Close Menu
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
Home - Olahraga - Menang atas Inter, Jose Mourinho Punya PR Besar di Real Madrid

Menang atas Inter, Jose Mourinho Punya PR Besar di Real Madrid

  • September 9, 2026

Real Madrid membuka perjalanan Liga Champions 2026/27 dengan kemenangan 2-1 atas Inter Milan di Santiago Bernabéu, tetapi hasil itu justru memperlihatkan pekerjaan rumah besar bagi Jose Mourinho. Tiga poin didapat, namun kontrol permainan yang seharusnya menjadi fondasi kandidat juara belum terlihat meyakinkan sepanjang laga.

Dilansir ESPN, kemenangan Jose Mourinho menampilkan sisi terbaik sekaligus terburuk Madrid, karena tuan rumah unggul cepat meski Inter menguasai banyak aspek. Angka paling mencolok datang dari umpan menuju sepertiga akhir pada babak pertama, ketika Madrid hanya mencatat 15 berbanding 128 milik Inter.

Kylian Mbappé membuka skor pada menit ke-14 setelah umpan Curtis Jones membuat Yann Bisseck berada di bawah tekanan, lalu Brahim Díaz mengirim bola yang diselesaikan penyerang Prancis tersebut. Sembilan menit kemudian, Federico Valverde menggandakan keunggulan setelah menekan Josep Martínez dan memanfaatkan kesalahan penjaga gawang Inter.

Keunggulan 2-0 setelah 23 menit memberi kesan Real Madrid mengendalikan pertandingan, padahal alur sebenarnya justru berkebalikan karena Inter lebih tenang menguasai bola. Jose Mourinho mendapatkan efektivitas yang diinginkannya, tetapi belum memperoleh struktur permainan yang mampu membuat timnya mengatur tempo dan wilayah pertandingan.

Inter terus menekan dan menghasilkan 17 peluang sepanjang pertandingan, dengan empat di antaranya dikategorikan sebagai peluang besar dalam data Opta yang dikutip ESPN. Thibaut Courtois melakukan tujuh penyelamatan, sebelum Carlos Augusto akhirnya memperkecil skor pada menit ke-77 dan memaksa Bernabéu menjalani akhir pertandingan yang menegangkan.

Situasi tersebut membuat kemenangan ini penting sekaligus mengkhawatirkan bagi Jose Mourinho, sebab Madrid masih terlalu bergantung kepada kualitas individual pada dua ujung lapangan. Courtois menyelamatkan tim dari kerusakan lebih besar, sementara Mbappé kembali menunjukkan kemampuan mengubah kesalahan kecil lawan menjadi gol yang menentukan.

UEFA mengonfirmasi Mbappé dan Valverde sebagai pencetak gol tim Jose Mourinho, sedangkan Augusto mencetak gol Inter setelah menerima umpan Lautaro Martínez pada fase pertandingan. UEFA juga mencatat laga tersebut sebagai penampilan ke-100 Courtois di Liga Champions, tonggak yang datang bersama performa krusial sang penjaga gawang.

Valverde memang terpilih sebagai pemain terbaik pertandingan, tetapi kapten Madrid menilai penghargaan itu sangat layak dibagikan kepada Courtois karena sang kiper berkali-kali menyelamatkan tim. Ia bahkan mengatakan, “Dia menyelamatkan kami,” sebuah pengakuan yang memperlihatkan persoalan Jose Mourinho secara gamblang.

Real Madrid sebenarnya mempunyai kesempatan menambah gol sebelum turun minum melalui Mbappé dan Jude Bellingham, sementara Brahim Díaz juga mengenai tiang pada pengujung babak pertama. Setelah jeda, Bellingham kembali mengancam dan Mbappé memperoleh peluang lain, namun Josep Martínez menjaga tim Jose Mourinho tetap hidup.

