Belanja besar sering dianggap sebagai jalan tercepat untuk memperbaiki sebuah tim, terutama ketika hasil musim sebelumnya jauh dari harapan. Namun, perjalanan Tottenham Hotspur pada awal Premier League 2026/27 memperlihatkan bahwa mengganti banyak pemain sekaligus juga membawa risiko yang tidak kecil.
Tottenham menggelontorkan lebih dari £300 juta pada bursa transfer musim panas dan mendatangkan 10 pemain yang langsung masuk lingkungan tim utama. Akan tetapi, lima pertandingan pertama liga justru berakhir tanpa kemenangan dan membuat Spurs terdampar di dasar klasemen Premier League.
Situasi itu membuka kembali perdebatan yang selalu muncul setelah bursa transfer ditutup: apakah sebuah klub membutuhkan revolusi besar untuk berkembang, atau justru kontinuitas skuad yang lebih penting. Data awal musim menunjukkan jawaban persoalan tersebut jauh lebih kompleks daripada sekadar jumlah uang yang dibelanjakan.
Analisis Opta terhadap Premier League 2026/27 menemukan kecenderungan menarik bahwa tim dengan perubahan lebih sedikit dalam susunan pemain cenderung tampil lebih baik dibanding ekspektasi pramusim. Sebaliknya, banyak klub yang memasukkan banyak pemain baru justru mengalami kesulitan pada pekan-pekan awal.
Kontinuitas Skuad Premier League Jadi Masalah Tottenham
Tottenham sebenarnya memiliki alasan kuat melakukan perombakan setelah menjalani dua musim yang sangat buruk dan dua kali finis di posisi ke-17 Premier League. Roberto De Zerbi kemudian mendapatkan sumber daya besar untuk membentuk tim yang dianggap lebih cocok menjalankan pendekatan sepak bolanya.
Masalahnya, perubahan itu dilakukan dengan skala sangat besar dalam satu jendela transfer sehingga Tottenham praktis memainkan sebuah tim baru. Sembilan pemain nonkiper yang didatangkan musim panas sudah mendapatkan kesempatan bermain di Premier League dalam lima pertandingan pertama musim ini.
Angka tersebut menjadi penting karena sepak bola bukan hanya persoalan mengumpulkan individu dengan kualitas teknik terbaik. Sistem permainan membutuhkan koordinasi, pemahaman ruang, komunikasi, kecepatan mengambil keputusan, serta hubungan antarpemain yang biasanya berkembang setelah menjalani banyak pertandingan bersama.
Itulah titik di mana kontinuitas skuad memberikan keuntungan yang sulit dihitung hanya melalui nilai transfer. Seorang pemain tidak cukup memahami tugasnya sendiri, tetapi juga harus mengetahui reaksi rekan setim ketika bola berpindah, tekanan dilakukan, atau struktur pertahanan berubah.
Tottenham bahkan menjadi klub ke-12 dalam sejarah Premier League, dengan mengecualikan tim promosi, yang memberikan lebih dari 25 kesempatan starter kepada pemain baru selama lima pertandingan pertama. Rekam jejak klub-klub sebelumnya menunjukkan pola yang cukup mengkhawatirkan bagi Spurs.
Enam dari 11 klub Premier League sebelumnya yang melakukan perubahan sebesar itu akhirnya menyelesaikan musim pada posisi ke-17 atau lebih rendah. Bahkan, hanya satu dari kelompok tersebut yang sanggup menutup musim dengan posisi lebih tinggi daripada urutan kesembilan.
Data itu tidak otomatis membuktikan bahwa mendatangkan banyak pemain menyebabkan sebuah klub terpuruk karena konteks masing-masing tim berbeda. Beberapa klub memang sudah berstatus kandidat degradasi sebelum melakukan belanja besar sehingga aktivitas transfer sebenarnya merupakan respons terhadap masalah yang sudah ada.
Queens Park Rangers pada musim 2012/13 dan Portsmouth 2005/06 termasuk contoh klub yang melakukan banyak perubahan karena menghadapi kebutuhan mendesak. Artinya, hubungan antara aktivitas transfer dan hasil akhir tidak dapat dibaca sebagai hubungan sebab-akibat yang sederhana.
