Deportivo La Coruna kembali menjadi pembicaraan di sepak bola Spanyol setelah perjalanan panjang yang sempat membawa klub ini hingga kasta ketiga. Delapan tahun setelah meninggalkan La Liga, mereka kini kembali dengan sebuah proyek yang memunculkan ingatan terhadap kejayaan Super Depor.
Kebangkitan tersebut terasa semakin menarik karena Deportivo La Coruna tidak sekadar datang untuk bertahan hidup sebagai tim promosi. Enam pertandingan pertama musim 2026/27 menghasilkan sembilan poin, dengan dua kemenangan, tiga hasil imbang, dan baru satu kekalahan.
Catatan itu menempatkan Deportivo La Coruna di posisi ketujuh dengan sembilan gol dan tujuh kebobolan menjelang pekan ketujuh. Kekalahan 0-1 dari Sevilla menjadi noda pertama setelah mereka tidak terkalahkan dalam lima pertandingan pembuka.
Dilansir GOAL, perjalanan tersebut membuat tim Antonio Hidalgo mulai mendapatkan julukan “Super Depor 2.0”, meski musim masih sangat panjang. Julukan itu berangkat dari perpaduan hasil mengejutkan, investasi transfer yang terukur, dan munculnya kembali rasa percaya diri di Riazor.
Namun, kebangkitan Deportivo La Coruna tidak dapat dipahami hanya melalui enam pertandingan awal musim ini. Untuk melihat mengapa posisi ketujuh terasa begitu emosional, perjalanan harus ditarik kembali ke masa ketika klub tersebut pernah menjadi kekuatan nyata Spanyol dan Eropa.
Deportivo La Coruna Pernah Membuat Raksasa Spanyol Ketakutan
Pada periode 1991 hingga 2004, Deportivo La Coruna berubah dari klub yang baru kembali ke kasta tertinggi menjadi salah satu kekuatan utama Spanyol. Arsenio Iglesias membangun fondasi dengan pemain seperti Bebeto, Fran, Mauro Silva, Miroslav Dukic, dan Francisco Liano.
Generasi tersebut mengubah posisi Deportivo dari tim regional menjadi penantang gelar, sekaligus memenangi Copa del Rey pertama klub pada 1995. Setelah Iglesias mundur, John Toshack melanjutkan perkembangan dengan membawa Supercopa dan mendatangkan Rivaldo serta Noureddine Naybet.
Perubahan terbesar kemudian datang ketika Javier Irureta tiba setelah Deportivo La Coruna mengalami kemunduran pada akhir 1990-an. Irureta membangun tim yang disiplin, kuat di lini tengah, tetapi tetap memberikan kebebasan kepada pemain kreatif untuk menentukan pertandingan.
Formasi 4-2-3-1 menjadi fondasi utama, sementara nama seperti Roy Makaay, Diego Tristan, Juan Carlos Valeron, Joan Capdevila, Jorge Andrade, dan Aldo Duscher memperkuat kerangka lama. Filosofi tersebut membuat Deportivo lebih seimbang tanpa kehilangan keberanian menyerang.
Puncaknya terjadi pada musim 1999/2000 ketika Deportivo La Coruna akhirnya memenangi La Liga untuk pertama kalinya dalam sejarah. Gelar dipastikan melalui kemenangan 2-0 atas Espanyol dengan gol Donato dan Makaay pada pertandingan terakhir musim.
Makaay menjadi penyerang utama dengan 22 gol, sedangkan Djalminha dan Victor Sanchez menghadirkan kreativitas di belakangnya. Mauro Silva dan Flavio Conceicao menjaga keseimbangan lini tengah, sementara Donato memberikan pengalaman di pusat pertahanan sepanjang perjalanan menuju gelar.
Keberhasilan itu bukan letupan satu musim karena Deportivo kemudian terus menempati papan atas dan rutin tampil di Liga Champions. Mereka kembali finis kedua pada musim berikutnya dan membangun reputasi sebagai lawan yang tidak pernah nyaman dihadapi klub-klub terbesar Eropa.
Salah satu malam terbesar datang pada April 2004 ketika Deportivo La Coruna menghadapi AC Milan di perempat final Liga Champions. Mereka tertinggal agregat setelah kalah 1-4 di San Siro, membuat peluang lolos terlihat hampir mustahil sebelum leg kedua.