Karena itu, persoalan Madrid bukan semata-mata kekurangan peluang, melainkan bagaimana Jose Mourinho mengubah tim bertabur pemain elite menjadi kesatuan yang mampu menguasai pertandingan. Serangan balik mereka berbahaya, tetapi terlalu banyak peluang tercipta setelah kesalahan lawan dan bukan melalui dominasi terstruktur yang berulang.

Komentar Valverde setelah pertandingan bahkan terdengar seperti evaluasi internal Jose Mourinho yang sangat terbuka, karena ia menilai Madrid kehilangan kesabaran ketika menguasai bola dan membuat pertandingan menjadi kacau. Ia menegaskan tim seharusnya mampu beristirahat dengan bola, terutama agar lini belakang tidak terus dipaksa bertahan.

Jose Mourinho menyebut pertandingan bisa saja berakhir 5-1, 6-1, bahkan 6-6 karena begitu terbukanya permainan dan banyaknya peluang di kedua sisi. Ia berkata, “Saya tidak suka kegilaan seperti itu,” lalu menegaskan lebih menginginkan kemenangan besar yang dibangun melalui kontrol penuh.

Ucapan tersebut penting karena menunjukkan Jose Mourinho memahami masalahnya bukan pada kualitas individu, melainkan pada cara Madrid mengelola pertandingan ketika momentum berubah. Tim ini dapat melukai lawan dengan cepat, tetapi belum konsisten menentukan kapan harus mempercepat permainan dan kapan harus menahan bola.

Sebelum pertandingan, Jose Mourinho sudah memperjelas prioritasnya setelah kekalahan di Betis dengan mengatakan bahwa ia ingin menang, bukan sekadar bermain bagus lalu kehilangan poin. Kalimat itu mendapat pembenaran dari skor akhir, walau proses selama 90 menit justru memperlihatkan mengapa kemenangan saja belum cukup.

Jose Mourinho Menang, tetapi Madrid Belum Terkendali

Laga melawan Inter juga datang hanya empat hari setelah kekalahan 0-1 dari Real Betis, ketika Madrid sebenarnya mendominasi tetapi gagal mengubah peluang menjadi gol. Reuters mencatat hasil itu memutus start sempurna Jose Mourinho setelah tiga kemenangan awal di La Liga musim 2026/27.

Empat hari sebelum menghadapi Inter, Mbappé melepaskan tujuh tembakan dengan expected goals pribadi 1,96 saat kalah dari Betis, termasuk penalti yang gagal dikonversi. Jose Mourinho kemudian melihat respons lebih tajam di Eropa, ketika tekanan Mbappé terhadap Bisseck menghasilkan gol pembuka hanya dalam 14 menit.

Kontras dua pertandingan itu menjelaskan paradoks Madrid saat ini, sebab mereka bisa bermain lebih baik tetapi kalah di Betis, kemudian tampil kurang terkendali tetapi menang atas Inter. Jose Mourinho mendapatkan hasil yang dibutuhkan di Eropa, namun proses permainan masih bergerak di antara dua kutub ekstrem.

Di La Cartuja, tim Jose Mourinho menguasai 58 persen bola, melepaskan 20 tembakan dan membukukan expected goals lebih dari tiga, tetapi tetap pulang tanpa poin. Mbappé bahkan gagal mengeksekusi penalti pada masa tambahan waktu, sedangkan Álvaro Valles menjadi penghalang terakhir bagi serangkaian peluang Madrid.

Empat hari kemudian, cerita berbalik total karena Madrid lebih banyak ditekan, tetapi dua kesalahan Inter segera dihukum menjadi gol sebelum laga berusia setengah jam. Bagi Jose Mourinho, dua pertandingan beruntun itu memperlihatkan bahwa efektivitas dan kontrol belum hadir pada malam yang sama.

