Arsenal memasuki Liga Champions 2026/27 dengan status yang belum pernah mereka miliki sebelumnya: favorit utama versi superkomputer Opta. Dalam laporannya, 10.000 simulasi menempatkan tim Mikel Arteta sebagai juara dalam 20,9 persen skenario.
Angka itu menempatkan Arsenal sedikit di atas Bayern Munchen yang memperoleh peluang 19,4 persen, sedangkan Manchester City berada di posisi ketiga dengan 12,3 persen. PSG, juara dua musim beruntun, justru hanya berada di urutan kelima dengan peluang 7,1 persen.
Proyeksi tersebut membuat Liga Champions terasa menarik sejak awal karena reputasi tradisional tidak sepenuhnya menentukan urutan favorit. Real Madrid, pemilik 15 gelar Eropa, hanya diberi peluang 4,4 persen, bahkan berada di bawah Liverpool dengan 6,1 persen.
Model Opta menjalankan 10.000 simulasi untuk memproyeksikan perjalanan kompetisi sebelum pertandingan dimulai, sehingga persentase tersebut harus dipahami sebagai probabilitas. Angkanya bukan ramalan mutlak dan dapat berubah ketika performa, hasil pertandingan, serta kondisi setiap klub berkembang.
Prediksi Liga Champions ini juga mempunyai catatan penting karena superkomputer Opta tidak berhasil menebak sang juara pada musim lalu. Liverpool awalnya difavoritkan, tetapi perjalanan mereka dihentikan PSG yang akhirnya menjadi kampiun setelah mengalahkan Arsenal.
Mengapa Arsenal Jadi Favorit?
Arsenal mendapatkan posisi tersebut setelah tampil sangat kuat pada kompetisi musim sebelumnya dan mencapai partai puncak. Mereka bahkan memimpin fase liga dengan memenangkan seluruh delapan pertandingan, sebuah pencapaian yang ikut memperkuat penilaian terhadap kekuatan tim Mikel Arteta.
Opta menilai Arsenal sekarang merupakan tim terkuat di dunia berdasarkan Power Rankings mereka, faktor penting yang membuat peluang juaranya sedikit melampaui Bayern Munchen. Namun, Liga Champions menghadirkan jadwal fase liga yang lebih sulit bagi klub London tersebut.
Arsenal memperoleh kemungkinan 93,8 persen untuk setidaknya mencapai fase gugur, memperlihatkan betapa tingginya kepercayaan model terhadap konsistensi mereka. Peluang kembali menjadi pemuncak fase liga berada pada 18,8 persen, sementara Bayern mendapatkan angka sedikit lebih tinggi.
Bayern menjadi rival terbesar Arsenal dalam perhitungan juara Liga Champions dengan probabilitas 19,4 persen. Klub Jerman tersebut juga paling sering menyelesaikan fase liga di posisi pertama dalam simulasi Opta, salah satunya karena memiliki keuntungan menghadapi Arsenal di kandang.
Manchester City berada satu tingkat di bawah kedua klub tersebut dengan peluang juara 12,3 persen, sekaligus menjadi satu-satunya tim lain yang melewati angka 10 persen. Meski demikian, City dinilai menghadapi salah satu kumpulan lawan fase liga paling berat.
Opta masih memberikan peluang 86,9 persen kepada Manchester City untuk mencapai babak 16 besar Liga Champions. Angka tersebut tetap tinggi, meskipun performa jauh lebih baik diperlukan untuk mengembalikan mereka menjadi kekuatan dominan seperti ketika menjuarai kompetisi pada 2022/23.
PSG, Barcelona hingga Real Madrid di Bawah Arsenal
Barcelona berada dalam kelompok penantang berikutnya setelah memenangkan 8,2 persen dari keseluruhan simulasi. Klub Catalan terakhir kali menjuarai Liga Champions pada 2015, sehingga musim 2026/27 kembali menawarkan kesempatan mengakhiri penantian panjang tersebut.
Lebih mengejutkan adalah posisi PSG karena sang juara dua musim beruntun hanya memperoleh kemungkinan 7,1 persen untuk mempertahankan gelarnya. Opta bahkan menurunkan mereka menjadi favorit kelima setelah awal buruk di Ligue 1, termasuk kekalahan 1-2 dari Monaco.
Apabila PSG kembali menjadi kampiun, mereka akan mencetak tiga gelar Liga Champions secara beruntun, prestasi yang sangat langka di sepak bola modern. Real Madrid menjadi satu-satunya klub yang pernah melakukannya sejak kompetisi menggunakan format dan nama Liga Champions.
Liverpool mempunyai probabilitas 6,1 persen dan secara mengejutkan ditempatkan lebih tinggi daripada Real Madrid untuk menjadi juara. Opta juga memberikan klub Inggris tersebut peluang 13,3 persen mencapai final, didukung pengalaman besar mereka dalam pertandingan Eropa.
