Belgia pada UEFA Nations League, 28 September 2026. Pemain Bayern itu masuk sebagai pengganti sebelum mencetak gol individu pada menit-menit akhir pertandingan.

Aksinya bahkan membuat Zinedine Zidane berlari di pinggir lapangan dan menendang bola dalam selebrasi spontan yang kemudian viral. Pelatih Prancis tersebut menyebut Michael Olise sebagai talenta luar biasa dengan kemampuan membaca kapan harus menyerang maupun mundur membantu tim.

Kisah tersebut terasa semakin menarik ketika melihat perjalanan panjangnya, sebagaimana diulas GOAL dalam profil terbaru sang pemain. Michael Olise bukan produk akademi yang melaju tanpa hambatan, melainkan pemain yang pernah dianggap sulit ditangani bahkan terancam gagal memenuhi potensinya.

Michael Olise dan Jalan Berliku di Akademi

Olise lahir di London dari ayah berdarah Nigeria serta ibu Prancis-Aljazair, sebuah latar keluarga yang membuatnya memenuhi syarat mewakili beberapa negara. Kemampuan bermain sepak bola sudah terlihat ketika usianya bahkan baru sekitar enam tahun.

Michael Richards, mantan pelatihnya di Hayes & Yeading, menggambarkan Olise kecil seperti seorang peseluncur es ketika membawa bola. Gerakannya sangat halus dan bakat menyerangnya membuat berbagai akademi elite di London segera mulai memperhatikan perkembangannya.

Namun bakat besar itu datang bersama karakter yang tidak selalu mudah dipahami dalam struktur akademi sepak bola Inggris. Salah satu kisah menarik terjadi ketika Olise dikabarkan meminta diperbolehkan mengenakan jersey Manchester United sebelum mengikuti trial bersama Chelsea.

Chelsea tetap merekrutnya dan Michael Olise menghabiskan sekitar tujuh tahun di lingkungan akademi klub London tersebut. Akan tetapi, perjalanan panjang itu berakhir pada 2016 setelah perilaku dan pendekatannya terhadap beberapa kewajiban akademi menimbulkan persoalan internal.

Kepergiannya dari Chelsea sebenarnya belum menjadi titik terendah karena Manchester City kemudian menawarkan kesempatan lain. Masa Michael Olise bersama City berlangsung singkat dan kembali berakhir tanpa jalur jelas menuju sepak bola profesional.

Sean Conlon, salah satu mentor masa mudanya, kemudian meminta Michael Olise menggunakan penolakan tersebut sebagai motivasi untuk membuktikan kemampuan. Pesan sederhananya adalah membuat pihak yang meragukannya menyesal ketika Olise mencapai usia dewasa sebagai pesepak bola profesional.

Fase itu menjadi penting karena kegagalan di dua akademi elite ternyata tidak menghancurkan kepercayaan Olise terhadap kualitasnya sendiri. Sebaliknya, pengalaman tersebut perlahan mengubah cara sang pemain menjalani latihan dan menghadapi tuntutan sepak bola profesional.

Ada pelajaran menarik dalam perjalanan itu bahwa sistem akademi tidak selalu mampu menentukan masa depan pemain secara sempurna. Pelepasan seorang pemain pada usia muda terkadang mencerminkan persoalan perkembangan saat itu, bukan batas akhir dari kemampuan teknisnya.

Reading Mengubah Arah Karier Olise

Kesempatan penting akhirnya datang dari Reading, klub yang direkrut Olise pada 2017 setelah sekitar enam bulan tanpa tim. Di sana bakatnya kembali terlihat jelas, meskipun sejumlah persoalan mengenai kedisiplinan akademik ternyata belum sepenuhnya menghilang.

Pelatih Reading ketika itu, José Gomes, sudah tertarik memasukkan Michael Olise ke tim utama setelah melihatnya bermain untuk kelompok usia muda. Keinginannya sempat mendapatkan penolakan dari pengelola akademi karena sang pemain dinilai tidak memenuhi kewajiban pendidikannya.

Gomes mengambil sudut pandang berbeda dan menilai prioritas terbesar Michael Olise memang terletak pada perkembangan sebagai pesepak bola. Pelatih asal Portugal tersebut kemudian memilih memberikan jalur menuju tim senior sekaligus mempersiapkan fisiknya menghadapi kerasnya Championship.

