Gemma Darvill tidak pernah membayangkan pengalaman mendampingi ayahnya yang hidup dengan Parkinson akan membawanya memimpin tim nasional. Dari lapangan walking football sederhana, kisah keluarga itu berkembang menjadi gerakan yang menyatukan olahraga, kesehatan, dan solidaritas perempuan.
Perjalanan Gemma Darvill bermula ketika ayahnya, Les, didiagnosis Parkinson pada usia 58 tahun dan perlahan menarik diri dari kehidupan sosial. Ia berhenti menonton Tottenham, menjauh dari teman, bahkan sempat kesulitan menemukan alasan untuk meninggalkan rumah.
Situasi berubah setelah keluarga menemukan sesi walking football di Fighting Fit Football yang berlatih di kompleks latihan Watford. Gemma Darvill membawa Les ke sana, lalu melihat sendiri bagaimana rutinitas, pertemanan, dan tujuan baru membuat ayahnya kembali aktif.
Kepada The Guardian, Gemma Darvill menggambarkan perubahan itu dengan kalimat sangat personal: “Sepak bola benar-benar menyelamatkan hidupnya.” Pengalaman tersebut kemudian menjadi fondasi keputusan Darvill membantu orang lain menghadapi diagnosis Parkinson dengan kehidupan lebih terbuka.
Delapan tahun setelah diagnosis Les, Gemma Darvill kini menjadi pelatih tim walking football perempuan Parkinson pertama Inggris. Tugasnya bukan sekadar menyusun taktik, karena tim itu juga membawa pesan bahwa diagnosis neurologis tidak otomatis menghapus kesempatan untuk bergerak, berkompetisi, dan membangun komunitas.
Gemma Darvill dan Awal Lahirnya Parkinson’s Pioneers
Gemma Darvill sendiri bekerja sebagai guru di Swallowfield Primary School, Woburn Sands, Milton Keynes, sekaligus memiliki latar panjang sebagai pemain dan pelatih sepak bola. Ia sudah bermain sejak usia 10 tahun dan pernah mengelola kegiatan sepak bola anak ketika libur sekolah.
Jalur menuju tim nasional terbuka ketika Annie Booth melihat Gemma Darvill mendukung ayahnya dalam sebuah turnamen di St George’s Park. Booth kemudian mengajaknya membantu membangun Parkinson’s Pioneers, komunitas walking football yang khusus diperuntukkan bagi perempuan dengan Parkinson.
Bersama Gemma Darvill, Parkinson’s Pioneers memulai sesi pertamanya pada 2023 dengan hanya tiga peserta, sebelum berkembang menjadi komunitas beranggotakan lebih dari 40 perempuan. Pertumbuhan itu menunjukkan kebutuhan besar terhadap ruang olahraga yang aman, memahami kondisi peserta, sekaligus tidak menghilangkan unsur kompetitif.
Bagi Gemma Darvill, angka tersebut memiliki arti lebih dalam daripada sekadar pertumbuhan anggota sebuah klub. Peserta datang dari Manchester, Devon, Milton Keynes, dan berbagai wilayah lain, sehingga Solihull dipilih sebagai titik latihan bulanan yang dianggap cukup adil secara geografis.
Bagi Gemma Darvill, komunitas itu juga berfungsi sebagai jaringan sosial karena para pemain biasanya tetap berkumpul setelah latihan untuk makan dan berbicara. Mereka membahas gejala, pengalaman sehari-hari, serta cara menghadapi kondisi masing-masing, membentuk dukungan yang sulit digantikan hanya dengan sesi olahraga.
Peran sosial tersebut penting karena Parkinson bukan kondisi yang seragam dan setiap orang dapat mengalami kombinasi gejala berbeda. Parkinson’s UK menyebutnya sebagai kondisi neurologis progresif akibat berkurangnya dopamin ketika sebagian sel saraf penghasil zat tersebut berhenti bekerja.