Real Madrid justru hanya memperoleh peluang 4,4 persen, angka yang terasa sangat rendah untuk klub tersukses dalam sejarah Liga Champions. Mereka telah mengoleksi rekor 15 gelar apabila era European Cup ikut dimasukkan dalam perhitungan.
Angka rendah tersebut merefleksikan periode dua musim terakhir ketika Madrid belum memenangkan trofi mayor dan selalu gagal melewati perempat final kompetisi Eropa. Meski demikian, sejarah menunjukkan bahwa kekuatan Real Madrid sering kali melampaui prediksi statistik.
Manchester United kembali ke Liga Champions setelah absen selama dua musim dan ditempatkan sebagai outsider dengan probabilitas juara 3,8 persen. Meski kecil, peluang mereka menembus perempat final mencapai 37,6 persen, sedangkan kemungkinan mencapai semifinal berada pada 18,4 persen.
Inter Milan memperoleh kemungkinan juara 3,7 persen meskipun berhasil mencapai dua final dalam empat musim terakhir. Opta memberikan peluang 8,7 persen kepada klub Italia tersebut untuk kembali mencapai pertandingan final, menunjukkan mereka tetap menjadi ancaman meski bukan favorit.
Aston Villa berada di urutan kesepuluh dalam daftar favorit dengan peluang hanya 2,0 persen, setelah menjalani perombakan besar pada musim panas. Start domestik yang kurang meyakinkan turut menjadi faktor yang membuat perjalanan mereka di Liga Champions diprediksi tidak mudah.
Borussia Dortmund mendapat peluang 1,8 persen, disusul Sporting CP dengan 1,4 persen, Roma 1,3 persen, dan Como 1,2 persen. Sebanyak 22 peserta lainnya bahkan menjadi juara dalam kurang dari satu persen keseluruhan simulasi yang dijalankan Opta.
Shakhtar Donetsk dan Slovan Bratislava bahkan tidak sekali pun menjadi juara dari 10.000 simulasi tersebut. Sabah yang menjalani debut Liga Champions justru memenangkan dua simulasi, sedangkan Feyenoord mencatat 0,04 persen, AEK Athens 0,05 persen, dan LASK 0,07 persen.
Format Liga Champions Membuat Prediksi Bisa Berubah
Liga Champions 2026/27 kembali menggunakan format fase liga dengan 36 peserta yang masing-masing memainkan delapan pertandingan menghadapi delapan lawan berbeda. Delapan klub terbaik memperoleh tiket langsung menuju 16 besar setelah seluruh pertandingan fase liga selesai dimainkan.
Tim yang menyelesaikan fase liga pada posisi sembilan hingga 24 harus melewati babak play-off untuk memperebutkan delapan tempat tersisa di babak 16 besar. Setelah itu, kompetisi menggunakan format gugur dua leg sampai tersisa dua tim untuk memainkan final.
Final Liga Champions 2026/27 dijadwalkan berlangsung di Estadio Metropolitano, Madrid, pada 5 Juni 2027. Format panjang tersebut membuat jalur menuju final sangat dipengaruhi posisi fase liga, pasangan play-off, undian fase gugur, serta kondisi pemain sepanjang musim.
Opta sendiri sudah memberikan contoh bahwa simulasi bukan jaminan ketika Liverpool gagal memenuhi status favorit pada musim lalu. Namun PSG yang ketika itu hanya berada di urutan ketiga favorit akhirnya menjadi juara, sementara Arsenal yang menempati posisi kedua mencapai final.
Karena itu, status Arsenal sebagai favorit Liga Champions 2026/27 lebih tepat dipahami sebagai ukuran kekuatan mereka saat kompetisi dimulai. Selisih tipis dengan Bayern menunjukkan tidak ada dominasi probabilitas sebesar yang mungkin terlihat dari label “favorit utama”.
Satu hal yang berubah secara signifikan adalah posisi Arsenal dalam hierarki sepak bola Eropa karena mereka kini bukan lagi sekadar kuda hitam. Setelah nyaris menjadi juara musim lalu, tim Arteta memasuki Liga Champions kali ini dengan ekspektasi bahwa mencapai final saja mungkin tidak lagi cukup.
Bayern, Manchester City, Barcelona, PSG, Liverpool dan Real Madrid tetap memiliki kualitas yang membuat prediksi dapat berubah dalam beberapa pertandingan. Satu cedera pemain kunci atau undian fase gugur yang berat sudah cukup mengubah probabilitas Liga Champions secara signifikan.
Namun untuk sementara, data berbicara jelas: Arsenal adalah tim yang paling sering menjadi juara dalam 10.000 simulasi Opta. Liga Champions 2026/27 kini menjadi ujian apakah kekuatan statistik tersebut dapat diterjemahkan Mikel Arteta menjadi trofi Eropa pertama dalam sejarah klub.