Masalah fisik memang menjadi tantangan nyata karena tubuh Michael Olise saat remaja belum cukup kuat menghadapi permainan senior Inggris. Gomes bahkan mengungkap Olise pernah merasa dipermalukan ketika kesulitan menjalani latihan kekuatan bersama pemain seusianya di Manchester City.

Reading kemudian membuat proses persiapan yang justru memaksa Michael Olise berhadapan langsung dengan sisi keras sepak bola profesional. Rekan setim diminta memberikan tekanan fisik dalam latihan sehingga pemain muda itu terbiasa menerima tekel dan duel intens.

Pendekatan tersebut terasa keras, tetapi Gomes melihatnya sebagai tahapan yang harus dilewati sebelum Michael Olise bermain reguler di Championship. Setelah menunjukkan ketahanan lebih baik, sang pelatih akhirnya memberinya kesempatan dan perlahan meningkatkan menit bermainnya.

Reading pada akhirnya memberikan sesuatu yang sebelumnya tidak diperoleh Michael Olise di Chelsea maupun Manchester City, yakni kepercayaan pada level senior. Ruang untuk melakukan kesalahan dan berkembang itu menjadi fondasi penting dalam pembentukan pemain yang terlihat sekarang.

Cerita tersebut juga menunjukkan mengapa jalur perkembangan pemain muda tidak selalu efektif ketika terlalu bergantung pada reputasi akademi besar. Bagi Michael Olise, berpindah ke Reading justru menghasilkan kesempatan kompetitif yang dibutuhkan untuk memaksimalkan kemampuan alaminya.

Crystal Palace Membuktikan Michael Olise Siap di Level Elite

Perjalanan setelah menembus tim utama Reading memang tidak serta-merta mengantar Michael Olise menuju level tertinggi Eropa. Ia masih membutuhkan pembuktian lain, terutama untuk menunjukkan kreativitasnya dapat bertahan menghadapi intensitas Premier League setiap pekan.

Crystal Palace kemudian menjadi jembatan ideal karena memberikan menit bermain kepada Michael Olise tanpa menghilangkan kebebasan ekspresinya. Di London Selatan, kualitas umpan, kaki kiri, kontrol ruang, dan kemampuan menciptakan peluang mulai dikenal jauh lebih luas.

Performa bersama Palace membuat Bayern München mengambil keputusan besar pada musim panas 2024 dengan mengeluarkan sekitar 60 juta euro untuk merekrutnya. Nilai tersebut cukup signifikan karena Michael Olise sempat mengalami beberapa persoalan otot pada musim sebelumnya.

Bayern pada dasarnya bertaruh bahwa cedera tersebut hanyalah hambatan sementara, sedangkan kualitas teknis Michael Olise memiliki nilai jangka panjang jauh lebih besar. Keputusan itu akhirnya memberikan hasil yang bahkan melampaui ekspektasi awal terhadap pemain sayap tersebut.

Michael Olise langsung memberikan dampak besar dan terus meningkatkan produktivitasnya setelah beradaptasi dengan sepak bola Jerman. Musim 2025/26 menjadi bukti paling jelas ketika ia menghasilkan 15 gol serta 19 assist hanya di Bundesliga.

Catatan tersebut berarti Michael Olise terlibat langsung dalam 34 gol pada satu musim liga, angka luar biasa untuk pemain yang beroperasi dari sisi lapangan. Ia kemudian dinobatkan sebagai Bundesliga Player of the Season setelah sebelumnya meraih Rookie of the Season.

Secara keseluruhan, Michael Olise menutup musim 2025/26 dengan catatan 22 gol dan 29 assist di seluruh kompetisi. Produktivitas tersebut memperlihatkan perubahan besar dari winger kreatif menjadi penyerang komplet yang secara konsisten menentukan hasil pertandingan.

Angka itu juga membantu menjelaskan mengapa peran Michael Olise dalam struktur Bayern jauh lebih besar daripada sekadar pemasok umpan bagi Harry Kane. Ia mampu menciptakan peluang, masuk ke kotak penalti, mencetak gol, sekaligus menjaga intensitas ketika tim kehilangan bola.