Data terbaru Parkinson’s UK memperkirakan sekitar 166.000 orang di Inggris Raya telah terdiagnosis Parkinson, dengan sekitar 139.000 berada di Inggris. Organisasi itu juga memperkirakan ribuan orang lain masih hidup dengan kondisi tersebut tanpa diagnosis atau dukungan memadai.
Gemma Darvill melihat walking football sebagai sarana yang dapat membuat peserta tetap bergerak tanpa meniru intensitas sepak bola konvensional. Permainan melarang berlari, tidak menggunakan aturan offside, tidak memperbolehkan sundulan dan lemparan ke dalam, serta dimainkan dengan kontak sangat terbatas.
Aturan tekel juga dibuat lebih aman karena pemain tidak boleh merebut bola dari samping atau belakang dan harus berhadapan langsung. Pendekatan ini menjadi penting bagi Gemma Darvill karena kemampuan berjalan, keseimbangan, dan respons motorik peserta dapat berbeda cukup jauh.
Tim juga didampingi fisioterapis yang memahami Parkinson untuk membantu pemanasan, pendinginan, serta menyesuaikan kebutuhan setiap pemain. Gemma Darvill pernah menggambarkan seorang peserta yang sulit berjalan lurus, tetapi mampu melangkah lebih teratur ketika mengikuti pola tangga latihan di depannya.
Olahraga Bukan Obat, tetapi Bisa Membantu Pasien Tetap Aktif
Fenomena seperti itu tidak berarti walking football dapat menyembuhkan Parkinson atau menghentikan penyakit secara pasti. Namun, pedoman latihan yang dirujuk Parkinson’s UK menempatkan aktivitas aerobik, kekuatan, keseimbangan, kelincahan, fleksibilitas, dan latihan multitugas sebagai bagian penting aktivitas fisik yang aman.
Sebuah uji klinis acak yang diterbitkan pada 2024 juga menemukan latihan keseimbangan dan jalan cepat membantu memperbaiki sejumlah gejala motorik, kapasitas berjalan, serta fungsi pada peserta Parkinson ringan hingga sedang. Bagi Gemma Darvill, temuan itu memperkuat alasan aktivitas terstruktur layak dipandang sebagai pendamping perawatan.
Gemma Darvill tetap menekankan bahwa manfaat yang terlihat di lapangan tidak hanya berasal dari gerak tubuh. Pemain harus membaca ruang, mengingat instruksi, menilai arah bola, berkomunikasi, dan membuat keputusan, sehingga latihan sekaligus menciptakan stimulasi mental serta interaksi sosial.
Perkembangan Parkinson’s Pioneers akhirnya membawa Gemma Darvill ke level nasional ketika Walking Football Association membuka pembentukan tim perempuan Parkinson Inggris. Proses seleksi dimulai melalui uji coba, lalu tim dibentuk dengan pemain berusia antara 36 hingga 66 tahun.
Skuad Inggris memainkan format enam lawan enam dan sejauh ini telah mengadakan sesi latihan di Watford, Droitwich, serta Bedford. Menurut Gemma Darvill, rentang usia yang lebar menegaskan bahwa tim dibangun berdasarkan kemampuan dan keamanan peserta, bukan mengikuti model sepak bola elite tradisional.
Momentum kelembagaan juga sedang menguat setelah Football Association dan Walking Football Association mengumumkan kemitraan baru pada 13 Agustus 2026. Dalam struktur itu, FA menjadi badan pengatur walking football di Inggris, sedangkan WFA berperan sebagai National Delivery Partner.
Bagi Gemma Darvill, kesepakatan tersebut disiapkan untuk menyatukan aturan permainan mulai 2027 sekaligus menyederhanakan proses afiliasi, sanksi kompetisi, serta registrasi pemain dan wasit. Survei awal 2026 yang dikutip WFA menunjukkan 98 persen responden mendukung kebutuhan aturan walking football yang seragam.