Tottenham tetap menjadi kasus menarik karena mereka bukan tim promosi dan pernah finis kelima pada Premier League 2023/24. Keputusan melakukan revolusi pemain karena itu bukan sekadar usaha bertahan di kasta tertinggi, tetapi juga upaya mempercepat jalan kembali menuju papan atas.
Kontinuitas Skuad Premier League dan Data Awal Musim
Pola serupa terlihat ketika performa seluruh peserta Premier League dibandingkan dengan proyeksi Opta sebelum musim dimulai. Dari delapan klub yang memberikan maksimal 10 kesempatan starter kepada pemain yang tidak membela mereka musim lalu, lima berada lebih tinggi dibanding perkiraan awal.
Situasinya hampir berlawanan pada klub-klub dengan tingkat perubahan besar karena delapan tim telah memberikan sedikitnya 13 kesempatan starter kepada pemain baru. Hanya satu di antaranya yang saat ini berada di posisi lebih tinggi dibanding prediksi superkomputer sebelum kompetisi dimulai.
Temuan itu membuat kontinuitas skuad menjadi salah satu variabel menarik untuk membaca performa awal Premier League 2026/27. Klub yang mempertahankan sebagian besar struktur permainan lama memiliki keuntungan karena tidak harus membangun hampir seluruh hubungan taktikal dari awal.
Namun, data lima pertandingan tentu belum cukup untuk menghasilkan kesimpulan mutlak karena kualitas lawan masing-masing klub berbeda. Cedera, kartu merah, efektivitas penyelesaian peluang hingga keberuntungan pertandingan juga dapat memengaruhi posisi klasemen dalam sampel yang sangat kecil.
Opta sendiri menyoroti beberapa pengecualian yang menunjukkan bahwa perombakan kecil juga tidak menjamin keberhasilan. Di Premier League, Bournemouth hanya memberikan lima kesempatan starter kepada pemain baru tetapi berada tujuh posisi lebih rendah dibanding proyeksi pramusim mereka.
Leeds United berada di sisi berlawanan karena mereka sudah memberikan 14 kesempatan starter kepada pemain baru tetapi justru berada 10 posisi di atas proyeksi awal. Dua kasus tersebut memperlihatkan kualitas perekrutan dan kecocokan pemain tetap mempunyai peran yang besar.
Artinya, persoalan sebenarnya bukan hanya berapa banyak pemain yang direkrut, melainkan seberapa cepat mereka dapat menjalankan tuntutan sistem. Tim yang memiliki konsep jelas dapat menyerap pemain baru lebih cepat dibanding klub yang masih mencari identitas permainan.
Revolusi Transfer Tidak Selalu Berakhir Buruk
Sejarah Premier League juga menyediakan contoh bahwa pergantian pemain besar-besaran bisa berhasil apabila klub memiliki strategi jangka panjang. Nottingham Forest melakukan aktivitas transfer masif setelah promosi pada 2022 dan pada akhirnya berhasil menjaga keberadaan mereka di kasta tertinggi.
Chelsea mengalami transformasi besar setelah Roman Abramovich mengambil alih klub, sementara Sunderland juga pernah mendapatkan manfaat setelah melakukan perubahan signifikan setelah promosi. Namun, keberhasilan semacam itu sering membutuhkan lebih banyak waktu dibanding harapan yang muncul sesaat setelah bursa transfer ditutup.
Forest menjadi contoh bagaimana tujuan sebuah overhaul juga harus diperhitungkan ketika menilai keberhasilannya. Klub promosi yang membangun skuad untuk bertahan mempunyai ukuran sukses berbeda dengan Tottenham yang secara historis memiliki ambisi kembali bersaing di papan atas.
Karena itu, nilai belanja tidak dapat berdiri sendiri sebagai indikator kualitas pembangunan tim. Transfer mahal akan memberikan keuntungan ketika pemain memenuhi kebutuhan taktikal tertentu, tetapi bisa menciptakan masalah baru jika terlalu banyak posisi penting berubah secara bersamaan.
Tottenham saat ini menghadapi persoalan tersebut karena perubahan terjadi hampir di seluruh struktur tim. Setiap pemain baru harus memahami metode De Zerbi sekaligus mempelajari kecenderungan rekan-rekan baru yang juga masih beradaptasi dengan lingkungan yang sama.
