Close Menu
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Togel Hari ini
    • Keluaran Lengkap (Racik)
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Togel Hari ini
    • Keluaran Lengkap (Racik)
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
Home - Olahraga - Manchester City Terancam Sanksi Berat, Apakah Gelar Liga Champions 2023 Bisa Dicabut UEFA?

Manchester City Terancam Sanksi Berat, Apakah Gelar Liga Champions 2023 Bisa Dicabut UEFA?

  • Oktober 15, 2026

Manchester City menghadapi salah satu krisis terbesar dalam sejarah klub setelah komisi independen Liga Inggris menyatakan mereka bersalah atas sebagian besar pelanggaran aturan finansial. Putusan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai nasib gelar Liga Champions 2023 yang dimenangkan pasukan Pep Guardiola.

Klub berjuluk The Citizens itu dinyatakan melakukan pelanggaran serius selama sembilan musim, mulai 2009/10 hingga 2017/18, termasuk persoalan kontrak komersial dan pelaporan keuangan. Manchester City menolak temuan tersebut dan telah mengajukan banding, sementara bentuk hukuman yang mungkin dijatuhkan belum diumumkan.

Kontroversi ini berkembang karena Manchester City bukan hanya menghadapi potensi pengurangan poin, denda, atau degradasi dari Liga Inggris, tetapi juga kemungkinan pencabutan gelar domestik. Namun, status trofi Liga Champions memiliki persoalan hukum berbeda karena kompetisi tersebut berada di bawah kewenangan UEFA, bukan Premier League.

Dilansir CBS Sports, belum terdapat indikasi UEFA akan mencabut gelar Liga Champions yang dimenangkan Manchester City pada 2023. Otoritas sepak bola Eropa masih memantau perkembangan kasus sebelum mempertimbangkan apakah diperlukan proses disipliner tersendiri.

Situasi tersebut menjadi perhatian menjelang pertandingan Manchester City melawan Paris Saint-Germain pada pertandingan kedua fase liga Liga Champions 2026/27 di Stadion Etihad. Pertemuan kedua klub memiliki latar menarik karena keduanya pernah menghadapi persoalan kepatuhan terhadap regulasi finansial UEFA dalam periode berbeda.

Kasus Manchester City dan Ancaman terhadap Gelar Liga Champions 2023

Komisi independen Liga Inggris mengumumkan putusannya pada 29 September 2026 setelah menyelesaikan pemeriksaan panjang mengenai laporan keuangan Manchester City selama hampir satu dekade. Komisi menemukan pelanggaran serius terkait pencatatan pendapatan, kesepakatan komersial, kepatuhan terhadap batas pengeluaran, serta kerja sama selama penyelidikan.

Salah satu temuan utama menyangkut kontrak komersial yang dinilai tidak mencerminkan kondisi kesepakatan sebenarnya sehingga berpengaruh terhadap besaran pendapatan yang dilaporkan klub. Komisi juga menilai Manchester City menyampaikan laporan keuangan yang tidak akurat dan menyembunyikan keadaan finansial sebenarnya dari auditor maupun regulator.

Perkara tersebut dikenal luas sebagai kasus 115 dakwaan Manchester City, meskipun struktur hukum dalam putusan komisi tidak sesederhana penghitungan dakwaan satu per satu. Sejumlah laporan menyebut 114 dari 115 dakwaan dinyatakan terbukti, termasuk pelanggaran kewajiban memberikan informasi keuangan dan bekerja sama dengan penyelidikan.

Manchester City secara resmi membantah kesalahan tersebut dan menganggap keputusan komisi memiliki kekeliruan material dalam penerapan hukum maupun penilaian fakta. Klub mengajukan banding pada 1 Oktober 2026, sehingga proses hukum masih berlangsung dan keputusan mengenai sanksi belum mencapai tahap akhir.

