Close Menu
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
Home - Olahraga - René Higuita: Kiper Revolusioner, Pablo Escobar, Penjara, dan Scorpion Kick

René Higuita: Kiper Revolusioner, Pablo Escobar, Penjara, dan Scorpion Kick

  • September 21, 2026

Nama René Higuita selalu membawa dua gambaran yang bertolak belakang dalam sejarah sepak bola. Ia adalah kiper revolusioner yang berani bermain dengan kaki, tetapi kehidupan di luar lapangan menyeretnya ke lingkaran Pablo Escobar dan perkara penculikan.

Bagi sebagian penggemar, José René Higuita Zapata akan selamanya dikenang melalui aksi scorpion kick di Wembley pada 1995. Namun, kisah hidup mantan kiper Timnas Kolombia tersebut jauh lebih rumit dibandingkan satu penyelamatan spektakuler yang kemudian menjadi ikon sepak bola dunia.

Laporan GOAL menggambarkan René Higuita sebagai figur yang sulit ditempatkan dalam satu kategori: jenius, nekat, kontroversial, sekaligus sangat berpengaruh terhadap perkembangan posisi penjaga gawang. Kariernya bahkan mencakup lebih dari 40 gol, keberanian meninggalkan kotak penalti, hingga hubungan kontroversial dengan Pablo Escobar.

Higuita muncul ketika tugas penjaga gawang masih sangat konservatif, jauh sebelum konsep sweeper-keeper menjadi bagian normal sepak bola modern. Ia tidak hanya menjaga gawang, tetapi ikut memulai serangan, menggiring bola, mengambil penalti, mengeksekusi tendangan bebas, bahkan maju hingga wilayah lawan.

Dari Penyerang Jalanan Menjadi Kiper yang Mengubah Cara Bermain

René Higuita dibesarkan oleh neneknya setelah kehilangan sang ibu ketika masih kecil dan menghabiskan banyak waktu bermain sepak bola di jalanan Medellín. Menariknya, posisi awal Higuita bukan penjaga gawang, melainkan pemain depan, sesuatu yang kemudian ikut membentuk karakter permainannya.

Perubahan terjadi ketika kiper tim sekolahnya mengalami cedera dalam sebuah turnamen lokal dan Higuita diminta menggantikannya. Timnya kemudian memenangkan kompetisi tersebut, sementara naluri seorang penyerang yang sudah terbentuk dalam dirinya tidak pernah benar-benar hilang setelah berpindah posisi.

Setelah menjalani periode singkat bersama Millonarios, karier Higuita mulai menemukan jalannya ketika Atlético Nacional merekrutnya pada 1986. Di sana, karakter yang kemudian membuatnya terkenal mulai terlihat: agresif keluar dari gawang, berani menguasai bola dan tidak takut mengambil risiko.

Kiper dengan tinggi sekitar 175 sentimeter itu tidak memiliki postur raksasa sebagaimana banyak penjaga gawang elite. Namun, keterbatasan fisik tersebut digantikan oleh keberanian membaca permainan dan keyakinannya bahwa seorang kiper tidak harus berhenti berkontribusi setelah melakukan penyelamatan.

Ia sering keluar hingga jauh dari kotak penalti untuk memotong serangan, kemudian membawa bola sendiri sebelum mengirim umpan kepada rekan setim. Pada masa itu, pendekatan seperti tersebut terlihat ekstrem karena mayoritas penjaga gawang memilih membuang bola secepat mungkin dari wilayah berbahaya.

FIFA kemudian menyebut Higuita sebagai salah satu pionir penjaga gawang modern karena keberaniannya menggiring bola dan membangun serangan dari belakang. Filosofi semacam itu kini menjadi sesuatu yang lazim pada kiper modern, terutama di tim yang mengandalkan penguasaan bola.

Pengaruh Higuita tidak berarti dirinya secara langsung membuat FIFA mengubah peraturan sepak bola, seperti terkadang digambarkan secara berlebihan. Namun, gaya permainannya memperlihatkan lebih awal bagaimana seorang penjaga gawang dapat berfungsi sebagai pemain tambahan ketika tim membangun serangan.