Dalam kondisi seperti itu, kesalahan kecil mudah berkembang menjadi masalah kolektif karena sebuah respons belum menjadi kebiasaan otomatis. Ketika pressing terlambat sepersekian detik, misalnya, pemain di belakang harus menyesuaikan posisi sehingga struktur seluruh tim bisa berubah.
Liverpool Membuktikan Nilai Kontinuitas
Liverpool menawarkan contoh berbeda mengenai bagaimana kontinuitas skuad dapat membantu menghasilkan keberhasilan. Dua gelar Premier League terakhir mereka datang setelah musim panas ketika aktivitas belanja klub relatif terbatas dibanding beberapa pesaing yang melakukan perekrutan besar.
Keuntungan Liverpool pada periode itu bukan berarti sebuah klub tidak perlu melakukan transfer, melainkan fondasi tim sudah terbentuk dengan sangat kuat. Pemain utama mengetahui peran masing-masing sehingga perubahan bisa dilakukan secara selektif tanpa mengubah terlalu banyak bagian sekaligus.
Namun, pengalaman Liverpool juga menunjukkan sisi lain dari kontinuitas karena mempertahankan struktur terlalu lama dapat menciptakan kebutuhan regenerasi yang lebih besar kemudian. Ketika mereka melakukan banyak perekrutan sebelum mempertahankan gelar musim lalu, performanya justru mengalami penurunan tajam.
Kondisi itu menunjukkan bahwa kontinuitas skuad bukan berarti mempertahankan semua pemain selama mungkin tanpa pembaruan. Tantangan sebuah klub adalah menentukan kapan harus mengganti bagian tertentu sebelum kebutuhan perubahan berubah menjadi renovasi besar sekaligus.
Tottenham sendiri pernah mengalami ekstrem sebaliknya ketika tidak mendatangkan satu pemain pun pada bursa musim panas Premier League 2018. Mereka menjadi klub Premier League pertama sejak jendela transfer diperkenalkan pada 2003 yang melewati musim panas tanpa satu perekrutan.
Mauricio Pochettino kemudian hanya bertahan sekitar 14 bulan setelah periode tersebut, menandai akhir salah satu fase Tottenham paling kompetitif di era modern. Contoh itu menjadi pengingat bahwa terlalu sedikit perubahan juga bisa sama berbahayanya dengan mengganti terlalu banyak pemain.
Arsenal Memilih Evolusi, Bukan Revolusi
Arsenal menawarkan pendekatan yang berada di tengah dua ekstrem tersebut dengan melakukan perekrutan secara bertahap sambil mempertahankan inti tim. Pendekatan itu memungkinkan pemain baru masuk ke sebuah struktur yang sudah memiliki pola permainan dan hubungan antarpemain cukup stabil di Premier League.
Bahkan ketika Arsenal mendatangkan banyak pemain pada musim panas sebelumnya, fondasi susunan utama mereka tetap relatif konsisten. Opta mencatat tidak ada pemain yang direkrut Arsenal pada musim panas 2025 yang menjadi bagian dari starting XI pilihan utama mereka pada awal musim ini.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemain baru tidak harus langsung menggeser pemain lama agar transfer dianggap berhasil. Kedalaman skuad, kompetisi internal dan proses adaptasi juga menjadi bagian investasi yang dapat memberikan keuntungan pada periode lebih panjang.
Pendekatan seperti ini mengurangi risiko sebuah tim harus mempelajari terlalu banyak hubungan baru sekaligus. Seorang pemain dapat masuk ke dalam sistem dengan delapan atau sembilan rekan yang sudah memahami struktur permainan, bukan bergabung bersama lima pemain baru lainnya.
Bagi klub papan atas, stabilitas tersebut sangat berharga karena tekanan mendapatkan hasil datang sejak pertandingan pertama. Tidak banyak ruang bagi sebuah klub yang memiliki target besar untuk kehilangan poin selama berbulan-bulan hanya karena skuad masih berada dalam proses saling memahami.
Masalah Tottenham Bukan Sekadar Kualitas Pemain
Situasi Tottenham karena itu tidak harus diartikan bahwa pemain yang didatangkan memiliki kualitas buruk. Persoalan yang lebih mendasar adalah seberapa cepat begitu banyak pemain dapat membentuk sebuah unit kompetitif dalam tuntutan Premier League yang sangat tinggi.