Riazor kemudian menyaksikan salah satu kebangkitan terbesar dalam sejarah kompetisi karena Deportivo menang 4-0 melalui Walter Pandiani, Valeron, Albert Luque, dan Fran. UEFA mencatat mereka menjadi tim pertama era Liga Champions yang membalikkan defisit tiga gol dari leg pertama.
Deportivo La Coruna akhirnya terhenti di semifinal setelah kalah agregat 0-1 dari Porto asuhan Jose Mourinho, tetapi malam melawan Milan menjadi simbol generasi tersebut. Super Depor telah membuktikan klub dengan sumber daya lebih kecil mampu berdiri sejajar dengan elite Eropa.
Deportivo La Coruna Jatuh dari Eropa hingga Kasta Ketiga
Era emas itu perlahan berakhir ketika skuad menua dan kemampuan finansial klub tidak mampu mengikuti tuntutan kompetisi elite. Irureta mundur setelah musim 2004/05, sementara aliran pendapatan Liga Champions yang sebelumnya menopang model bisnis klub mulai mengering.
Pengelolaan keuangan pada periode berikutnya membuat Deportivo La Coruna semakin terbebani utang dan terpaksa melepas pemain penting. Klub kemudian masuk proses administrasi pada 2013 dengan utang yang disebut mencapai €156 juta, menandai perubahan dramatis dari masa kejayaan Eropa.
Masalah di lapangan bergerak searah dengan tekanan finansial karena Deportivo terdegradasi dari La Liga pada 2011, 2014, dan 2018. Siklus naik-turun tersebut semakin merusak stabilitas sampai akhirnya mereka jatuh ke kasta ketiga pada musim panas 2020.
Degradasi 2020 juga diwarnai kontroversi setelah pertandingan terakhir melawan Fuenlabrada ditunda akibat kasus Covid-19 di kubu lawan. Hasil tim lain memastikan Deportivo turun sebelum laga dimainkan, sementara banding klub kepada otoritas sepak bola dan arbitrase akhirnya tidak berhasil.
Di tengah krisis tersebut, Abanca mengambil kendali melalui konversi utang menjadi saham pada Juli 2020. Bank asal Galicia itu mengonversi sekitar €35 juta menjadi ekuitas dan menjadi pemegang saham utama, membuka jalan bagi restrukturisasi finansial yang lebih terkontrol.
Operasi tersebut menjadi salah satu titik terpenting dalam pemulihan Deportivo La Coruna karena masalah klub tidak mungkin diselesaikan melalui hasil pertandingan semata. Restrukturisasi memberikan ruang bagi manajemen untuk membangun kembali organisasi tanpa terus dihantui tekanan utang jangka pendek.
Tetapi perjalanan kembali tidak berlangsung cepat karena Deportivo gagal promosi dari kasta ketiga selama dua musim beruntun. Basis suporter tetap bertahan melalui konsep Deportivismo, pengabdian yang membuat hubungan klub dengan masyarakat Galicia tetap kuat ketika prestasi berada di titik terendah.
Imanol Idiakez kemudian membawa perubahan ketika ditunjuk pada 2023 dan mengantar Deportivo menjuarai Primera Federacion. Tendangan bebas Lucas Perez melawan Barcelona B menjadi salah satu simbol kebangkitan, sebelum musim pertama kembali di Segunda digunakan sebagai fase konsolidasi.
Tongkat estafet akhirnya sampai kepada Antonio Hidalgo, pelatih yang memiliki latar belakang pendidikan sepak bola Barcelona melalui La Masia. Ia tidak sekadar membangun tim untuk menang, tetapi menggabungkan struktur pragmatis dengan tekanan agresif setelah kehilangan bola.
Pendekatan Hidalgo menghasilkan promosi setelah Deportivo La Coruna finis kedua di Segunda musim 2025/26 di belakang Racing Santander. Tiket La Liga dipastikan melalui kemenangan 2-0 atas Real Valladolid, dengan Bil Nsongo mencetak dua gol dalam pertandingan penentu.
CEO Massimo Benassi menggambarkan arti promosi tersebut lebih luas daripada sebuah pencapaian olahraga karena kota telah menunggu selama delapan tahun. Menurutnya, setiap hari tanpa La Liga terasa seperti ada sesuatu yang hilang dari kehidupan Deportivo dan A Coruna.
Deportivo La Coruna Bangun Super Depor Baru dengan Cara Berbeda
Kembalinya Deportivo La Coruna tidak disambut dengan belanja tanpa perhitungan, meski daftar rekrutannya terlihat sangat ambisius. Klub mencampurkan pemain muda berpotensi tinggi dengan sosok berpengalaman yang sudah memahami tuntutan kompetisi elite Eropa.