Copa Libertadores 1989 dan Lahirnya Legenda Atlético Nacional

Puncak pertama perjalanan René Higuita terjadi pada Copa Libertadores 1989 ketika Atlético Nacional menghadapi Olimpia dalam partai final. Klub Kolombia tersebut tertinggal 0-2 dari pertandingan pertama di Paraguay, sebelum menyamakan agregat pada leg kedua dan memaksakan adu penalti.

Di babak penentuan itulah karakter Higuita benar-benar terlihat, bukan hanya karena kemampuannya menghadapi eksekutor lawan. Sang kiper bahkan mengambil sendiri salah satu penalti Atlético Nacional dan berhasil menjalankan tugasnya sebelum tim Kolombia akhirnya memenangkan adu penalti 5-4.

Gelar tersebut memiliki nilai sejarah sangat besar karena Atlético Nacional menjadi klub Kolombia pertama yang menjuarai Copa Libertadores. CONMEBOL hingga kini masih memperkenalkan Higuita sebagai salah satu legenda Atlético Nacional yang memenangkan kompetisi paling bergengsi di Amerika Selatan pada 1989.

Keberhasilan itu membawa Atlético Nacional berhadapan dengan AC Milan dalam Piala Interkontinental pada tahun yang sama. Tim Kolombia mampu bertahan menghadapi skuad bertabur bintang seperti Marco van Basten, Frank Rijkaard, Paolo Maldini dan Franco Baresi sampai akhirnya Alberigo Evani mencetak gol kemenangan Milan pada penghujung perpanjangan waktu.

Kesuksesan Atlético Nacional kemudian menjadi fondasi penting Timnas Kolombia menjelang Piala Dunia 1990. Francisco Maturana menangani klub sekaligus tim nasional, sementara sejumlah besar pemain Atlético Nacional dibawa ke Italia, termasuk René Higuita sebagai penjaga gawang utama.

Kolombia tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya setelah absen selama 28 tahun dan berhasil mencapai babak 16 besar. FIFA mencatat Higuita sebagai bagian skuad yang mengalahkan Uni Emirat Arab, kalah dari Yugoslavia, kemudian menahan Jerman Barat untuk lolos dari fase grup.

Namun, pertandingan melawan Kamerun kemudian memperlihatkan sisi lain filosofi permainannya. Higuita kehilangan bola jauh dari gawang setelah mendapat tekanan Roger Milla, memberikan kesempatan kepada penyerang Kamerun tersebut mencetak gol dalam kemenangan 2-1 setelah perpanjangan waktu.

Mantan kiper Kamerun Thomas N’Kono bertahun-tahun kemudian mengungkapkan timnya memang mengetahui kecenderungan Higuita bermain jauh dari garis gawang dan mengambil risiko. Roger Milla disebut cukup cerdas membaca kemungkinan tersebut dan akhirnya memanfaatkannya pada momentum paling menentukan.

Kesalahan itu menjadi ilustrasi sempurna dari René Higuita sebagai penjaga gawang: gaya bermain yang memberinya keunggulan sekaligus dapat menciptakan bencana. Ia tidak mengubah karakternya hanya karena risiko tersebut pernah membuat Kolombia tersingkir dari Piala Dunia.

Ketika Sepak Bola Kolombia Bersinggungan dengan Pablo Escobar

Untuk memahami kontroversi René Higuita, perjalanan sepak bola Kolombia pada akhir 1980-an dan awal 1990-an tidak bisa dipisahkan dari situasi sosial negara tersebut. Uang kartel narkoba ketika itu telah memasuki berbagai bagian masyarakat, termasuk industri sepak bola profesional.

Nama Pablo Escobar menjadi pusat perhatian karena pemimpin Kartel Medellín itu memiliki hubungan dengan sejumlah figur sepak bola. Higuita secara terbuka mengakui mengenal Escobar dan bahkan pernah mengunjunginya ketika sang gembong narkoba berada di kompleks penjara La Catedral.

Hubungan itu membuat Higuita mendapat kritik karena Escobar bukan sekadar figur populer di Medellín, melainkan pemimpin organisasi kriminal yang bertanggung jawab atas kekerasan besar di Kolombia. Namun, Higuita berkali-kali menyatakan hubungan pribadinya tidak berarti dirinya terlibat dalam aktivitas kriminal Escobar.