De Zerbi juga memiliki argumen kuat bahwa mempertahankan terlalu banyak bagian dari tim musim lalu bukan pilihan ideal. Tottenham dua kali finis ke-17 dan mengalami persoalan cedera serius sehingga kebutuhan meningkatkan kualitas skuad memang sulit dibantah.
Pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah Tottenham seharusnya menyebarkan perubahan tersebut dalam dua atau tiga jendela transfer. Pendekatan bertahap mungkin mempertahankan sebagian hubungan lama sambil memberi waktu pemain baru memahami gaya bermain yang diinginkan pelatih.
Sky Sports mencatat Spurs hanya mengumpulkan dua poin dan mencetak dua gol setelah lima pertandingan Premier League musim ini meskipun telah mengeluarkan lebih dari £300 juta. Mereka memasuki jeda internasional sebagai penghuni posisi terakhir setelah kalah 2-3 dari Aston Villa.
Catatan tersebut belum cukup untuk menentukan bagaimana proyek De Zerbi akan berakhir karena masih ada 33 pertandingan liga. Namun, buruknya start membuat Tottenham harus mengejar ketertinggalan ketika klub lain sudah memperoleh keuntungan poin sekaligus stabilitas permainan.
Dalam proyek jangka panjang, Tottenham mungkin tetap mendapatkan manfaat dari keputusan transfer musim panas jika pemain baru berkembang bersama selama beberapa tahun. Masalahnya, Premier League tidak memberikan masa adaptasi gratis karena setiap pekan buruk langsung berdampak terhadap posisi klasemen.
Apa Sebenarnya Resep Sukses Premier League?
Data awal musim memberikan indikasi bahwa kontinuitas skuad mempunyai nilai nyata, tetapi itu bukan resep tunggal memenangkan Premier League. Sebuah klub tetap membutuhkan kualitas pemain, strategi perekrutan tepat, kedalaman skuad, pelatih kompeten dan kondisi fisik yang mendukung sepanjang musim.
Kontinuitas menjadi penting karena memungkinkan seluruh faktor tersebut bekerja tanpa harus terus membangun hubungan permainan dari awal. Tim yang telah bermain bersama dalam waktu lama biasanya memiliki referensi yang sama ketika menghadapi situasi pertandingan yang berubah dengan cepat.
Namun, kontinuitas tanpa peningkatan kualitas juga berpotensi membuat tim stagnan ketika rival terus berkembang. Karena itu, klub perlu melakukan regenerasi secara berkelanjutan sehingga perubahan terjadi sebelum kebutuhan melakukan revolusi besar menjadi tidak terhindarkan.
Kasus Tottenham menghadirkan pelajaran penting mengenai keseimbangan tersebut setelah mereka memilih jalur perubahan ekstrem. Lebih dari £300 juta telah menghasilkan skuad yang secara individu berbeda jauh, tetapi sejauh ini belum menghasilkan tim yang secara kolektif lebih efektif.
Lima pertandingan tentu terlalu sedikit untuk menyatakan proyek tersebut gagal, sebagaimana data awal musim tidak cukup membuktikan bahwa setiap klub harus menghindari belanja besar. Akan tetapi, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa nilai transfer tidak dapat membeli pemahaman antarpemain secara instan.
Keberhasilan jangka panjang kemungkinan terletak pada keseimbangan antara memperbarui skuad dan menjaga kerangka yang sudah bekerja. Klub yang memahami kapan harus membeli, kapan mempertahankan pemain dan kapan memberikan waktu adaptasi memiliki peluang lebih besar menghindari siklus pembangunan ulang terus-menerus.
Tottenham sekarang menjadi eksperimen paling jelas mengenai batas perubahan itu di Premier League 2026/27. Apabila De Zerbi berhasil menyatukan seluruh pemain barunya, kritik awal mungkin terlihat prematur, tetapi jika kesulitan berlanjut, strategi revolusi satu musim akan kembali dipertanyakan.
Pada akhirnya, pasar transfer hanya menyediakan bahan bagi sebuah tim Premier League, bukan produk akhirnya. Kontinuitas skuad memberikan sesuatu yang tidak tercantum dalam laporan belanja klub: waktu, pemahaman, otomatisasi permainan, dan hubungan yang sering menentukan perbedaan antara kumpulan pemain mahal dengan sebuah tim.