Leo Roman menjadi investasi terbesar di posisi penjaga gawang, sementara Jonathan Asp Jensen, Bright Ede, dan Lorenzo Amatucci menambah kualitas pemain muda. Daftar transfer publik juga mencatat Pierre-Emerick Aubameyang datang dari Marseille dengan nilai sekitar €1,5 juta.
Deportivo La Coruna kemudian menambahkan pengalaman melalui Adama Traore, Angeliño, Jose Maria Gimenez, dan Marc Casado. Tiga nama terakhir memberikan kualitas dari klub besar, sedangkan Casado datang dari Barcelona dengan status pinjaman dan opsi pembelian.
Sumber awal mencatat sekitar 10 pemain baru didatangkan dengan pengeluaran di kisaran €25 juta, sebuah angka yang relatif terkendali untuk perubahan skuad sebesar itu. Model tersebut menunjukkan Deportivo berusaha meningkatkan kualitas tanpa mengulangi risiko finansial pada masa lalu.
Aubameyang menjadi perekrutan yang paling menyita perhatian karena usianya sudah 37 tahun ketika memilih bergabung. Meski melewati masa puncak, penyerang berpengalaman tersebut datang setelah masih mampu mencetak 10 gol di Ligue 1 pada musim sebelumnya.
Namun, fungsi Aubameyang lebih luas daripada sekadar memberikan angka gol karena Deportivo La Coruna membutuhkan sosok yang memahami tekanan level tertinggi. Pengalaman membela Borussia Dortmund, Arsenal, Barcelona, Chelsea, dan Marseille memberi ruang bagi Hidalgo untuk membimbing skuad muda melalui figur yang sudah teruji.
Hal serupa berlaku pada Gimenez yang membawa pengalaman bertahun-tahun bersama Atletico Madrid dan Angeliño yang sudah berkeliling berbagai kompetisi Eropa. Casado memberikan profil berbeda sebagai gelandang pengatur tempo dengan energi tinggi dan pendidikan posisi yang kuat dari Barcelona.
Hidalgo sejak awal menegaskan bahwa kedatangan nama besar tidak boleh mengubah prinsip proyek yang membawa Deportivo La Coruna kembali ke La Liga. Pengalaman para pemain senior menurutnya harus digunakan untuk membantu generasi muda menghadapi tuntutan kompetisi, bukan mengganti identitas tim.
Pendekatan itu menjelaskan mengapa istilah Super Depor baru tidak berarti menyalin tim tahun 2000 secara mentah. Deportivo masa kini tidak mempunyai kapasitas finansial untuk bersaing langsung dengan Real Madrid atau Barcelona, sehingga keunggulannya harus datang melalui pembangunan skuad yang lebih efisien.
Deportivo La Coruna dan Tanda Awal Super Depor 2.0
Lima pertandingan pertama memberikan alasan untuk percaya bahwa proses pembangunan tersebut berjalan lebih cepat daripada perkiraan. Deportivo La Coruna membuka musim tanpa kekalahan melalui tiga hasil imbang serta kemenangan atas Valencia dan Villarreal sebelum akhirnya ditundukkan Sevilla.
Mereka bermain imbang dengan Elche, Malaga, dan Getafe, tetapi kemenangan 3-1 atas Valencia memberikan sinyal awal mengenai kapasitas tim. Hasil 3-2 di kandang Villarreal kemudian menjadi pernyataan lebih besar karena Deportivo mampu menang dalam pertandingan dengan tekanan tinggi.
Aubameyang menjadi figur paling menonjol dalam kemenangan atas Villarreal setelah mencetak satu gol dan menciptakan dua assist. Deportivo tidak menguasai pertandingan sepenuhnya, tetapi tampil jauh lebih efektif dalam memanfaatkan ruang dan peluang yang diperoleh sepanjang laga.
Sumber awal juga mencatat Aubameyang mencetak gol dalam masing-masing lima pekan pertama, menyamai pencapaian yang terakhir dilakukan Zlatan Ibrahimovic bersama Barcelona pada 2009/10. Produktivitas tersebut memperlihatkan bahwa keputusan mengambil risiko terhadap penyerang berusia 37 tahun langsung menghasilkan imbalan.
Hidalgo memberikan pujian besar terhadap profesionalisme Aubameyang, bukan hanya penyelesaian akhirnya di depan gawang. Pelatih Deportivo mengatakan sang penyerang tidak pernah melewatkan latihan, bekerja sangat keras, dan masih memiliki kualitas khusus yang membedakannya dari pemain lain.