Escobar menyerahkan diri kepada pemerintah Kolombia pada 1991 dan ditempatkan di La Catedral, fasilitas yang sebagian besar dibangun menurut ketentuan yang dinegosiasikannya sendiri. Kondisi penjara tersebut kemudian menjadi kontroversi dan Escobar melarikan diri pada Juli 1992 ketika pemerintah berusaha memindahkannya.

Higuita sendiri tidak pernah menyembunyikan bahwa dirinya mengenal Escobar. Dalam dokumenter Higuita: The Way of the Scorpion, ia mengenang bahwa dirinya tetap mengakui persahabatan tersebut ketika banyak orang lain mulai menjaga jarak setelah kekuasaan kriminal Escobar semakin terbuka.

Kontroversi lama tersebut bahkan kembali mendapatkan perhatian pada 2026 akibat persoalan sebuah rumah atas nama Higuita dan anggota keluarganya. Pengadilan di Medellín pada 3 Juli 2026 mengeluarkan putusan tingkat pertama dalam proses penyitaan aset terkait asal-usul properti tersebut.

Menurut Sociedad de Activos Especiales Kolombia, sejarah kepemilikan rumah itu berkaitan dengan aset yang disebut berasal dari jaringan Kartel Medellín. Higuita mengatakan dirinya tidak mengetahui latar belakang tersebut ketika mendapatkan properti itu, sementara proses hukumnya belum berkekuatan hukum tetap pada Juli 2026.

Artinya, perkembangan tersebut harus ditempatkan secara hati-hati dan tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa Higuita terlibat dalam bisnis narkotika. Perkara tersebut adalah proses mengenai asal-usul aset, sedangkan Higuita menyatakan tidak mengetahui riwayat properti ketika transaksi dilakukan.

Penculikan yang Membawa René Higuita ke Penjara

Bagian paling kelam perjalanan René Higuita terjadi pada 1993, ketika seorang remaja putri dari keluarga Luis Carlos Molina diculik di Medellín. Molina ketika itu dikenal sebagai figur yang memiliki hubungan dengan lingkungan Kartel Medellín dan persoalan tersebut berkembang menjadi kasus besar.

Menurut penuturan Higuita, dirinya diminta menjadi perantara karena dianggap memiliki nama besar dan dihormati pihak-pihak yang terlibat. Ia mengatakan menerima permintaan tersebut dengan tujuan membantu memastikan korban dapat kembali kepada keluarganya dalam keadaan selamat.

Higuita akhirnya terlibat dalam proses penyerahan uang tebusan dan kemudian membawa korban kembali kepada keluarganya setelah dibebaskan. Menurut versinya, keluarga korban kemudian memberikan uang sekitar 50.000 dolar AS sebagai bentuk terima kasih meskipun ia sempat menolaknya.

Keputusan menerima uang tersebut kemudian menimbulkan persoalan hukum karena Kolombia memiliki undang-undang keras terkait penculikan dan keterlibatan dalam pembayaran tebusan. Higuita ditangkap pada Juni 1993 dan ditahan ketika Timnas Kolombia sedang bersiap menjalani kualifikasi Piala Dunia 1994.

Catatan kontemporer El País menyebut Higuita sudah berada dalam tahanan sejak Juni dan memperoleh pembebasan bersyarat menjelang pergantian tahun. Arsip El Tiempo dan putusan yang diberitakan kemudian menunjukkan ia bebas pada 3 Januari 1994 setelah menghabiskan lebih dari enam bulan di tahanan.

Data tersebut berbeda dengan laporan GOAL terbaru yang menyebut Higuita menjalani sembilan bulan di penjara. Berdasarkan kronologi penangkapan pada Juni 1993 dan pembebasan pada awal Januari 1994, masa tahanan yang terdokumentasi lebih dekat kepada tujuh bulan daripada sembilan bulan.

Selama berada di penjara Modelo, Higuita bahkan melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk protes terhadap proses hukum yang menimpanya. El País melaporkan pada Desember 1993 bahwa aksi tersebut berlangsung sekitar dua pekan sebelum dirinya kembali menjalani rutinitas makan dan latihan.