Perbedaan antara temuan pelanggaran dan penetapan hukuman menjadi penting karena keduanya merupakan tahap yang tidak selalu diselesaikan secara bersamaan dalam proses disipliner. Sampai pertengahan Oktober 2026, belum ada keputusan final yang memerintahkan Manchester City kehilangan gelar atau meninggalkan kompetisi tertinggi Inggris.

Jika hasil putusan tetap dipertahankan setelah banding, Manchester City berpotensi menghadapi hukuman yang memengaruhi kedudukan mereka dalam sejarah kompetisi domestik. Namun, pengurangan poin, degradasi, pencabutan gelar, dan denda merupakan kemungkinan yang belum dapat dipastikan tanpa keputusan resmi mengenai sanksi.

Persoalan menjadi lebih rumit ketika pembahasan beralih kepada gelar Liga Champions 2023 karena Premier League tidak mempunyai kewenangan langsung mengubah hasil kompetisi UEFA. Untuk menjatuhkan hukuman terkait turnamen Eropa, UEFA harus memiliki dasar hukum dan mengambil keputusan melalui mekanisme disiplinernya sendiri.

Manchester City meraih gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub pada 10 Juni 2023 setelah mengalahkan Inter Milan 1-0 di Istanbul. Gol Rodri memastikan kemenangan tersebut sekaligus melengkapi treble bersama gelar Liga Inggris dan Piala FA di bawah kepemimpinan Pep Guardiola.

Keberhasilan itu terjadi beberapa tahun setelah periode pelanggaran 2009-2018 yang menjadi fokus utama pemeriksaan komisi Liga Inggris, sehingga ada perbedaan waktu yang signifikan. Kondisi tersebut menambah kompleksitas apabila muncul tuntutan untuk menghubungkan kesalahan administratif pada masa lalu dengan gelar Eropa yang diperoleh kemudian.

Meskipun putusan Premier League menyangkut persoalan kepatuhan terhadap aturan UEFA, hal tersebut tidak otomatis membuat trofi Liga Champions 2023 dapat dicabut. UEFA tetap perlu menilai yurisdiksi, batas waktu penindakan, bukti yang tersedia, dan hubungan pelanggaran dengan kompetisi yang berada di bawah kewenangannya.

Mengapa UEFA Belum Mengancam Trofi Manchester City?

UEFA disebut masih mengikuti perkembangan proses hukum yang dijalankan Liga Inggris, tetapi belum membuka perkara baru setelah komisi independen mengumumkan temuannya. Artinya, belum ada landasan untuk menyatakan bahwa gelar Liga Champions 2023 sedang menjalani proses pencabutan oleh otoritas sepak bola Eropa.

Menurut laporan Sky Sports yang dikutip CBS Sports, UEFA memilih menunggu hasil proses disipliner Premier League sebelum mempertimbangkan tindakan tambahan terhadap Manchester City. Pendekatan tersebut memungkinkan regulator Eropa menilai bukti dan putusan akhir tanpa mendahului tahapan banding yang sedang berlangsung.

Kasus Manchester City juga memiliki sejarah panjang dengan UEFA karena klub pernah menerima sanksi terkait Financial Fair Play pada 2014. Ketika itu, City menyepakati penyelesaian yang mencakup denda sebesar 60 juta euro, dengan sebagian dana dapat dikembalikan apabila persyaratan tertentu dipenuhi.

Permasalahan kembali muncul pada 2020 ketika badan pengawas keuangan klub UEFA menjatuhkan larangan mengikuti kompetisi Eropa selama dua musim kepada Manchester City. UEFA juga memberikan denda sebesar 30 juta euro setelah menyimpulkan terdapat pelanggaran terkait laporan pendapatan sponsor dan kerja sama dalam penyelidikan.

Manchester City kemudian membawa perkara tersebut ke Pengadilan Arbitrase Olahraga atau Court of Arbitration for Sport (CAS) yang berkedudukan di Swiss. Hasilnya, CAS membatalkan larangan dua musim karena sebagian tuduhan tidak terbukti dan sebagian lainnya telah melewati batas waktu penindakan.