Arda Güler absen akibat skorsing dan hanya muncul sebelum sepak mula untuk menerima Champions League Breakthrough Player Award musim lalu. Bernardo Silva juga belum tersedia, sehingga Jose Mourinho kehilangan dua pemain yang diproyeksikan memberi kreativitas serta kontrol lebih besar di lini tengah Madrid.

Kondisi itu membuat Trent Alexander-Arnold dimainkan di lini tengah, posisi yang bukan habitat utamanya dan membuat pengaruhnya tidak maksimal ketika Jose Mourinho memerlukan jalur progresi bola. Eks bek Liverpool itu tampak kesulitan membaca ruang, sementara Inter lebih nyaman membentuk sirkulasi di wilayah sentral.

Situasi tersebut menjadi pekerjaan taktik besar bagi Jose Mourinho karena lini tengah modern membutuhkan pemain yang bukan hanya mampu mengirim umpan panjang, tetapi juga tahan terhadap tekanan. Madrid harus memiliki penghubung antarlini yang dapat menjaga bola, mengatur ritme, dan membantu tim keluar dari tekanan lawan.

Ketika struktur itu tidak berjalan, Madrid cenderung melompat langsung dari fase bertahan menuju tiga penyerang dan berharap kualitas individu menyelesaikan sisanya. Strategi semacam ini bisa efektif pada pertandingan tertentu, tetapi terlalu berisiko jika Jose Mourinho ingin menembus fase akhir Liga Champions.

Mbappé tetap menjadi senjata paling mematikan karena ia mencetak 15 gol di Liga Champions musim lalu dan kembali membuka rekening gol Eropa musim ini. Menariknya, gol ke gawang Inter justru berawal dari kerja tanpa bola ketika ia menekan Bisseck hingga kehilangan ketenangan.

Menjelang laga, Mbappé juga menanggapi perbandingan dengan Dembélé dan Raphinha dengan menyebut dirinya mencetak lebih banyak gol, tetapi tetap mengakui masih perlu berkembang. Bagi Jose Mourinho, respons terbaik bukan lewat perdebatan, melainkan menjadikan kerja tanpa bola seperti saat gol pertama sebagai standar mingguan.

Respons itu relevan setelah Mbappé sebelumnya menepis perbandingan mengenai intensitas kerja penyerang modern seperti Ousmane Dembélé dan Raphinha, sembari mengakui dirinya masih harus berkembang. Bagi Jose Mourinho, tekanan Mbappé pada proses gol pertama merupakan contoh perilaku yang perlu direplikasi lebih konsisten.

Jika penyerang sekelas Mbappé dan Vinícius Júnior mau memimpin tekanan pertama, Madrid dapat mempersempit lapangan dan mengurangi beban gelandang serta bek ketika kehilangan bola. Namun apabila pressing hanya muncul sporadis, Jose Mourinho akan terus melihat lawan mendapatkan ruang untuk memasuki sepertiga akhir dengan terlalu mudah.

Vinícius mengalami malam yang lebih sulit dan mendapat siulan dari sebagian pendukung ketika diganti pada menit ke-87, sementara Mbappé juga mendengar reaksi serupa saat ditarik kemudian. Reaksi Bernabéu memperlihatkan bahwa kemenangan saja belum selalu cukup apabila permainan tim terlihat pasif dan rapuh.

Tekanan publik bukan hal baru bagi Jose Mourinho, terutama setelah periode pertamanya di Madrid pada 2010 hingga 2013 menghadirkan keberhasilan domestik dan tiga kegagalan di semifinal Liga Champions. Ia pernah mengangkat trofi Eropa di Bernabéu bersama Inter pada 2010, tetapi belum melakukannya sebagai pelatih Madrid.

Menjelang laga ini, Jose Mourinho mengatakan babak lama tersebut sudah tertutup dan ia tidak memandang Liga Champions sebagai utang yang wajib dibayar kepada Madrid. Namun kembalinya pelatih berusia matang dengan reputasi besar secara otomatis membuat ekspektasi Eropa kembali mengikuti setiap langkahnya.