Tetapi Deportivo La Coruna tidak hanya bergantung kepada satu veteran karena Luismi Cruz kembali menjadi sumber kreativitas penting dalam serangan. Amatucci juga beradaptasi cepat di lini tengah, sedangkan Leo Roman memberikan stabilitas sebagai penjaga gawang utama setelah kedatangannya dari Mallorca.
Casado baru mendapatkan kesempatan terbatas setelah datang pada akhir bursa transfer, tetapi kehadirannya menambah kualitas distribusi dan intensitas lini tengah. Gimenez juga baru menjalani beberapa penampilan awal, sehingga struktur terbaik Hidalgo bahkan belum sepenuhnya terbentuk.
Kekalahan dari Sevilla memberi pengingat bahwa narasi Super Depor 2.0 tetap harus ditempatkan dalam konteks yang wajar. Deportivo tertinggal melalui gol Miguel Sierra pada menit ke-52, kemudian kehilangan Angeliño karena kartu merah sebelum akhirnya kalah 0-1 di Riazor.
Hasil tersebut sekaligus menghentikan rekor tidak terkalahkan, tetapi tidak menghapus pekerjaan positif dalam enam pertandingan pertama. Dengan sembilan poin, Deportivo La Coruna tetap berada di posisi ketujuh dan hanya sekali kalah setelah kembali ke kasta tertinggi.
Tantangan berikutnya justru lebih berat karena Deportivo dijadwalkan menerima Real Betis di Riazor pada Minggu, 20 September 2026. La Liga mencatat Betis datang dengan posisi lebih tinggi, sehingga pertandingan tersebut menjadi ujian penting terhadap kemampuan Hidalgo menjaga momentum setelah kekalahan pertama.
Posisi ketujuh setelah enam pertandingan tentu terlalu dini untuk menjadikan Deportivo La Coruna kandidat kompetisi Eropa. Namun, sembilan poin dari kemungkinan 18 sudah memberikan bantalan awal yang berharga bagi klub promosi yang sasaran pertamanya tetap membangun keberlanjutan di kasta tertinggi.
Yang membuat kebangkitan ini terasa berbeda adalah Deportivo tidak membangun harapan hanya melalui nostalgia masa lalu. Struktur finansial lebih terkendali, perpaduan pemain muda dan senior terlihat seimbang, sementara Hidalgo memiliki gagasan permainan yang cukup jelas untuk memaksimalkan sumber daya tersebut.
Suporter bahkan memilih menghidupkan identitas Galicia dengan penggunaan nama A Coruna, sebuah detail yang memperlihatkan bagaimana kebangkitan klub juga menyentuh identitas lokal. Di tengah perubahan itu, nilai yang dahulu melahirkan Super Depor mulai kembali terasa di sekitar Riazor.
Hidalgo memilih menahan euforia dengan menekankan kerendahan hati karena musim masih sangat panjang dan tingkat kesulitan akan terus meningkat. Ia ingin Deportivo datang setiap pekan dengan keyakinan tinggi, tetapi tetap memahami bahwa posisi mereka belum memberikan jaminan apa pun.
Deportivo La Coruna memang belum kembali menjadi kekuatan seperti tim Makaay, Valeron, Mauro Silva, atau Djalminha pada awal 2000-an. Namun, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, pembicaraan mengenai masa depan klub tidak lagi didominasi utang, degradasi, dan kegagalan promosi.
Super Depor generasi pertama dibangun melalui keberanian menantang struktur kekuasaan sepak bola Spanyol, kemudian meninggalkan malam-malam Eropa yang masih dikenang hingga sekarang. Generasi baru memiliki jalan berbeda, tetapi awal musim ini memberi bukti bahwa Deportivo La Coruna akhirnya bergerak ke arah yang sama.
Belum ada alasan untuk berbicara mengenai gelar atau menganggap tiket Eropa sebagai target yang sudah realistis setelah enam pertandingan. Namun, perjalanan dari kasta ketiga menuju posisi ketujuh La Liga menjelaskan mengapa setiap kemenangan kini terasa seperti bagian dari kelahiran kembali sebuah klub besar.
Deportivo La Coruna telah kembali ke La Liga, tetapi cerita sebenarnya bukan sekadar promosi setelah delapan tahun menghilang. Super Depor mungkin belum benar-benar lahir kembali, tetapi fondasi untuk membangun sesuatu yang istimewa mulai terlihat lagi di Riazor.