Namun, CAS tetap menjatuhkan denda 10 juta euro kepada Manchester City karena menilai klub tidak memberikan kerja sama yang memadai selama pemeriksaan UEFA. Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa pembatalan hukuman utama tidak selalu berarti seluruh aspek perilaku klub dinyatakan sesuai dengan ketentuan.

Perbedaan aturan menjadi salah satu alasan mengapa proses Liga Inggris dan UEFA dapat menghasilkan konsekuensi berbeda meskipun pemeriksaannya berkaitan dengan laporan keuangan. UEFA memiliki ketentuan batas waktu tertentu untuk memproses pelanggaran finansial historis, sedangkan penyelidikan Premier League tidak menggunakan batas serupa.

Dalam kasus 2020, aturan UEFA menetapkan batas waktu lima tahun untuk jenis pelanggaran yang diperiksa sehingga sejumlah tuduhan tidak dapat diproses lebih lanjut. Faktor tersebut perlu diperhitungkan kembali apabila UEFA memutuskan membuka penyelidikan baru berdasarkan perkembangan kasus Manchester City pada 2026.

Namun, pembatasan waktu juga tidak dapat ditafsirkan sebagai jaminan mutlak bahwa klub terbebas dari semua kemungkinan hukuman dalam kompetisi Eropa. Setiap langkah disipliner tetap bergantung pada jenis pelanggaran, aturan yang berlaku, serta bukti dan periode yang menjadi dasar pemeriksaan.

Dengan demikian, gelar Liga Champions 2023 masih tercatat sebagai milik Manchester City dan tidak terdapat keputusan resmi yang mengubah status kemenangan mereka atas Inter Milan. Pembahasan pencabutan trofi untuk sementara lebih tepat ditempatkan sebagai kemungkinan hukum yang belum didukung tindakan konkret UEFA.

Sanksi Liga Inggris Belum Tentu Menghalangi Manchester City Bermain di Eropa

Salah satu kemungkinan yang paling banyak dibicarakan adalah Manchester City tetap berlaga di Liga Champions meskipun nantinya mendapat hukuman degradasi dari Premier League. Skenario tersebut terdengar tidak biasa, tetapi memungkinkan secara regulasi apabila klub memenuhi persyaratan lisensi dan kualifikasi kompetisi UEFA.

Lisensi UEFA umumnya diberikan melalui asosiasi sepak bola nasional berdasarkan persyaratan administrasi, keuangan, infrastruktur, serta berbagai kewajiban lain yang harus dipenuhi klub. Hukuman domestik atas pelanggaran historis tidak selalu membuat izin tersebut gugur secara otomatis tanpa dasar keputusan tambahan yang mengikat.

Namun, kemungkinan Manchester City bermain di kompetisi Eropa dari divisi lebih rendah tetap bergantung pada bentuk hukuman dan jalur kualifikasi yang tersedia. Klub juga harus memenuhi persyaratan lisensi terbaru, sehingga skenario tersebut belum dapat dianggap sebagai kepastian mengenai masa depan mereka.

Perkara yang kini ditangani Premier League juga tidak dapat langsung dibawa Manchester City ke CAS karena penyelesaian sengketa kompetisi domestik Inggris menggunakan mekanisme hukum tersendiri. Berbeda dengan sengketa melawan UEFA pada 2020, banding atas putusan komisi Premier League diproses melalui jalur yang telah disepakati peserta kompetisi.

Pembedaan tersebut penting karena sejumlah pihak menganggap keberhasilan Manchester City membatalkan sanksi UEFA pada 2020 bisa kembali menjadi jalan keluar dalam perkara terbaru. Padahal, kedua kasus memiliki dasar regulasi, badan pemeriksa, dan mekanisme banding berbeda sehingga hasil sebelumnya tidak menjamin keberhasilan berikutnya.