Baru lima pertandingan kompetitif dijalani dalam periode kedua Jose Mourinho, termasuk satu laga Liga Champions, sehingga kesimpulan besar memang masih terlalu dini. Namun jika target akhirnya adalah final di Metropolitano Stadium pada Juni, Madrid membutuhkan lompatan kualitas sebelum berhadapan dengan lawan yang lebih klinis.

Jose Mourinho Harus Menemukan Identitas Real Madrid

Kemenangan Jose Mourinho atas Inter setidaknya memberi awal ideal dalam format fase liga, karena tiga poin pertama dapat mengurangi tekanan sebelum rangkaian lawan berikutnya. UEFA mencatat Madrid masih harus menghadapi Roma, RB Leipzig, AEK Athens, PSV Eindhoven, Arsenal, LASK, dan Shakhtar Donetsk pada fase ini.

Daftar tersebut menyediakan cukup banyak ujian bagi Jose Mourinho untuk menemukan formula terbaik sebelum pertandingan gugur dimulai, terutama ketika menghadapi lawan yang mempunyai kualitas pressing berbeda. Arsenal dan Roma berpotensi menjadi tes struktural, sedangkan laga lain akan menguji konsistensi Madrid saat dituntut mendominasi.

Prioritas pertama tentu mengembalikan kontrol lini tengah setelah Güler dan Bernardo Silva tersedia, lalu menentukan peran terbaik Alexander-Arnold tanpa mengorbankan kestabilan tim. Jose Mourinho juga perlu membangun pola progresi yang tidak selalu bergantung kepada transisi cepat atau kesalahan lawan di area berbahaya.

Prioritas berikutnya adalah menurunkan ketergantungan kepada Courtois, karena tujuh penyelamatan dalam laga kandang melawan rival elite bukan fondasi yang ideal untuk perjalanan panjang. Madrid memang memiliki salah satu penjaga gawang terbaik dunia, tetapi Jose Mourinho tidak bisa menjadikannya mekanisme pertahanan utama.

Hal serupa berlaku kepada Mbappé, sebab kemampuan penyerang Prancis itu mengubah peluang setengah matang menjadi gol merupakan kemewahan, bukan rencana permainan lengkap. Jose Mourinho membutuhkan kontribusi Bellingham, Vinícius, Brahim, Valverde, dan pemain lain agar ancaman Madrid tidak mudah dipetakan lawan.

Kabar positifnya, Madrid tetap memperlihatkan kapasitas menciptakan peluang besar meski permainan kolektif belum matang, sesuatu yang memberi ruang perbaikan tanpa harus menunggu hasil membaik lebih dahulu. Tim ini mempunyai kecepatan, kualitas penyelesaian, kiper elite, dan pengalaman untuk bertahan ketika berada di bawah tekanan.

Liga Champions biasanya menghukum kelemahan struktural lebih kejam ketika kompetisi memasuki fase gugur, karena lawan terbaik mampu mengeksploitasi ruang tanpa banyak kesempatan kedua. Jika Jose Mourinho tidak segera memperbaiki kontrol, kemenangan semacam ini bisa berubah menjadi kekalahan pada malam yang lebih menentukan.

Real Madrid memulai kompetisi dengan tiga poin, tetapi kemenangan atas Inter seharusnya dibaca sebagai peringatan dan bukan pernyataan kekuatan penuh. Jose Mourinho telah mendapatkan hasil yang diinginkan, sekarang tantangannya membangun identitas agar Madrid menang tanpa selalu membutuhkan penyelamatan Courtois atau ledakan Mbappé.

Preview Tottenham vs Aston Villa

Preview Tottenham vs Aston Villa: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

17 Sep 2026
Preview Brentford vs Chelsea

Preview Brentford vs Chelsea: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

17 Sep 2026
Preview AS Roma vs Inter Milan

Preview AS Roma vs Inter Milan: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

17 Sep 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.