Kasus tersebut pada akhirnya tidak menghasilkan vonis bersalah terhadap Higuita. Bertahun-tahun kemudian, pengadilan administratif Kolombia bahkan memutuskan negara harus memberikan kompensasi atas penahanan tersebut setelah proses terhadapnya berakhir tanpa hukuman.

Dampak terbesar dari episode tersebut terjadi terhadap karier internasionalnya karena Higuita kehilangan momentum menuju Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Kolombia memasuki turnamen itu setelah menghasilkan salah satu periode kualifikasi paling mengesankan dalam sejarah sepak bola negara tersebut.

Scorpion Kick yang Mengabadikan Namanya

René Higuita kemudian kembali ke lapangan dan pada 6 September 1995 menghasilkan momen yang akan terus diputar selama sepak bola masih dimainkan. Dalam laga persahabatan Inggris melawan Kolombia di Wembley, ia melakukan penyelamatan menggunakan kedua tumitnya sambil menjatuhkan badan ke depan.

Bola kiriman Jamie Redknapp sebenarnya dapat ditangani dengan cara konvensional, tetapi Higuita memilih gerakan yang kemudian dikenal sebagai scorpion kick. FIFA mencatat aksi tersebut terjadi dalam pertandingan yang berakhir tanpa gol dan kemudian menjadi salah satu penyelamatan paling terkenal dalam sejarah.

Gerakan tersebut bukan improvisasi yang muncul secara kebetulan pada malam pertandingan. Higuita kemudian menjelaskan dirinya telah memikirkan dan melatih teknik itu selama bertahun-tahun sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan yang dianggap tepat untuk melakukannya di Wembley.

“Gerakan itu membantu menempatkan Kolombia dan saya di peta,” kata Higuita dalam kenangan yang kembali dipublikasikan FIFA pada peringatan 25 tahun scorpion kick.

Namun, membatasi warisan René Higuita hanya kepada scorpion kick justru menghilangkan bagian paling penting dari kariernya. Jauh sebelum kiper modern dituntut mampu mengoper, mengambil posisi tinggi dan menjadi bagian dari fase build-up, Higuita sudah memainkan sepak bola dengan konsep serupa.

Itulah alasan pengaruh Higuita terasa lebih relevan pada sepak bola modern dibandingkan ketika dirinya masih aktif. Manuel Neuer, Ederson, Alisson Becker dan generasi penjaga gawang modern bekerja dalam sistem berbeda, tetapi gagasan bahwa kiper dapat menjadi pemain ke-11 dalam penguasaan bola sudah diperlihatkan Higuita beberapa dekade sebelumnya.

Perbedaannya, Higuita melakukan semuanya dengan batas risiko yang jauh lebih tinggi. Ia mengambil penalti, tendangan bebas, menggiring melewati lawan dan berlari ke area yang pada zamannya hampir dianggap terlarang bagi seorang penjaga gawang.

Catatan statistik internasional RSSSF mencatat René Higuita memainkan 68 pertandingan bersama Kolombia dan mencetak tiga gol untuk tim nasional. Jumlah itu memperlihatkan betapa tidak lazimnya profilnya karena sangat sedikit penjaga gawang internasional yang juga memiliki kontribusi gol.

Pada akhirnya, René Higuita adalah gambaran sepak bola Kolombia pada sebuah zaman yang penuh paradoks: kreatif sekaligus kacau, indah tetapi berada dekat dengan kekerasan sosial. Kariernya tidak dapat dipisahkan dari Atlético Nacional, generasi emas Kolombia, Pablo Escobar, penjara maupun momen luar biasa di Wembley.

Scorpion kick mungkin menjadi gambar yang paling mudah dikenang, tetapi warisan terbesar René Higuita sebenarnya terletak pada keberaniannya mempertanyakan batas posisi penjaga gawang. Kesalahan dan kontroversinya tidak menghilang, tetapi pengaruhnya terhadap cara kiper modern memainkan sepak bola juga sulit dibantah.

Manchester United Masuk Titik Kritis: Lima Poin, Masalah Energi, dan Ujian Berat Michael Carrick

21 Sep 2026

René Higuita: Kiper Revolusioner, Pablo Escobar, Penjara, dan Scorpion Kick

21 Sep 2026

Derby Madrid Berujung Badai Wasit, Tiga Keputusan Kontroversial Picu Murka Mourinho

21 Sep 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.