Manchester City kini menghadapi persoalan yang lebih luas karena hasil banding berpotensi memengaruhi reputasi klub, stabilitas finansial, dan perencanaan kompetisi pada musim mendatang. Apabila hukuman berat dijatuhkan, dampaknya dapat menjangkau pemasukan komersial, kontrak pemain, hingga kemampuan klub mempertahankan posisinya di papan atas.

Ketidakpastian tersebut muncul ketika Manchester City tengah menjalani musim pertama setelah Pep Guardiola meninggalkan kursi pelatih pada musim panas 2026. Enzo Maresca yang menggantikannya harus menjaga konsentrasi pemain di tengah meningkatnya perhatian terhadap perkara finansial yang membayangi klub.

Namun, tekanan di luar lapangan belum terlihat mengganggu hasil pertandingan karena Manchester City justru membuka Liga Inggris 2026/27 dengan enam kemenangan beruntun. Mereka bahkan mengalahkan Liverpool 3-0 di Anfield pada Minggu (11/10/2026), beberapa hari setelah putusan komisi independen menjadi perhatian publik.

Kemenangan tersebut mempunyai makna penting bagi Maresca karena timnya menghadapi atmosfer pertandingan yang diwarnai ejekan pendukung tuan rumah mengenai kemungkinan degradasi. Erling Haaland, Jeremy Doku, dan Rayan Cherki mencetak gol yang memastikan Manchester City tetap berada di puncak klasemen sementara.

Guardiola juga menyampaikan dukungan terbuka kepada mantan klubnya melalui media sosial setelah keputusan komisi independen menimbulkan perdebatan mengenai masa depan The Citizens. Ia menegaskan tetap berada di belakang pemilik, manajemen, pemain, staf pelatih, dan seluruh pendukung Manchester City dalam menghadapi situasi tersebut.

Kasus PSG dan Persoalan Financial Fair Play di Eropa

Pertandingan Manchester City melawan Paris Saint-Germain menghadirkan perbandingan menarik karena kedua klub pernah mendapat sorotan mengenai sumber pendapatan dan struktur pembiayaan mereka. Persoalan tersebut berkaitan dengan upaya UEFA mengawasi keseimbangan keuangan klub agar pengeluaran tidak bergantung pada sumber pendanaan yang sulit dipertanggungjawabkan.

Kontroversi kedua klub semakin dikenal setelah dokumen Football Leaks dipublikasikan media Jerman Der Spiegel pada 2018 dan menyoroti berbagai perjanjian sponsor. Laporan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai hubungan antara pemilik klub dengan perusahaan atau lembaga yang menjadi mitra komersial.

PSG pernah mendapat perhatian khusus atas kesepakatan dengan Qatar Tourism Authority yang dilaporkan bernilai 1,075 miliar euro untuk periode lima tahun. Nilai kontrak tersebut memunculkan perdebatan mengenai kewajaran pendapatan sponsor apabila terdapat hubungan ekonomi atau kepemilikan dengan pihak pendukung klub.

Pada 2022, PSG juga mencapai penyelesaian dengan UEFA terkait ketidakpatuhan terhadap aturan finansial dan menerima kewajiban pembayaran sebesar 10 juta euro. Kesepakatan tersebut mencakup tambahan hukuman finansial yang ditangguhkan dengan syarat tertentu, sehingga tidak seluruh nilai potensial langsung dibayarkan.

Persoalan Financial Fair Play memperlihatkan tantangan regulator ketika harus menilai batas antara investasi yang sah dan pendanaan yang berpotensi memengaruhi persaingan secara tidak seimbang. Klub dengan sumber daya besar mempunyai kemampuan memperkuat skuad secara cepat, tetapi tetap wajib memenuhi ketentuan pelaporan dan pengeluaran.