Bersama Harry Kane dan Luis Díaz, Michael Olise menjadi bagian dari lini serang Bayern yang menawarkan kombinasi karakter berbeda. Kane memberikan penyelesaian dan permainan penghubung, sedangkan Olise mampu mengubah tempo pertandingan melalui kreativitas dan penetrasi dari sisi kanan.

Michael Olise Kini Bukan Sekadar Winger Kreatif

Perkembangan paling signifikan dalam permainan Michael Olise terlihat pada kemampuannya membuat keputusan di berbagai zona lapangan. Ia tidak harus selalu berada dekat garis samping karena dapat bergerak menuju half-space, turun mengambil bola, atau masuk sebagai penyelesai.

Kemampuan kaki kirinya memang tetap menjadi senjata utama, terutama ketika melakukan cut inside dari sisi kanan. Namun mengantisipasi gerakan tersebut semakin sulit karena Michael Olise juga mampu memberikan umpan silang, kombinasi pendek, maupun mengirim bola progresif dari posisi lebih dalam.

Inilah perbedaan antara pemain sayap atraktif dengan pemain menyerang kelas dunia yang benar-benar memengaruhi struktur permainan tim. Michael Olise bukan hanya menghasilkan momen spektakuler, tetapi juga memahami ruang yang perlu ditempati sebelum peluang tersebut tercipta.

Aspek tanpa bola sama pentingnya karena perkembangan bersama Bayern membuat Michael Olise semakin terlibat dalam pressing dan transisi defensif. Kemampuan tersebut menjelaskan mengapa Zidane menyoroti bukan hanya kualitas dribelnya, tetapi juga pemahaman mengenai ritme pertandingan.

Statistik awal Bundesliga 2026/27 kembali menunjukkan momentumnya belum berhenti setelah musim terbaik dalam kariernya. Dalam empat penampilan awal liga, Michael Olise sudah mengoleksi empat gol dan satu assist untuk Bayern München.

Data tersebut tentu masih berasal dari sampel kecil dan tidak dapat langsung diekstrapolasi sepanjang musim. Namun produktivitas awal memperlihatkan Michael Olise mampu mempertahankan level setelah menjalani musim klub serta turnamen internasional yang sangat padat.

Dari Bayern ke Prancis, Michael Olise Naik Level

Piala Dunia 2026 menjadi momen yang semakin mengangkat status Michael Olise karena pengaruhnya tidak berhenti pada level klub. Bersama Prancis, ia menciptakan tujuh assist sepanjang turnamen dan memecahkan rekor yang sebelumnya bertahan lebih dari setengah abad.

Pelé mencatat enam assist bersama Brasil pada Piala Dunia 1970, sebelum Michael Olise melewati angka tersebut pada pertandingan perebutan tempat ketiga melawan Inggris. Dua assist untuk Kylian Mbappé membawanya menyelesaikan turnamen dengan tujuh assist.

Pencapaian itu sangat penting karena memperlihatkan bahwa kreativitas Michael Olise dapat diterjemahkan ke panggung internasional dengan tekanan maksimal. Ia tidak lagi sekadar pemain Bayern yang tampil dominan dalam kompetisi domestik, tetapi menjadi penggerak serangan negara besar.

Adaptasinya bersama timnas sebenarnya memiliki tantangan tersendiri karena Michael Olise disebut tidak terlalu fasih berbahasa Prancis ketika pertama bergabung. Karakternya yang introver juga membuat proses integrasi berbeda dibanding pemain yang lebih ekspresif di ruang ganti.

Rayan Cherki menggambarkan Michael Olise sebagai sosok yang menikmati waktunya sendiri, tetapi karakter tersebut tidak membuatnya terisolasi. Thierry Henry juga menilai pemain itu memiliki cara sendiri dalam melihat sepak bola dan kehidupan sehingga terkadang mudah disalahpahami.

Olise memang tidak dikenal sebagai pemain yang gemar memberikan wawancara panjang atau membangun persona besar di luar lapangan. Sepanjang kariernya, ia lebih sering membiarkan kualitas permainan menjadi cara utama untuk menunjukkan kepribadian dan menjawab keraguan.