Bagi Gemma Darvill, konsolidasi FA dan WFA memberi peluang penting karena olahraga ini sebelumnya berkembang melalui banyak komunitas dengan kebutuhan berbeda. Standar yang lebih jelas dapat membantu memastikan kompetisi tetap aman, mudah dipahami, dan memiliki jalur pengembangan yang lebih terstruktur.
Gemma Darvill Bawa Inggris Menuju Toronto
Ujian besar berikutnya datang ketika Gemma Darvill membawa tim perempuan Inggris menyeberangi Atlantik menuju Toronto bersama tim laki-laki Parkinson. Rombongan dijadwalkan berangkat Sabtu, 12 September 2026, untuk kunjungan selama satu pekan yang menggabungkan pertandingan, kampanye kesadaran, dan penggalangan dana.
Di Kanada, tim perempuan direncanakan menghadapi dua kesebelasan walking football perempuan Amerika Serikat kategori usia di atas 40 dan 60 tahun yang bukan tim disabilitas. Mereka juga dijadwalkan melawan beberapa tim putra serta menjalankan sesi latihan dan kegiatan penggalangan dana Parkinson.
Perjalanan itu memiliki tantangan finansial karena kedua tim mengandalkan crowdfunding untuk membantu menutup biaya keberangkatan dan kegiatan. Menjelang perjalanan, halaman penggalangan dana pribadi Gemma Darvill telah melewati £400, sementara kampanye gabungan tim putra dan putri melampaui £17.000.
Tujuan tur tidak berhenti pada kemenangan pertandingan karena Gemma Darvill ingin memperluas pemahaman mengenai pilihan aktivitas bagi orang dengan Parkinson. Tim berencana menunjukkan metode latihan mereka, mengajak masyarakat mencoba, dan mendorong terbentuknya jaringan walking football yang lebih inklusif.
Nilai dari proyek ini semakin terlihat ketika ditempatkan dalam konteks layanan kesehatan yang masih menghadapi kesenjangan. Parkinson’s UK melaporkan lebih dari 20.000 orang diperkirakan menunggu diagnosis, sedangkan sebagian pasien juga mengalami keterbatasan akses terhadap perawat spesialis Parkinson.
Itulah sebabnya kisah Gemma Darvill menarik melampaui batas berita sepak bola, karena olahraga di sini bekerja sebagai pintu masuk menuju komunitas dan rasa percaya diri. Tim nasional menjadi simbol, tetapi pengaruh sehari-hari justru lahir dari sesi latihan reguler dan pertemanan antarpeserta.
Gemma Darvill tidak menawarkan sepak bola sebagai pengganti dokter, obat, fisioterapi, atau layanan neurologi. Yang ia bangun adalah ruang tambahan agar perempuan dengan Parkinson dapat tetap memiliki target, tim, percakapan, dan pengalaman kompetitif yang mungkin menghilang setelah diagnosis.
Keberhasilan Parkinson’s Pioneers dari tiga menjadi lebih dari 40 anggota juga menunjukkan bahwa kebutuhan semacam itu sebelumnya belum sepenuhnya terlayani. Parkinson’s UK bahkan menyebut komunitas tersebut sebagai satu-satunya tim walking football Parkinson khusus perempuan di Inggris dalam publikasi Maret 2026.
Pada akhirnya, perjalanan Gemma Darvill berangkat dari satu pertanyaan sederhana tentang bagaimana membantu ayahnya keluar rumah dan kembali menikmati kehidupan. Jawabannya berkembang menjadi tim nasional, tur internasional, dan model komunitas yang menunjukkan betapa besar dampak olahraga ketika dirancang dengan empati.
Toronto kini menjadi panggung berikutnya bagi Gemma Darvill dan para pemainnya untuk membawa pesan tersebut ke luar Inggris. Mereka mungkin berjalan, bukan berlari, tetapi cerita yang dibawa tim ini bergerak cepat: Parkinson mengubah kehidupan, namun tidak harus menghapus kebersamaan dan ambisi.