Kedua klub juga memiliki struktur kepemilikan yang berkaitan dengan kekuatan ekonomi kawasan Teluk, sehingga perdebatan mengenai transparansi keuangan kerap mendapat perhatian politik. Namun, kesamaan latar investasi tidak berarti kedua klub melakukan pelanggaran identik atau harus menerima hukuman yang sama.

Dalam konteks Manchester City, keputusan komisi Premier League menjadi perkembangan besar karena pemeriksaan berlangsung setelah penyelidikan selama bertahun-tahun terhadap laporan keuangan historis klub. Sementara itu, perkara PSG mempunyai riwayat penyelesaian berbeda, sehingga perbandingan hanya relevan untuk memahami tantangan pengawasan keuangan sepak bola Eropa.

Nasib Gelar Liga Champions 2023 Masih Aman, tetapi Proses Hukum Berlanjut

Pertanyaan mengenai kemungkinan pencabutan gelar Liga Champions Manchester City pada akhirnya harus dibedakan dari ancaman sanksi yang sedang diproses Premier League. UEFA belum mengambil keputusan disipliner baru yang secara khusus mempersoalkan kemenangan Manchester City atas Inter Milan pada final 2023.

Bahkan apabila banding Manchester City gagal, hasil tersebut tidak langsung memberikan kewenangan kepada Premier League untuk membatalkan pencapaian klub dalam kompetisi UEFA. Otoritas Eropa harus menilai sendiri apakah terdapat dasar hukum untuk membuka perkara dan menjatuhkan hukuman terhadap klub Inggris tersebut.

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah jarak waktu antara periode pelanggaran yang diperiksa dengan musim ketika Manchester City memenangkan Liga Champions. Perbedaan waktu tersebut membuat setiap kemungkinan pencabutan gelar memerlukan argumentasi hukum yang jauh lebih spesifik daripada sekadar adanya temuan pelanggaran finansial.

Meski demikian, proses banding Manchester City tetap penting karena keputusan akhirnya dapat menentukan bentuk tanggung jawab klub atas perkara keuangan yang telah berlangsung lama. Hukuman domestik juga berpotensi mempengaruhi reputasi berbagai keberhasilan klub selama periode yang menjadi objek pemeriksaan.

Kepala regulator sepak bola independen Inggris, David Kogan, memperkirakan hasil proses banding berpotensi diketahui pada awal 2027, meskipun jadwal tersebut belum menjadi kepastian. Sampai keputusan final diumumkan, Manchester City tetap menjalankan aktivitas kompetisi sembari mempertahankan bantahan atas pelanggaran yang dinyatakan terbukti oleh komisi.

Bagi pendukung Manchester City, trofi Liga Champions 2023 tetap menjadi puncak pencapaian sejarah setelah klub berhasil menjuarai Eropa untuk pertama kalinya. Namun, kelanjutan perkara finansial menunjukkan bahwa kesuksesan olahraga dan kepatuhan regulasi merupakan dua persoalan berbeda yang sama-sama menentukan kredibilitas sebuah klub.

Gelar Liga Champions Manchester City 2023 belum berada dalam proses pencabutan, tetapi persoalan hukum klub masih jauh dari penyelesaian akhir. Keputusan banding dan kemungkinan langkah UEFA berikutnya akan menentukan apakah kontroversi finansial tersebut hanya menghasilkan sanksi domestik atau berkembang menjadi perkara yang lebih luas.

Manchester City Terancam Sanksi Berat, Apakah Gelar Liga Champions 2023 Bisa Dicabut UEFA?

15 Okt 2026

Gol Cepat Chelsea Jadi Senjata Xabi Alonso, tetapi Ada Masalah Besar di Balik Rekor Mengejutkan

15 Okt 2026

Treble Inter Milan 2010, Kisah Jose Mourinho Menaklukkan Guardiola dan Van Gaal hingga Menguasai Eropa

15 Okt 2026
X (Twitter)
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.