Kemenangan Prancis atas Belgia menjadi contoh terbaru karena Michael Olise hanya membutuhkan satu momen untuk mengubah pertandingan. Berawal dari wilayah permainan Prancis, ia membawa bola ke depan, melewati lawan, kemudian mengirim penyelesaian kaki kiri ke sudut gawang.

Zidane bahkan kehilangan ketenangan khasnya ketika menyaksikan gol tersebut, sebuah gambaran mengenai kualitas individu dalam aksi Michael Olise. Momen itu terasa seperti penegasan bahwa statusnya bersama Les Bleus telah berubah dari pemain potensial menjadi pemain penentu.

Penolakan yang Justru Membentuk Michael Olise

Melihat Michael Olise sekarang membuat cerita pelepasannya dari Chelsea dan Manchester City terlihat hampir tidak masuk akal. Namun menghapus bagian tersebut justru akan menghilangkan faktor penting yang menjelaskan mengapa perjalanan kariernya berbeda dibanding banyak pemain elite lainnya.

Ia pernah dinilai sulit dilatih, bermasalah dengan kewajiban akademik, kurang kuat secara fisik, dan mempunyai karakter yang tidak selalu mudah dipahami. Hampir setiap kelemahan itu kemudian menjadi bagian proses yang membentuk pemain lebih matang pada level profesional.

Perubahannya juga tidak terjadi karena Michael Olise tiba-tiba kehilangan karakter individual yang sejak kecil melekat kepadanya. Sebaliknya, lingkungan Reading, Crystal Palace, Bayern, dan timnas Prancis menemukan cara memanfaatkan keunikan tersebut tanpa menghilangkan kebebasan bermainnya.

Ini menjadi pelajaran penting mengenai pengembangan bakat karena kemampuan besar terkadang membutuhkan pendekatan yang berbeda daripada sekadar menuntut semua pemain mengikuti jalur sama. Michael Olise berkembang ketika pelatih mampu menemukan keseimbangan antara disiplin, kepercayaan, dan kebebasan berekspresi.

Ketika Thierry Henry menyaksikannya bersinar pada Olimpiade Paris 2024, ia mengatakan, “You ain’t seen nothing yet.” Dua tahun kemudian, kalimat itu terasa semakin relevan setelah Olise menembus level baru bersama Bayern München dan Prancis.

Pada usia 24 tahun, Michael Olise bahkan masih berada pada fase ketika sebagian pemain menyerang baru mulai memasuki periode terbaiknya. Itu berarti produktivitas 22 gol dan 29 assist musim lalu mungkin belum menjadi batas maksimum dalam perkembangan kariernya.

Tantangan berikutnya justru mempertahankan konsistensi ketika statusnya berubah dan lawan mulai merancang strategi khusus untuk membatasi pengaruhnya. Ekspektasi Bayern dan Prancis sekarang jauh berbeda karena setiap penurunan performa akan mendapat perhatian lebih besar dibanding dua tahun sebelumnya.

Namun seluruh perjalanan Michael Olise menunjukkan bahwa tekanan bukan sesuatu yang asing baginya sejak usia muda. Ia sudah mengalami pelepasan akademi, periode tanpa klub, persoalan fisik, keraguan terhadap sikapnya, serta tuntutan membuktikan diri di setiap level.

Kini situasinya berbalik karena klub dan tim nasional tidak lagi bertanya apakah Michael Olise mempunyai kualitas untuk mencapai level tertinggi. Pertanyaannya telah berubah menjadi seberapa jauh seorang pemain yang pernah tersingkir dari akademi elite masih dapat meningkatkan permainannya.

Bayern sudah memiliki salah satu senjata menyerang paling produktif di Eropa, sedangkan Prancis menemukan kreator yang mampu menjadi pembeda dalam pertandingan ketat. Perjalanan Michael Olise membuktikan bahwa jalan menuju status pemain kelas dunia memang tidak selalu dimulai dengan perjalanan yang sempurna.

Kanada vs Peru

Preview Kanada vs Peru: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

02 Okt 2026

Florian Wirtz Mulai Diragukan di Liverpool, Data Justru Ungkap Hal Berbeda

02 Okt 2026

Alexis Mac Allister dan 4 Opsi Transfer Jika Tinggalkan Liverpool

02 Okt 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.